Until I Find The Cure – Part 1

Berjalan sendirian di koridor kosong tanpa alat bantu dan pelayan memberikan rasa yang luar biasa sakit dari badanku. Bayangkan saya, aku yang sedari dulu sudah menderita penyakit langka ini ketika melangkah keluar dari kamar saja rasanya badanku mulai terhuyung lemas. Kondisi fisikku yang tidak memungkinkan seharusnya membuatku tidak dapat bergerak leluasa, namun karena tidak setiap saat pelayan dapat membantu melakukan pekerjaan rumah untukku, maka mau tak mau aku harus mencoba untuk melakukannya sendiri.

Aku terlahir di kerajaan termasyur seluruh negeri, namun karena gen aku mengikuti gen ibuku yang berasal dari kalangan jelata sehingga menjadikan aku terlahir lemah. Tak bisa kupungkiri bahwa aku lahir dengan kondisi seperti ini. Ayahku yang merupakan raja kerajaan juga tidak bisa berbuat banyak atas kondisi fisikku. Beliau sudah mencoba banyak cara untuk menyembuhkanku, termasuk menyuruh penasihatnya untuk mencarikan obat penawar.

Continue reading “Until I Find The Cure – Part 1”

Advertisements
Nyoba Makan di Fukuzushi Bahureksa

Nyoba Makan di Fukuzushi Bahureksa

Belum cukup hedon di DNA Fest 2016 kemarin, masih ada aja godaan yang harus saya lalui hari ini. Yaitu makan hedon bersama kakak kandung saya yang juga sudah lama menetap di Bandung sejak awal masuk kuliah di ITB tahun 2011 silam.

Karena saya masih kuper sama kota Bandung, jujur aja… saya nggak punya kendaraan sendiri untuk bisa menjelajah spot-spot bagus di kota. Hapal jalan aja gampang gampang susah. Begitu udah lewat sekali, eh pas udah lama nggak pernah pergi lupa lagi. Makanya saya agak susah kalau ditanya sama kakak soal mau pergi jalan-jalan ke mana atau mau makan di mana.

Continue reading “Nyoba Makan di Fukuzushi Bahureksa”

Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016

Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016

Sekian banyaknya acara yang mengutamakan konten indie lokal membuat saya jadi maniak acara-acara tersebut setelah 8 bulan menetap di Bandung. Setelah Bandung Japan Festival 2, kekhilafan saya terus berlanjut di acara DNA Fest 2016 ini.

DNA Fest merupakan acara yang diadakan oleh DNA, sebuah komunitas desain dan gambar dari UKM kesenian Jepang, Nippon Bunka-Bu. Setelah melalui penelurusan yang panjang, acara ini sudah dibeberkan sejak 2015 silam, namun baru terealisasikan kemarin. Tidak ada tema khusus di acara, hanya saja acara ini mengkhususkan konten desain, gambar, dan produk indie dari komunitas-komunitas maupun circle desain/gambar.

12821387_1028578133869885_8407220843133980647_n

Continue reading “Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016”

MangaRev #1: Mill

MangaRev #1: Mill

Sebagai langkah awal, di post ini saya mulai mengulas manga dan memberi judul MangaRev yang merupakan kependekan dari Manga Review. Supaya keren saya singkat saja jadi MangaRev haha.

Karena selama ini saya belum ada review manga di blog ini (ada sih satu di Facebook, tapi memang belum ada sama sekali di blog), oleh karena itu saya kepengen buat juga di blog.

Untuk ulasan manga pertama, saya akan mengulas manga bernama Mill. Kelihatannya namanya kebarat-baratan, namun ini yang jadi appealing point untuk saya baca.

Continue reading “MangaRev #1: Mill”

Funkot dan Prasangka Sosial Negatif di Indonesia

Setiap kali saya bepergian, entah itu ke mana saja, di kala saya membuka handphone saya, saya membuka aplikasi Soundcloud dan mencari lagu-lagu yang tampaknya terasa eksotis dan gaul di negeri Matahari Terbit tetapi cukup miris jika didengar di Indonesia. Dalam boks pencarian, yang ingin saya ketik ada lagu yang mengandung kata kunci ‘funkot’.

Ketika saya mendengarkannya dengan monitor headphone yang saya dapatkan dari Game Music Talk beberapa minggu lalu, di mana monitor headphone tersebut suaranya jebol sampai ketika saya mendengarkan dengan volume maksimal orang-orang bisa mendengarnya dari luar cup headphone saya ini. Lain cerita kalau saya mendengarkannya dengan in-ear monitor berbentuk earphone, akan tetapi earphone saya tinggal di rumah saudara saya sewaktu pulang kampung saat liburan UAS semester lalu.

Continue reading “Funkot dan Prasangka Sosial Negatif di Indonesia”