Geram dengan Pengoreksi Tata Bahasa (yang Kurang Etis)

Saya lagi kesal banget sama satu ini.

Kejadian ini mungkin nggak cuman sekali saja saya alami, tapi juga di lain waktu, lain tempat.

Saya sebagai warga negara Indonesia dan pemuda Indonesia yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia, mungkin ada sebagian khilaf dengan penulisan tata bahasa dalam bahasa Inggris. Namanya juga orang non-penutur bahasa ibu Inggris, jadi ada rasa-rasanya juga salah.

Kali ini saya mau curahkan sedikit kekesalan saya dengan pengoreksi tata bahasa saya yang salah. Kalau dalam bahasa Inggris mungkin terdengar akrab dengan sebutan grammar nazi. Nah, karena saya nggak tahu padanan kata yang pas, maka saya pakai saja dengan sebutan ‘pengoreksi tata bahasa’. Ini nggak berlaku hanya di bahasa Indonesia saja, tapi juga di bahasa-bahasa lainnya. Hanya sebutan ‘pengoreksi tata bahasa’ ini khusus untuk terjemahan dari grammar nazi saja.

Ceritanya tuh di kiriman yang saya bagikan ini (sekarang sudah saya sunting), saya ada sedikit kesalahan penulisan kata. Di kalimat “It kills 5 minutes of your life, but trust me, it is worthed to read”, nah di kata worthed-nya itu saya salah. Entah karena kesambet apa, sehingga saya menulis seperti itu. Saya pikir karena orang-orang pas nanya bilangnya “Is it worthed to play?” makanya saya ikuti.

Terus ada teman saya ikutan komentar deh, membenarkan kata saya yang salah. Memang sih, dia benar. Saya salah. Tapi yang bikin saya kesal itu gaya membenarkan bahasa saya itu biasa aja, nggak diperhalus. Ditambah lagi dengan orang setuju dengan pendapatnya. Geram, tahu.

Ditambah lagi dengan komentar bangga atas apa yang diperbuat, bukannya mendukung dan memberikan alasan yang enak didengar mengapa itu salah dan apa yang benar. Kan saya yang awalnya ingin membenarkan tulisan saya malah jadi terbawa marah saat membacanya.

Harusnya sih saya dari tadi sudah menyunting tulisan tadi sehingga nggak saya baca komentar-komentar yang mengganggu kesehatan mental saya. Serius nih, tadi itu saya mau tulis komentar dengan kata-kata kebun binatang dan kata-kata kasar saking kesalnya. Tapi terpaksa deh saya tahan. Syukur masih terbilang teman Internet (yang udah pernah ketemu sebelumnya). Coba kalau cuman teman Internet yang sama sekali udah nggak kenal, udah langsung saya unfriend tuh. Beneran.

Advertisements

2 thoughts on “Geram dengan Pengoreksi Tata Bahasa (yang Kurang Etis)

  1. You and me bro! (nah ini juga tau deh bener ato gak).

    Sebenarnya saya selalu bingung kalau orang keliru pada bukan di bahasa ibu/aslinya, yah wajari dan diberi saran saja.

    Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti training dengan orang asing. Dia sendiri saja mengakui bahwa dia tidak pandai dalam mengeja. Terlebih lagi kita, yang memang masih dibilang jarang menggunakan bahasa inggris di luar dunia kerja (kapan deh denger orang cakap bahasa inggris yang pembicaranya bisa bahasa indonesia).

    Tapi, harus kamu sadari komunikasi tertulis tidak dikuasai oleh banyak orang. Bagaimana mengekspresikannya melalui tulisan. Harus ada bumbu “keraguan” dalam memahami tulisan seseorang. Mungkin jika dibikin lengkapnya “mas, worthed is not a word. it’s “worth it””. Akan terasa berbeda rasanya. Apalagi jika ditambah “:)”. Saya disini bukan mau menyalahkan kamu ataupun pengomentar. Tapi, ini keputusan kamu dan pertimbangan pribadi kamu mengenai menerima/merespon komentar yang kamu terima di online. Jika ada faktor lain mengapa kamu menerima respon tersebut negatif seperti sebagaimana seringnya kamu membaca respon-respon orang tersebut, sikap di dunia nyata, dlsbnya, yah mungkin untuk meredekan rasa emosi dengan memperhatikan atau mengevaluasi faktor-faktor tersebut sebelum membaca responnya di kelanjutan hari.

    1. Kayaknya lebih cocok “I know how you felt and also have felt it.”, tapi entahlah mungkin ada proper wordsnya dari ini.

      Untuk poin pertama, saya rasa hal tersebut lazim ditemui.

      Memang sih, kembali saya nyatakan bahwa sebenarnya yang menjadi pemicu amarah saya itu ya komentar seseorang yang mendukung seseorang itu (setelah memberikan “acungan jempol” virtual). Mungkin saya terlalu lelah menjalani hidup dan terbawa saat membaca komentar teman yang mendukung atas komentar teman yang memperbaiki kesalahan penulisan saya. Kurang lebih sih begitu.

      Di waktu berikutnya saya usahakan deh untuk mencoba meredakan dulu emosi saya sebelum menghadapi komentar-komentar yang relevan. Tapi akhir-akhir ini emosi saya terlalu labil sehingga susah banget untuk dikendalikan hahaha. Saya coba sebisa saya ya.

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s