Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016

Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016

Sekian banyaknya acara yang mengutamakan konten indie lokal membuat saya jadi maniak acara-acara tersebut setelah 8 bulan menetap di Bandung. Setelah Bandung Japan Festival 2, kekhilafan saya terus berlanjut di acara DNA Fest 2016 ini.

DNA Fest merupakan acara yang diadakan oleh DNA, sebuah komunitas desain dan gambar dari UKM kesenian Jepang, Nippon Bunka-Bu. Setelah melalui penelurusan yang panjang, acara ini sudah dibeberkan sejak 2015 silam, namun baru terealisasikan kemarin. Tidak ada tema khusus di acara, hanya saja acara ini mengkhususkan konten desain, gambar, dan produk indie dari komunitas-komunitas maupun circle desain/gambar.

12821387_1028578133869885_8407220843133980647_n

Ada dua sesi acara, yaitu bazaar dan galeri gambar yang diadakan di Gedung Serbaguna Fakultas Teknik Telkom University, dan lokakarya (workshop) tentang komik yang diadakan di Gedung K, tak jauh lokasinya dari Gedung Serbaguna.

Acara bazaar dan galeri gambar mulai buka pukul 8 pagi, sementara lokakarya ada dua sesi dengan topik dan pembicara yang sama: sesi pertama pukul 9.30-12.00 dan sesi kedua pukul 15.00-17.30. Topik lokakaryanya adalah Implementasi Budaya pada Komik oleh mbak Azisa Noor (yay~) dan nanti akan saya bahas lebih lanjut mengenai lokakaryanya di bawah.


 

Saya tiba di sana sekitaran pukul 9 pagi. Seharusnya saya bisa berangkat lebih bagi, tetapi karena saya baru bangun sekitaran pukul 8 kurang beberapa menit dan perut saya memaksa untuk diberi asupan gizi, maka kedatangan saya ke acara ngaret dari jadwal sekaligus tidak memburu-burukan diri karena keterbatasan tempat duduk, sementara saya di sana bakal berlama-lama thawaf di banyak booth komunitas/circle.

Seperti biasanya, saya tidak mengalami hambatan ketika berjalan dari asrama menuju gedung serbaguna. Sebelum menuju lokasi, saya sempat ‘mengisi amunisi’ terlebih dahulu di ATM.

Melangkah dari ATM menuju gedung serbaguna, saya tak melihat ada penunjuk jalan untuk sampai ke lokasi. Tidak ada kecuali spanduk besar yang ada di dekat Masjid Syamsul Ulum, dan itu hanya sebagai pemberi informasi mengenai acara saja, tidak ada penunjuk arah. Setidaknya diberi spanduk berdiri atau bagaimana, begitu.


 

Sebelum pintu masuk, ada stage kecil untuk berfoto dengan latar belakang DNA Fest. Boleh dirasa jika tidak mau melewatkan kenangan sudah mengikuti acara, tapi karena saya datang sendirian (dan kebetulan tidak ingin difotokan oleh orang) maka bagian tersebut saya lewatkan begitu saja.

IMG_20160305_130139

Begitu saya sudah di pintu masuk, saya diberi cap stempel pengunjung untuk menunjukkan tanda bahwa saya sudah ‘lolos’ menjadi pengunjung. Memang sih free entry, tapi penggunaan stempel cap untuk memastikan saja kali ya?

Setelah diberi cap stempel di punggung telapak tangan saya, saya diberi satu stempel halaman untuk hak memilih gambar terbaik yang ada di galeri gambar yang sudah jauh-jauh hari dibuka oleh panitia. Saya lihat-lihat satu per satu. Secara objektif dan subjektif, beberapa ada yang saya rasa berpotensi untuk menang, di saat yang lain saya rasa jauh dari harapan untuk menang. Mungkin saya punya intuisi yang kuat untuk menentukan mana yang bakalan menang dan mana yang tidak, namun setelah beberapa lama saya lihat, ternyata yang saya dukung karyanya mendapatkan respons yang bagus juga.


 

Usai memberikan hak memilih, mulailah saya mengelilingi booth. Booth pertama yang saya kunjungi adalah booth Nusaimoe, sebuah inisiasi dari teman-teman komunitas saya yang memiliki konsep menampung semua maskot orisinal dari komunitas dan circle kemudian mengadakan pemilihan maskot ter-moe dari semua maskot yang ada. Di acara kali ini, mereka memberikan kesan yang cukup menarik nan aneh, dengan penjaga boothnya memakai topeng KKK yang berlagak ala algojo maskot-maskot yang mereka tampung. Haha.

IMG_20160305_100732

Setelah ngobrol ngalor ngidul sebentar dengan Rezqy dkk, saya ke booth sebelah kirinya, Archfriend. Saya cuma beli dua artwork berukuran postcard saja. Bertanya soal komik kompilasi terbaru, kebetulan saat ini mereka belum ada stok baru untuk komik kompilasi mereka. Dengar-dengar kabar sih mereka akan meluncurkan kompilasi jilid duanya di Popcon Asia 2016 mendatang, sekitaran awal Agustus 2016 nanti. Semoga saja saya bisa datang ke sana.

Selanjutnya saya meneruskan thawaf saya ke booth Handband Studio dan Keliling yang ada di sebelah kanan booth Nusaimoe. Kebetulan saya lihat mereka menawarkan barang-barang kreasi mereka yang bagus-bagus, hanya saja yang menurut saya menarik sudah saya beli sebelumnya di Bandung Japan Festival 2 sehingga saya tidak ada kepikiran lagi untuk membeli. Mungkin kalau ada produk terbaru yang ditawarkan sih masih mau saya beli. Di akhir acara, malah saya dibacotin sama duo mbak-mbak penjaga booth Handband Studio yang senantiasa tidak henti-hentinya menawarkan saya produk circle mereka. Entah karena mereka lagi sepi pembeli apa gimana, sampai saya dipaksa membeli poster waifu yang bisa ditulis ‘Assalamualaikum’. orz

Lanjut ke booth berikutnya, kali ini booth yang saya datangi adalah booth Kroma. Karya mas Mukhlis Nur dkk bikin 3/5 dari dompet saya lenyap. Lagipula saya sudah janji juga sih mau beli komik kompilasinya. Sedari Game Developer Gathering di November 2015 lalu, sebenarnya mereka juga sudah mempromosikan komik kompilasi mereka. Hanya saja belum dicetak banyak, buku yang ada pun hanya sebagai pajangan saja waktu acara tersebut. Selain membeli Kroma, saya membeli satu poster dan komik Only Human yang juga merupakan karyanya mas Mukhlis. Perasaan khilaf saya tertutupi ketika melihat senyumannya mas Mukhlis yang bahagia telah merampok duit saya. Pffft.

IMG_20160305_112735

Ketika saya mau lanjut ke booth sebelah kirinya Kroma, masih kosong tidak ada orang. Otomatis saya mau nyebrang dulu.. secara diagonal ke boothnya Raia Studio. Eits, tunggu dulu. Sebelum nyebrang saya sempatkan diri mampir ke Hellmates Circle. Circle yang digawangi oleh kak Billy (yang ternyata namanya bukan itu haha, nanti saya jelasin lagi deh di bawah) dkk ini entah mengapa selalu jadi langganan saya beli komik-komik dan karya lainnya. Walau saya nggak memiliki semua koleksi karyanya (karena masih tergolong selektif dan… yah, terkadang nggak saya beli karena keterbatasan budget), untuk saat ini saya cuma beli komik terbarunya kak Bil.

IMG_20160305_113542

Nah, baru deh habis beli komiknya kak Bil, saya langsung ke Raia Studio. Studio yang digawangi oleh empat orang artist bergerak secara indie mengerjakan proyek-proyek lokal dan luar negeri. Saya suka dengan art stylenya mereka, cenderung western dan terlihat rumit. Secara tidak langsung memukau mata saya. Pertama kalinya saya mengenal studio ini ketika saya secara tidak sengaja datang ke technical meeting acara ini, kemudian saat menunggu hujan reda saya sempat mengobrol dengan mas Ponco (yang sialnya tidak saya sapa dan ngobrol ala kadarnya di acara ini). Di sini saya tidak banyak membeli, cuma membeli pembatas buku dan artwork ukuran A5 yang dipotong jadi persegi.

Booth berikutnya yang saya kunjungi adalah Sekiranun Circle. Saya tertarik dan membeli posternya, namun karena melihat harganya yang 20 ribu per satu posternya, saya malah teringat saat Bandung Japan Festival 2 lalu saya beli 2 poster bonus 1 poster dengan harga 50 ribu. Saya coba tawar lah. Awalnya sih mas-mas penjualnya nawar harga 55 ribu, namun saya kekeuh nawar 50 ribu sambil nunjuk booth circle yang salah sambil bilang “Lha, waktu kemarin di BJF saya beli di situ beli tiga poster dapat 50 ribu kok.” Padahal… booth circle yang saya maksud ada di sebelah kanan saya HAHAHAHAHAHAHAHA, tapi nggak saya bilang yang sebenernya. Terus mas-masnya mangut-mangut ajalah, kasih harga 50 ribu untuk tiga poster. Ternyata nawar ala emak-emak manjur juga.

Kalau menurut urutan waktu sih, saya lewat ke booth Sketch Lur dan Shoba Labs, tapi saya nggak beli apa-apa sih karena tidak terlalu menarik perhatian saya. Eh tapi di akhir waktu saya beli sticker set juga sih di booth Sketch Lur. Habis itu saya lewat boothnya Pleiades dan nggak beli apa-apa juga karena kebanyakan kontennya bukan masuk ranah fandom saya. Lewat lagi, saya ketemu booth Funco Comics. Menjanjikan sih… produk komik lokal. Tapi saya kurang suka sama cetakan komiknya yang kurang bagus. Pada akhirnya saya cuma beli satu komik mini karya mereka. Selanjutnya saya lewat booth Sekte KVP (yang ini saya lewatkan), booth Pam-Pam (sewing stuff, saya lewatkan lagi), dan terakhir booth DNA sendiri (saya hampir beli, tapi karena saya masih ragu, jadi saya lewatkan).

Selebihnya sih saya keliling-keliling nggak jelas, lihat-lihat live sketching teteh Anchi oleh duo artist dari Raia Studio, ngobrol ngalor ngidul sama kak Billy dan rekan circlenya di booth Hellmates Circle, dan nyimak obrolan Rezqy dan temen-temen sesama circlenya di booth Nusaimoe.


 

Saat saya melepas rasa lelah saya habis keliling-keliling, saya rehat di boothnya kak Bil. Saya mulailah obrolan yang sempat putus-putus di tengah-tengah obrolan. Entah mungkin karena ada kesibukan lain atau gimana, saya sedih masih belum dikenal kak Billy. Buktinya aja masih ditanya-tanya kuliah di mana, angkatan berapa, jurusan mana.. Padahal udah dari Game Developer Gathering 2015 lalu saya kasih tahu, tapi masih aja saya dilupakan. Sedih.

Terus saya tanya-tanya lagi nih tentang diri kak Billy yang sebenarnya. Ternyata pertanyaan yang terpikir di kepala selama ini akhirnya terjawab. Rupanya nama aslinya kak Bil bukan itu, tapi kak Alfi (???). Terus asalnya dari Cijantung (?????) dan nggak ada darah Bataknya sama sekali (???????). Nama, orientasi seksual dan gender, serta karakter yang ada di semua akun media sosialnya itu cuma fiksi. Ah, I see. Terkadang ada beberapa orang yang saya kenal di sosmed menggunakan orientasi seksual dan gender yang tidak sesuai dengan pakem masyarakat awam, saya masih maklum. Tapi demi menutupi identitas sebenarnya pun masih saya maklumi, sebelum dan setelah saya mengetahui keadaan sebenarnya. Yha. Semoga saya nggak digampar kak Alf– eh, kak Bil, setelah saya tulis ini. kabur


 

Ah iya… sebenarnya dari tadi itu saya sempat penasaran dengan pembawa acara DNA Fest. Kayak pernah lihat. Terus pas live sketching juga rada-rada kenal dengan wajahnya. Jangan-jangan… teteh Anchi di Tinker Games? Saya pengen kenalan sih, tapi karena hati masih rada-rada nggak tenang plus masih ada orang di dekat stage, saya putuskan solat dulu untuk menenangkan pikiran yang sudah kewalahan gara-gara ‘amunisi’ sudah hampir habis. Sialnya saya lupa ambil uang di ATM setelah solat, padahal masih ada satu booth yang belum saya kunjungi yaitu booth Imago.

Habis solat, saya, founder cupu IDNSteam ini, kembali ke gedung serbaguna dan mencoba memberanikan diri untuk berkenalan. Eh tahu-tahunya kenalannya berjalan dengan biasa dan lancar-lancar aja. Alasan kenalan awalnya aja saya bilang ‘cuma pengen kenalan aja’, haha… Nggak separah kenalan sama senpai yang gemetaran (duh!).

Setelah kenalan singkat saya, rupanya teteh Anchi ngerti juga soal Steam. Terus katanya nanti dari Tinker Games bakalan ada satu game yang akan rilis di Steam. Saya bilang bisa nantinya dibantu untuk promosi gamenya di komunitas. And it seemed that she gave me green light.

Saya juga jelasin alasan sebenarnya saya kenalan waktu itu karena sebelumnya pas saya lihat dia di Bandung Japan Festival sebagai mascot ambassadornya Wikiba Asia (Emi Hoshino) kelihatannya sibuk banget, jadinya saya pikir entaran aja deh kenalannya. Dan saya juga bilang lebih prefer kenalan langsung daripada kenalan lewat online (padahal sebenarnya saya prefer kenalan online, cuma karena untuk mengurangi risiko hubungan lebih parah dari online dibanding kenalan secara langsung makanya saya ingin pelan-pelan mengubah cara kenalan saya).

Akhir kenalan ditutup dengan tuker-tukeran saling add Line, FB, dan e-mail (eh tapi saya nggak minta emailnya teh Anchi sih), bilang kalau mau berkunjung ke kantornya mereka bilang-bilang dulu, sama saya titip salam ke mas Adjie, CEOnya Tinker Games yang sama sekali belum ada kami kenalan tapi saya tahu orangnya (apa-apaan pula ini hahaha).


 

By the way, DNA Fest nggak cuma menyajikan bazaar dan galeri gambar, tetapi juga di depan ada penampilan musik, art trade sesama artist (jadi mereka nggambar langsung di depan stage terus saat waktu habis mereka tukar-tukaran gambar yang mereka bikin, gitu), live WIP (gambar WIP yang langsung kelar saat acara itu juga), dan talkshow mengenai dunia artist.

Jam tiganya saya ikut lokakarya bagaimana membuat komik dan mengimplementasikan budaya yang ingin kita terapkan ke dalam komik yang dibawakan oleh mbak Azisa Noor. Saya ikut sesi kedua yang berada di jam sore, mulai pukul 15.00 sampai pukul 17.30. Sepertiga bagian dari jadwal lokakarya akan membahas teori komik, hal-hal apa saja yang dapat diterapkan ke dalam komik beserta penjelasan yang mudah dimengerti. Sedangkan dua pertiganya akan langsung ke praktik pembuatan logline, paneling, dan komik yang ingin dibuat. Saya rasa gambar yang saya berikan cukup memberikan gambaran mengenai apa saja yang dipelajari selama mengikuti lokakarya tersebut.

Setelah sesi lokakarya selesai, saya dan teman sekelas saya yang kebetulan juga mengikuti acara tersebut menemani saya untuk mengambil ‘amunisi’ saya di ATM. Namun setelahnya saya mengambil ‘amunisi’, ternyata begitu kami berdua datang kembali ke gedung serbaguna, acara sudah selesai. Tidak ada lagi booth yang berjualan, kecuali booth alat gambar. Saya merasa kecewa sekaligus beruntung karena tidak jadi membeli barang yang ada di booth Imago. Kepengen beli notes dengan cover bergambar dan penanda halaman bukunya sih.

Kalau dilihat-lihat hasil jarahan saya, kira-kira sebanyak ini sih:

Soal banyak sedikitnya saya khilaf, kurang lebih sama ketika saya ada di Bandung Japan Festival di Januari lalu. Dan saya merasa beruntung karena bulan ini ‘acara’nya cuma ini aja. Kalau aja ada acara lain, bisa-bisa saya pasrah nggak makan apa-apa dan terpaksa ngutang, huhu.

Oke, langsung saja ke kesimpulan acara. DNA Fest menurut saya sudah bagus mengadakan acaranya, hanya saja pengunjung dan artist/penjaga booth masih banyak yang kebingungan saat ingin menuju ke Gedung Serbaguna. Kemudian di Gedung Serbaguna yang tempatnya cukup luas tapi pengunjung masih kelihatan sepi, ketika saya dengar saat talkshow, mereka para artist menginginkan agar tempat lebih strategis lagi supaya acara dan karya-karya mereka dapat terekspos lebih banyak orang. Keuntungannya karena tempatnya di Gedung Serbaguna, maka otomatis ketika hujan setidaknya masih ada tempat untuk berteduh.

IMG_20160305_123539

Advertisements

3 thoughts on “Hedon (Lagi) Sembari Mengikuti Lokakarya di DNA Fest 2016

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s