Ketika Salah Tingkah dan Menyadari Kucing Rumah Sudah Tiada

Malam sepulang dari les, saya biasanya pulang naik motor sambil membonceng salah satu teman saya yang berhenti biasanya di tempat yang sama, tepatnya di titik jam besar di simpang Capella.

Baru juga keluar dari simpang masuk tempat les dan saya belok ke kiri, langsung saja saya berhenti tak jauh dari tempat penyebrangan dua teman sekelas les yang mengobrol sambil menunggu kendaraan lewat menjadi sepi. Teman saya ini lagi merintih kesakitan karena celananya yang sempit. Setelah sudah agak enakan, teman saya ini bilang ke saya kalau di depan saya tuh ada mobil teman saya. Refleks langsung saja saya soraki.

Eh, tak tahunya kata teman saya, yang bawa mobilnya bukan dia.

Orang tuanya.

Terkejutlah saya.

Langsung aja saya kabur dari mobil itu, menggas motor sekencang-kencangnya, dan terpaksa melanggar lampu merah demi menyelamatkan harga diri. “Tadi dekat kali kau De nyorakinnya,” begitu kata teman saya yang kewalahan gara-gara mukanya juga mungkin nampak di muka orangtuanya teman saya tadi.

Singkat cerita, sampai saya meletakkan motor di tempat biasanya, mama saya bilang sesuatu yang tidak enak didengar. Kucing rumah ada yang meninggal. Iya, kucing yang induk, bewarna belang hitam-jingga-putih.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, ucapku dalam mulut.

Betapa terkejut ketika saya baru mendengarnya sekarang, malam ini.

Kucing itu biasanya kan sering berdiri menunggu makanan di depan pintu rumah. Memang mama saya enggak mengizinkan lagi kucing tinggal di rumah karena repot mengurus kotoran dan bulu-bulunya yang bertebaran di mana-mana.

Kucing itu kan yang sering jaga di depan rumah.

Kucing itu kan yang biasanya sering jalan-jalan ke luar rumah, entah hanya sekadar mampir ke rumah lain atau cari makan di tempat sampah, lalu pulang lagi ke rumah biasanya.

Kucing itu juga yang biasanya sering ditemani oleh anaknya yang bewarna jingga seorang diri. Konon anak kucing ini pula satu-satunya yang selamat selama induknya masih hidup. Selalu menemani, tidur bersama, berebut makan bersama, terkadang berantam main cakar-cakaran. Selain kucing liar jantan yang senantiasa mengawininya demi melahirkan anak-anak baru yang kerap kali mati karena entah tak sengaja terlindas ban roda mobil.

Memang sih induk kucing kalau ingin mencari tempat yang dingin untuk anak-anaknya, ban roda mobil adalah salah satu tempat yang menurut mereka aman. Tapi insting mereka tidaklah selalu benar. Dan perlahan-lahan anak kucing dari induk tersebut mati karena kejadian tersebut. Sungguh menyakitkan hati hanya karena mereka mati karena tempat berlindung dan menghangatkan diri mereka bukanlah tempat yang aman.

Hari Minggu yang lalu, saya, adik, dan mama saya, sepulang dari kunjungan ke pesta pernikahan anak tetangga yang kami kenal, mendapati induk kucing tersebut membawa seekor hewan. Saya lihat dan pikir bahwa itu adalah tikus. Tapi kenyataannya bukan. Rupanya seekor fetus yang gagal melahirkan. Dibawanyalah ke tanah dekat pot bunga dan diletakkannya sementara di situ untuk menghindari kemungkinan dari ancaman kami.

Dua hari setelahnya, mama saya memberi tahu kabar yang pahit ini kepada saya.

Saya kurang tahu alasan mengapa induk kucing ini bisa mati, tapi yang jelas kemungkinan besar karena dia kurang makan. Mama saya seraya berceloteh ke adik karena ia hanya sekadar memberi kasih sayang secara fisik, bukan dengan memberi makan. Memang akhir-akhir ini kucing-kucing liar yang tinggal di rumah jarang saya lihat diberi makan.

Selamat jalan, induk kucing yang entah dari mana munculnya. Semoga arwahmu tenang di sana ya.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s