Momen-Momen Mengawali Pijakan Baru Kehidupan Saya di Masa SBMPTN

Halo.

Semenjak terakhir kalinya saya perpisahan, sudah lama banget saya nggak menulis di blog. Tentu ada alasan di balik itu semua. Saya musti memfokuskan diri untuk mempersiapkan segalanya di SBMPTN, ajang uji kemampuan siswa secara nasional untuk masuk perguruan tinggi negeri yang diinginkan. Sebelumnya saya jelas ikut SBMPTN karena saya kalah dapat tiket undangan di SNMPTN. Yah, walaupun namanya persiapan, sejujurnya ya saya juga nggak serius banget dalam mempersiapkan diri, hahaha.

Pilihan saya di SBMPTN bisa dibilang cukup tinggi. Pilihan pertama saja jatuh di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB; pilihan kedua saya Teknik Informatika ITS; pilihan ketiga saya Ilmu Komputer USU.

Dan apa yang saya pelajari, dalam waktu lima minggu lebih, saya rasa masih kurang. Lah iya, wong belajarnya nggak serius.

Buka buku untuk ngerjain soal-soalnya mumet. Langsung tok per bab dibahas satu per satu, dikaji ulang.

Pernah diingatkan untuk melengkapi catatan karena penting untuk dibuka kembali saat mengerjakan soal-soal, namun nyatanya catatan itu tidak pernah kunjung lengkap.

Sejatinya, di tempat les saya, nggak pernah ada yang namanya buku isi ringkasan materi dikasih lengkap. Hanya saja berlaku metode catat di kelas. Jadi modal belajar dari tempat les ya cuma catatan yang sudah kita catat.

Modul yang diberikan cuma isinya soal-soal saja. Untuk modul bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Biologi, masih ada sedikit ringkasan materi, namun jauh lebih lengkap dipaparkan oleh tentor-tentor saat proses belajar-mengajar di kelas.

Kembali mengobrol soal persiapan. Jadi sudah sejauh manakah persiapan saya dan apakah hasilnya optimal? Saya reka ulang dulu…

Awal-awalnya mengintensifkan diri dengan ikut intensif les, semangat saya masih membara. Walaupun begitu, masih disempat-sempatkan sehabis pulang les lalu main ke rumah teman. Dan itu terjadi beberapa kali sampai suatu ketika terjadi kecurigaan pada orangtua saya. Sejak saat itulah saya semakin mengurangi intensitas kunjungan saya ke rumah teman ini.

Semakin hari, semakin banyak tendensi. Soal-soal kian menumpuk, sementara aturan dari bimbel bilang kalau nggak siap rangkaian soal-soal di bab ini, nggak boleh masuk. Untuk sebagian orang, bisa dikatakan hambatan tersebut bisa jadi gap untuk maju. Namun di mata saya, saya justru menjadikannya sebagai sebuah penghalang. Dan hasilnya saya sering bolos tiap les pertama atau bolos seluruhnya di hari tersebut.

Setiap kali saya mengikuti tes ujicoba SBMPTN di tempat les, selalu saya mendapatkan nilai yang di bawah nilai patokan kelolosan — orang-orang sering menyebutnya passing grade. Dan nggak ada peningkatan secara signifikan dari serentetan tes ujicoba tersebut. Gimana nggak naik, soal-soalnya kayak kalian dipaksa musti kabur dari labirin yang hanya bisa dipecahkan oleh IQ di atas 180. Oke, lebay. Intinya soal-soalnya diambil dari soal-soal SBMPTN, soal-soal SIMAK UI (ini paling ngeselin), dan soal-soal Ujian Mandiri yang diadakan di PTN-PTN tertentu.

Belum lagi saya kalau diskusi soal-soal yang belum terjawab dan terpecahkan. Kalau teman-teman saya bakalan didiskusikan soal-soalnya setelah jadwal les, saya terkadang bisa diskusi tapi nggak sepenuhnya serius, terkadang bisa juga “mangkir” di jam-jam diskusi. Entah itu cabut main ke warnet, pulang (niatnya belajar, tapi malah dipake buat tidur sama main hape), main ke rumah teman, dan ada aja alasannya.

Semakin hari H mendekat, perasaan saya yang awalnya tenang-tenang aja, malah jadi kacau balau. Sudahlah dikejar waktu, materi-materi yang dikejar pun tak terkejar. Dan saya pun masih sempat-sempatnya bolos (dan orangtua juga nggak tahu akan hal itu).

Sejujurnya menjelang hari H ini saya rada kecewa dengan apa yang saya alami. Saya mengalami kejadian tak disangka, membuat uang saya melayang. Saya nggak bisa ikut tes ujicoba di luar. Uang saya yang semula untuk membayar registrasi itu, terpaksa dipakai untuk mengganti kerugian dari apa yang saya lakukan saat itu. Dan juga di saat-saat itulah saya enggan meminta uang pada bapak saya. Saya merasa bersalah. Nggak mungkin saya yang udah selama ini inkonsisten dengan apa yang saya perbuat, tiba-tiba minta uang tanpa sebab. H-5 aja saya baru beli buku untuk SBMPTN, itu pun dibantu dulu pakai uang pinjaman saya. Bapak saya nggak ngasih, soalnya mepet. Ya karena saya juga masih bersalah itu makanya saya juga enggan minta uang untuk beli buku tersebut.

Sampailah tiba pada waktunya, di H-1. Saya sempat memeriksa ruangan ujian di tempat yang kebetulan cukup dekat jaraknya dengan rumah saya.

Singkat cerita, saya sudah duduk manis menunggu soal-soal yang akan saya jawab. Ketika waktu ujian sudah dimulai, saya mulai mengerjakan, dan… yak, saya buntu. Panik sih enggak, tapi nggak bisa memecahkan soal dan menjawab soal-soal ini.

Dan akhirnya cuma bisa mengerjakan seperempat dari jumlah soal yang ada.

Alhamdulillah, di TPA saya bisa mengerjakan hampir tiga perempat dari jumlah soal-soal yang ada.

Setelah SBMPTN ini, perasaan saya bercampur aduk. Positif dan negatif. Positifnya, saya nggak perlu lagi belajar sekeras saat intensif dulu. Saya bebas. Negatifnya, apa yang saya alami tidak semaksimal hasil dari apa yang saya lakukan. Pola pergaulan saya salah. Saya menyesal. Tapi nggak bisa juga menyalahkan teman yang menjerumuskan saya. Nggak bisa pula menyalahkan keadaan.

Yaudahlah, toh semuanya sudah berlalu. Saya berharap Allah menentukan yang terbaik untuk nasib saya, aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Momen-Momen Mengawali Pijakan Baru Kehidupan Saya di Masa SBMPTN

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s