Mengorbankan Diri Datang Kehujanan Demi Ketemu Teman

4994884939_c54d04d0ce_b
Sengaja saya pasang foto Ciwalk ini untuk menghindari first photo post di bawah gambar ini. Sumber dari Flickr: https://www.flickr.com/photos/thesamperuru/4994884939

Dua hari yang lalu, teman dekat yang awalnya kenal dari saling follow blog terus lama kelamaan jadi saling curhat-curhatan gitu deh, datang berkunjung ke Bandung sini. Rencananya jalan-jalan selama tiga hari dua malam. Mumpung dia ada waktu liburan ke sini, saya kepikiran untuk ajak ketemuan di suatu tempat. Kebetulan esok harinya saya juga ada waktu setelah kuliah di sore hari, sehingga bisa menyempatkan diri untuk ketemu dengannya.

Sebelum saya mau pergi, saya kepikiran bahwa saya kan nggak ada motor. Maka saya pikir dulu siapa aja yang ada motor. Saya teringat ada satu teman saya yang punya motor. Langsung saja tanpa basa-basi saya minta teman saya untuk meminjamkan sepeda motornya. Dia pun oke saja. Okelah, berarti besok saya benar-benar bisa ketemuan dengan teman saya ini.

Sore esok harinya setelah pulang kuliah, saya menunggu teman saya untuk mengambil kunci sepeda motor dari kamarnya. Sambil mengambil kunci sepeda motornya, dia juga mengambil pakaian yang mau dijahit di penjahit depan komplek kampus. Kami berdua langsung pergi menuju lapangan parkir sepeda motor, pergi ke tempat penjahit, dan kembali ke depan pagar asrama putra.

Saat saya tanya apakah ada bagasi dan jas hujan, samar-samar ia menjawab ada. Padahal sebenarnya nggak ada. Saya malah percaya dengan omongannya yang bilang ada tersebut.

Sebelum balik dari penjahit ke gerbang depan asrama putra, saya mencoba menggunakan sepeda motor yang dimiliki teman saya. Saya terbiasa menggunakan motor bebek dan motor matic, namun motor yang dimiliki teman saya ini motor kopling, di mana saat gigi sudah dimasukkan rem handling harus dipegang. Saya sempat merasa kesulitan menggunakan handlingnya karena merasa motor kopling sama saja dengan motor bebek. Pertama kali mencoba saya merasa malu, soalnya saat jalan yang ada motornya malah loncat. Saya malu banget saat dilihat banyak orang. Teman saya juga nggak bilang (antara sudah bilang atau nggak jelas saat ngomong sehingga bikin saya jadi nggak tahu bagaimana cara pakainya) kalau mau jalan musti pegang rem handling terus.

Setelah kami berdua sampai di depan pintu gerbang utama asrama putra, sempat teman saya menawarkan diri untuk mengantar saya ke Ciwalk. Kebetulan saya janjian sama teman saya di sana. Tapi saya menolak dan memilih untuk pergi sendiri saja. Teman saya awalnya kurang yakin, namun saya bersikukuh untuk pergi sendiri. Akhirnya saya pun pergi juga sendiri dengan menggunakan motor kopling teman saya.

Selama saya menjalankan motor kopling teman saya ini, yang saya dapatkan adalah betapa kagetnya saat saya terkadang melepas penuh kopling, motor langsung berhenti mendadak. Saya jadi sport jantung terus menerus dengan kondisi seperti ini. Belum lagi pegang handling untuk pertama kalinya, jadinya telapak tangan kanan jadi rada kram gitu.

Pas di Jalan Ibrahim Adjie, eh tahu-tahu udah hujan aja. Saya langsung pinggirin motor dan cek apakah ada jas hujan atau nggak. Eh, rupanya yang dibilang teman saya itu nggak ada. Saya pikir ada. Saya lihat, nggak ada bagasi, nggak ada jas hujan. Masa saya balik dong? Nanggung, ya udah saya bantai aja hujannya. Saya lanjut terus ke Jalan Kiaracondong.

Hujan semakin deras. Saya semakin nggak peduli dengan hujannya. Bermodalkan hape lowbat dan melihat arah rute Google Maps, perlahan-lahan saya mengendarai motor. Sempat saya cek hape saat di tengah jalan dan teman saya ini bilang kalau sebaiknya dibatalkan saja. Lha wong saya sudah mau sampai Jalan Layang Pasopati, masa saya balik lagi? Kan sayang dong. Saya bilang ke dia lagi kalau saya sebentar lagi sudah mau sampai. Dan saya, saat itu juga, masih meneruskan jalan.

Memasuki Jalan Layang Pasopati, waduh, dingin bukan main! Di atas jalan layang, tanpa jas hujan, baru pertama kali pakai motor kopling yang serba mati kalau handlingnya dilepas, dan hawa udara yang dingin banget membuat saya menggigil dan ketakutan. Andai saja saya melesetkan sedikit tangan kiri saya, niscaya saya bakalan tersungkur dan jatuh ke jalan. Saya awalnya memikirkan begitu, namun demikian saya percaya bahwa dalam segala usaha pasti ada hasil. Dan saya sampai juga ke bawah jalan layang menuju Jalan Cihampelas.

Sudah mendekati Ciwalk, saya sempat salah belok. Harusnya saya agak lurus dikit baru belok kanan, eh ini saya belok kanan duluan. Alhasil saya parkir di Indomaret yang jaraknya cukup dekat dari Ciwalk. Saya melangkah naik untuk sampai ke Ciwalk.

Sesampainya saya di Ciwalk, saya kabari tuh ke dia kalau saya sudah sampai. “Oke,” begitulah kira-kira balasannya.

Beberapa saat setelah dibalas saat saya menunggu tepat di depan, eh akhirnya teman saya yang ditunggu nongol juga.

“Wah kamu tinggi ya.”

Datang-datang saya langsung dibilang begitu 😆

Untuk ukurannya dia sih, dia terbilang pendek dan kurus. Tingginya sepundak tinggiku. Walau demikian, aku sempat nyeletuk kalau doinya lebih tinggi dari dia. Tapi dia bilang tinggi doinya nggak beda tipis sama tingginya dia. Aku gagal nyeletuk deh.

Karena ini pertama kalinya saya berkunjung ke Ciwalk maka saya nggak tahu rekomendasi tempat makan yang enak di sini. Dan sementara teman saya masih sibuk mencari-cari tempat makan yang enak dan cocok dan ujung-ujungnya juga bingung mau ke mana, akhirnya saya sarankan makan di Tong Tji saja. Kami berdua pun memilih duduk di pinggiran agar kelihatan view luarnya.

Soal saya dan dia pesan apa, saya pesannya sih satu level di bawah nasi goreng presiden: nasi goreng spesial, di mana nggak selengkap nasi goreng presiden. Sedangkan dia pesan… kalau nggak salah sih pesan soto gitu deh.

Sambil menunggu pesanan makanan, kami sempat berbincang-bincang sedikit. Dia bilang dia barusan pergi ke Pasar Baru, belanja. Saya tanyain tuh udah pergi ke mana aja selain Pasar Baru. Dia bilang belum banyak pergi sih. Ibunya juga udah kebanyakan belanja saking bilang pergi ke tempat ini itu rada bosen soalnya “gitu-gitu aja”. Halah, ini ibunya temen saya pada demen belanja gitu, pikir saya.

Setelah makanannya dateng, eh begitu baru nyicip sedikit, hujannya langsung nyembur ke dalam. Akhirnya kami pindah tempat duduk ke dalam yang cukup tertutup. Di sana kami melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya terhenti karena datangnya pesanan makanan.

IMG_20160112_182316.jpg
Pada ngeluh makan nih, nggak tahu diri banget 😦

Di tengah-tengah makan, teman saya mengeluh porsi makanannya dikit banget. Terus dia lihat papan promosi. Ternyata dapatnya jauh lebih murah. Kelihatannya dia sedih banget gara-gara makan porsi dikit terus bayarnya nggak sepadan sama makanannya hahahaha.

Setelah makan, kami jalan-jalan deh keliling Ciwalk. Sempat sih dia bilang kalau kami jangan mampir lewat sini, takutnya ibunya lihat saya lagi jalan sama dia. Hadeuh, saya yang bukan siapa-siapanya, cuma teman (yha, teman) aja sampai takut segitunya. Tapi yaudahlah, daripada saya enggak bisa ketemu dia lagi mending saya ikuti aja.

Jalan-jalan kelilingnya nggak lama-lama sih. Saya sudah disarankan samanya untuk pulang pukul setengah 8. Karena katanya kasihan bila ibunya nungguin sendiri terus. Ya sudah deh, karena saya juga pengen beli rice cooker di Carrefour, akhirnya sebelum pulang saya beli dulu jas hujan (yang bagusan, dan harganya… 200 ribu).

Sebelum saya pulang, saya kodein dia dulu nih buat selfie. Dan akhirnya sih kesampean juga (halah De, ngarep banget sih kamu).

IMG_20160112_193611.jpg
Yey, selfie juga :3

Setelah itu, akhirnya saya pulang juga. Dari Jalan Cihampelas melewati Jalan Layang Pasopati dan Jalan Riau, saya nyasar sampai Jalan Burangrang. Terus lanjut lagi nyasarnya dan ujung-ujungnya sampai juga ke Carrefour Kiaracondong. Di sana saya sempatkan beli rice cooker beserta berasnya. Setelah beli, saya mikir ini gimana bawanya ya. Saya coba ketemu bilang ke teteh yang ada di meja customer service, yang ada saya malah cuma disediakan tali buat ikat itu dua barang. Saya ikat setengah mati dan nggak tahu ini ikatannya erat atau nggak.

Udah diikat, saya coba bawa ke bawah. Saya makin bingung, ini taruhnya di mana ya. Di depan takutnya nggak bisa dipakai buat belok. Di belakang ini juga bagaimana ikatnya. Akhirnya saya minta tolong akang-akang yang lagi jaga parkir untuk ikatkan barang-barang saya di belakang.

Setelah selesai diikat, saya berterima kasih kepada mereka. Saya pun pergi meninggalkan mereka. Di tengah jalan mendekati Jalan Telekomunikasi, saya sempat lihat-lihat belakang, eh barangnya hampir nyusruk ke kanan. Untung saya antisipasi, karena sudah dekat maka saya taruh depan saja. Dan ujung-ujungnya sih saya selamat juga sampai kamar asrama.

Fiuh. Banyak banget yang saya alami kemarin, namun yang jelas saya berterima kasih kepada Nia yang sudah menyempatkan diri untuk ketemu saya yang ababil dan rada bondo nekat ini untuk diajak ketemuan bareng. Thank you!

Advertisements

2 thoughts on “Mengorbankan Diri Datang Kehujanan Demi Ketemu Teman

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s