Nonton JKT48 Rasa Dangdut di Tenshi no Matsuri

Nonton JKT48 Rasa Dangdut di Tenshi no Matsuri

Baru aja kemarin ikutan Bandung Japan Festival, eh udah lanjut lagi aja sama Tenshi no Matsuri. Luar bi(n)asa.

Setelah di awal pekan Januari ini saya tahu ada Bandung Japan Festival, eh di beberapa hari kemudian ada yang sempat mengabarkan bahwa ada acara Jejepangan juga di kampus. Ya itulah acara yang dimaksud: Tenshi no Matsuri. Begitu saya lihat yang bakal mejeng di stagenya ada JKT48 rasa dangdut, saya jadi makin penasaran. Malah saya borong banyak tiketnya. Beli 20 tiket sekaligus! Haha.

Tapi yang bikin mengapa saya bisa tertarik untuk beli tiketnya sih ya karena penasaran aja pengen lihat konsernya JKT48. Harusnya sih saya nggak tertarik, cuma karena ada rasa dangdutnya, ya… acceptable sih menurut saya. Yaudah, saya langsung tancap gas. 500 ribu melayang demi borongan beli tiket dan berharap bisa dapat keuntungan 5 ribu per tiket. Ujung-ujungnya saya malah menderita karena minus uang bulanan, plus dari keuntungan yang saya dapatkan dari penjualan tiket malah saya pake semua buat belanja di Bandung Japan Festival. Saya udah khilaf, oleh karena itu saya berjanji tidak akan beli apa-apa di Tenshi no Matsuri.

Kalau teman-teman butuh gambaran, Tenshi no Matsuri itu sebenernya konser dengan festival. Beda jauh banget sama Bandung Japan Festival yang nggak cuman mementingkan acara di stage doang, tetapi juga di festival. Kalau di Tenshi no Matsuri ini, mungkin karena perdana kali ya makanya saya masih merasa ada kekurangan di sana sini. Terutama di tempat penonton melihat stagenya. Wuidih. Banyak space kosong! Padahal sebenarnya, kalau niat, bisa ditambah dengan doujinshi booth dan segala macam tetek bengeknya di daerah main stage. Mungkin ekspetasi mereka bakalan rame di dalam, tapi kenyataannya, yang keisi pun nggak sampai setengahnya! Paling cuman 1/5 dari isi convention hall yang berbentuk cangkang keong itu.

Ke sana saat siang hari, antrinya naudzubillah. Udah kayak antri sembako aja (lebay). Tapi emang ngantrinya nggak separah antrian di AFA atau Comifuro (saya belum pernah pergi ke sana, tapi ada rencana untuk yang ketujuh akan ke sana).

Setelah tepat hampir masuk ke pintu, cek tiket, dan geledah tas sedikit, akhirnya saya masuk juga ke gedung keong.

First impression saya pas baru masuk pintu, saya pikir di kiri-kanan ini awalnya booth khusus doujinshi loh! Beneran, saya sempat ngepost status (tapi untunglah nggak jadi alias gagal karena koneksi hape Telkmsl dodol). Ternyata yang ada di kiri-kanan hanyalah booth yang dibuka oleh toko-toko Jejepangan seperti toko figure, toko pakaian, toko cenderamata, dsb.

IMG_20160131_141309
Jejeran booth toko Jejepangan semua.

Saya keliling, mutar berkali-kali, dan dari apa yang saya dapatkan adalah poster, pin, gantungan kunci, dan lain-lainnya, kebanyakan dari isinya itu bootleg semua. Kualitas rendah tapi harganya dibuat kayak produk premium. Gimana nggak cringe coba, pengen beli tapi kualitas bahan kaos yang dipakai setara dengan bahan kaos yang harganya 30-50 rebuan. Dipasang harganya 80-100 ribuan. Kan kampret.

Dan karena nggak ada doujinshi booth maka saya nggak perlu khawatir sama uang saya. Karena nggak ada sssuatu yang menurut saya “nggak mungkin diproduksi lagi”, “persediaan terbatas”, dan “cuma ada saat itu doang”. Jadi saya kira aman-aman aja. Tapi tadi malah ketemu ini. Manga artbook World of Tanks sama World of Warships.

Harusnya kan gratis ya dari eventnya? Tapi kok, ini malah bayar. Udah gitu mahal pula, 75 ribu per bukunya. Total semuanya jadi 150 ribu. Gila dah, barang gratis dijual mahal. Ogah ah kalau gitu.

Sementara itu saya lihat di sisi paling kanan ada cover sing competition dan dance cover competition. Waktu saya foto, masih pada dance tuh. Nggak tahu kalau cover singnya kapan. Dan di sisi sebelah kiri ada sesi jam gitar gitu. Lumayan buat yang nggak ngerti sama sekali acaranya terus tiba-tiba diajakin gitu aja sama orang terdekat.

Pas udah kelar keliling-keliling dan saya masuk ke tempat penonton stage, apa yang saya lihat langsung sudah saya tuliskan di atas tadi. Tempat penonton masih lowoooooooooong banget.

Saya yang udah persiapan dari kamar asrama bawa laptop buat mengerjakan TP alias Tes Pendahuluan, pretest yang biasa dikerjakan sebelum mulai praktikum. Karena saya belum ada bikin sama sekali, selama tiga jam saya gunakan waktu saya untuk mengerjakan TP. Dan selama 3 jam itulah saya melewatkan mendengarkan stage dari band-band lokal yang ada di Bandung dan sekitarnya.

IMG_20160131_161731_HDR
Ngerjain TP di saat stage, coy.

Setelah mengerjakan TP, saya pergi ke luar mengurus sisa yang harus dikerjakan. Pas selesai mengurus sisa, eh tiba-tiba hujan. Cukup lama pula. Untunglah hujan derasnya tidak memakan waktu terlalu lama. Saya masih sempat mengumpulkan TP dan kembali ke gedung keong untuk melihat stage utama.

Sampai di gedung keong, saya lihat Aozora masih tampil di atas panggung. Sempat saya rada-rada geli lihat vokalisnya menitikkan air mata karena mereka sudah mau menampilkan lagu mereka yang terakhir. Saya pikir sih masih wajar ya, soalnya dari yang saya tahu sih ini kan acara yang memang khusus untuk menampilkan penampilan mereka.

Setelah Aozora turun dari panggung, penonton malah bersorak menunggu kedatangan JKT48. Sambil menunggu kedatangan mereka, eh penonton di sekitar saya malah sibuk main pukul-pukulan balon 😆

Begitu JKT48 datang, satu isi kerumunan penonton langsung ricuh dengan suara mereka. Padahal cuman empat orang doang, tapi mereka antusias banget. Gimana kalau satu tim pada nongol di panggung ya… makin heboh.

Kayaknya cuma saya doang yang nggak terlalu fanatik di antara kerumunan. Saya cuma diam, merhatiin, sambil pipi menyandar di telapak tangan. Yang lain pada asyik dengan lightstick mereka sembari bernyanyi mengikuti alunan suara para oshi.

Saya geleng-geleng kepala. Bukannya saya diam-diam wota JKT48 yang denial, tapi saya kebetulan cuma pengen datang nonton JKT48 karena ada versi dangdutnya.

Sementara member JKT48 udah mau nyanyiin lagu terakhir mereka, penonton pada sibuk minta encore. Padahal saya, dalam hati, tahu kalau mereka nampil cuma sejam doang.

Dan akhirnya empat member JKT48 mengakhiri sesi konser dangdut mereka. Penonton pada langsung bubar, saya pun juga langsung bubar.

Nggak terlalu banyak yang bisa saya harapkan dari Tenshi no Matsuri selain stage dan kompetisinya. Tempat penonton yang masih bisa diisi lagi dan booth yang cuma jualan dari store-store yang udah ada. Pengunjung juga kurang sesuai ekspetasi mereka. Mungkin ngarepnya bakalan bisa sampai seribuan gitu yak, padahal nyampe aja belum tentu sih kalau menurut saya. Ya begitulah… setidaknya khilafnya masih bisa saya kendalikan soalnya nggak ada yang membuat saya tertarik untuk membeli di sana haha.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s