Kok Menurut Orangtua Saya Nginap di Rumah Teman (Masih) Dianggap Tabu?

Saya sampai saat ini masih heran. Ceritanya kan saya pengen menginap di rumah teman nih. Bosan gitu di rumah melulu. Kerjaannya kalau nggak tidur atau mengerjakan aktivitas yang itu-itu aja. Paling nggak ada teman-teman yang bisa diajak bermain dan ngobrol bersama selama menginap di rumahnya.

Nah, masalahnya orangtua saya enggak mengizinkan saya untuk menginap di rumah teman.

Memang sih, saya sudah lama banget enggak minta menginap ke rumah teman. Terakhir kali saya minta menginap itu pas kelas 2 SMA. Itu pun juga nggak dikasih dan ujung-ujungnya saya cuman main sebentar saja di rumah teman sanpai menjelang magrib.

Waktu itu memang saya sudah minta penjelasan mengapa saya nggak diizinkan oleh orangtua saya. Dan alasannya itu nggak rasional alias nggak bisa diterima akal; alasannya tabu.

Tabu. Satu kata yang mustahil bisa saya cerna tanpa alasan yang jelas. Dan orangtua cuma bilang itu hal yang tabu. Begitu saja. Tanpa alasan logis yang memenuhi kepuasan saya atas tidak diberi izin tersebut. Kan jadinya absurd?

Namun demikian, sekonyol-konyol pernyataan yang diberikan oleh orangtua saya, mereka masih mengizinkan teman-teman saya untuk menginap di sini. Karena orangtua saya masih punya rasa “malu” dan rasa “sopan” dalam menerima tamu. Jelas-jelas bertolak belakang dengan apa yang menjadi alasan tidak bolehnya saya menginap di rumah teman.

Dan mereka itu nggak ngasih saya menginap di saat kelas 2 SMA. Sementara teman saya saja dikasih untuk pergi menginap di rumah temannya yang lain. Saya nggak mau bahas lebih lanjut soal perbandingan ini itu, karena nantinya bakalan nggak setuju dan keluar pernyataan yang “kenapa kamu nggak ngikutin dia aja?”.

Sebelumnya saya pernah mencoba hal serupa di saat saya masih SMP, tapi hasilnya gitu juga. Nggak dikasih izin. Tapi ketika saya ajak teman-teman saya untuk menginap di rumah teman saya, orangtua saya semacam memberi lampu hijau yang mendekati lampu kuning. Jadi itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya bisa mengajak teman-teman saya menginap — pada saat itu.

Tentu saja ini menimbulkan kesan yang amat parah di benak pikiran saya. Masa menginap saja nggak dibolehin? Saya kan anak laki-laki; saya ini sudah besar. Mungkin saya rasa karena apa yang diajarkan oleh orangtua mereka dulu kemudian diturunkan lagi ke anak-anaknya, ya? Semacam pelampiasan atau bagaimana, saya kurang mengerti menafsirkannya.

Begitu pula dengan teman-teman saya yang juga meninggalkan kesan buruk di saat entah itu berkunjung ataupun menginap. Alasan yang dilontarkan ibu saya seperti “anak laki-laki itu seharusnya tidur di surau” kerap jadi olok-olokan salah seorang teman saya, ya karena itu. Karena orangtua masih kaku sama aturan-aturan tradisi yang penuh dengan takhayul dan kekakuan serta tidak mau menerima perubahan yang dinamis dari modernisme tanpa meninggalkan aturan-aturan penting. Asalkan alasan yang diberikan adalah logis, saya rasa hal itu bisa dapat dimengerti.

Di sisi lain, orangtua juga memiliki rasa protektif terhadap anaknya. Mereka bilang begitu karena mereka takut saya kenapa-kenapa di luar sana. Oh, seriously? Saya memang pernah mengalami hal serupa — saya pernah diperdaya dan tertipu sama tukang copet dengan sugestinya saat saya SMP dulu — tapi bukan berarti sekarang saya mudah untuk ditipu! Saya juga tetap akan di jalan yang semestinya di saat saya mengatakan apa yang harus saya lakukan dan tidak saya langgar. Orangtua saya juga khawatir kalau saya bakal terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Plis deh, tapi semakin dewasa seharusnya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan orangtua harusnya nggak khawatir akan hal itu.

Bahkan untuk saat ini saja, saya nggak minta izin menginap, pun ketika saya keluar sekadar main ke rumah kawan pun setidaknya pulang sebelum magrib tiba. Alasan klise dari orangtua supaya anaknya pulang tepat pada waktunya sebelum tiba. Makanya saya suka banget pulang lama di saat ada les malam, ya karena saya bisa main lebih lama dan lebih malam. Setidaknya saya puas bisa main dengan kondisi semi-menginap.

Sekarang umur saya 18 tahun. Dan saya masih enggan minta izin menginap ke rumah teman, ya karena itu tadi. Karena selain jawabannya kemungkinan besar adalah “tidak diizinkan”, juga pengalaman tak enak yang saya alami atas perlakuan apa yang mereka tetapkan. Orangtua saya ada benarnya dan nggak salah juga sih, cuma kenapa musti diberlakukan seketat dan sefanatik mengejar keakhiratan (baca: agama)? Oke, saya lagi-lagi nggak mau membuat topik post blog ini melenceng jauh.

Pada akhirnya, ketidaksetujuan saya atas aturan yang diberikan orangtua saya benar-benar tidak membuat saya sependapat kepada mereka. Dan ini juga nantinya bakal saya terapkan menjadi pelajaran saat saya sudah berkeluarga dan memiliki anak, bahwa anak saya berhak menginap di rumah temannya, selama saya dan anak saya sama-sama percaya dan mengerti.

Advertisements

2 thoughts on “Kok Menurut Orangtua Saya Nginap di Rumah Teman (Masih) Dianggap Tabu?

  1. Beda pendapat sama ortu mah udah biasa bro, masalahnya tinggal bisa enggaknya reconcile pemikiran masing2 pihak

    kita jadiin diri sendiri aja sebagai batas antara “kaum” oldschool dengan innovators di keluarga, jadinya keturunan sesudah kita nggak old-fashioned lagi, kan keren juga tuh

    btw, um, halo mz, gimana kabar mz

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s