Funkot dan Prasangka Sosial Negatif di Indonesia

Setiap kali saya bepergian, entah itu ke mana saja, di kala saya membuka handphone saya, saya membuka aplikasi Soundcloud dan mencari lagu-lagu yang tampaknya terasa eksotis dan gaul di negeri Matahari Terbit tetapi cukup miris jika didengar di Indonesia. Dalam boks pencarian, yang ingin saya ketik ada lagu yang mengandung kata kunci ‘funkot’.

Ketika saya mendengarkannya dengan monitor headphone yang saya dapatkan dari Game Music Talk beberapa minggu lalu, di mana monitor headphone tersebut suaranya jebol sampai ketika saya mendengarkan dengan volume maksimal orang-orang bisa mendengarnya dari luar cup headphone saya ini. Lain cerita kalau saya mendengarkannya dengan in-ear monitor berbentuk earphone, akan tetapi earphone saya tinggal di rumah saudara saya sewaktu pulang kampung saat liburan UAS semester lalu.

Impresi pertama mereka ketika saya mendengarkan lagu ini adalah saya ini mendengarkan lagu-lagu yang biasa didengarkan di angkot-angkot. Memang nggak heran sih, soalnya lagu-lagu serupa juga dapat sering didengarkan ketika di angkot-angkot. Tetapi yang menjadi ketidaksetujuan saya adalah lagu-lagu yang diputar di angkot kebanyakan hanya mencakup unsur dangdutnya saja. Ada juga sih beberapa lagu yang mengusung lagu dangdut dengan versi remix. Akan tetapi lagu funkot ini beda. Benar, ada unsur dangdutnya karena kebanyakan lagu yang ada yang dipakai dari lagu dangdut. Tetapi sebenarnya lagu funkot ini merupakan leburan dari genre house dan dangdut.

Selain karakteristik dasarnya yang merupakan campuran genre house dan dangdut, asalnya pun juga berasal dari sebuah daerah di Kota, Jakarta, pada sekitaran tahun 2000an. Dikenal dengan tempo lagunya yang cepat, khas funkot adalah pattern triplet bass kick, cowbell, dan banyak sampling. Genre yang awal mulanya terkenal di sini kemudian dicaplok di Jepang oleh DJ Shisotex yang kemudian diikuti oleh banyak DJ di sana dan akhirnya rame banget di diskotik-diskotik di sana. Jadi salah anggapan bahwa sebenarnya lagu funkot hanya sekadar ‘lagu angkot’.

Hanya karena lagu genre ini mirip dengan lagu yang sering diputar di angkot-angkot (dan bisa saja saat senam pagi), tetapi kelas lagu genre ini tidak serendah lagu di angkot-angkot. Karena kelas kendaraan umum yang dipakai adalah kelas rendah, dengan biaya murah dan kualitas kendaraan umum yang seadanya saja, otomatis mereka langsung mengecap rendah bahwa lagu funkot setara dengan lagu angkot. Padahal lagu yang saya dengar diaransemen langsung oleh DJ-DJ Jepang (dan beberapa DJ di Indonesia) yang sudah mangkal di beberapa diskotik.

Parahnya pula, pelabelan negatif juga terjadi di saat saya mengalami miskomunikasi dengan teman kelas. Dengan melemparkan argumen ad hominem termasuk lagu yang saya dengar adalah lagu angkot, jelas-jelas saya tidak setuju. Lagipula tidak semua orang hobi mendengarkan lagu yang sama.

Oleh karena itu, saya tidak setuju bahwa orang-orang menganggap rendah genre sebuah lagu dan tidak adil bila orang menganggap sebuah lagu rendah hanya dilihat dari faktor pendukungnya, semisal di mana lagu tersebut sering diputar.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s