Hilangnya rasa empati

Pagi ini, sekolah kedapatan pembina upacara yang tak biasa. Kalau biasanya kan pembina upacaranya kalau nggak dari jajaran guru atau staf BK. Nah, hari ini pembina upacara yang berasal dari staf tata usaha. Bapak ini kepala staf tata usahanya.

Pas beliau ngomong, kan suaranya rada-rada aneh gitu. Banyak siswa yang jadinya malah ketawa mendengar suara orasi bapak itu yang hanya sekadar memberi tahu kalau ada urusan administrasi yang belum juga diselesaikan diharap untuk segera diurus ke kantor staf tata usaha secepatnya. Sementara aku yang berdiri di barisan kelasku, diam-diam menangis. Seolah-olah aku merasa seperti beliau. Aku masih punya rasa empati. Karena suaraku juga lebih kurang mirip sepertinya. Parau. Beberapa orang di sekitarku nyengir atau lucu atau tertawa melihatku berbicara. Rasanya menohok apabila orang tersebut mengejek dan menertawakan suara kita. Aku rasa bapak itu, sekalipun dengan suara yang parau, bisa duduk di jajaran staf tata usaha karena kemampuannya. Namun siswa-siswa yang sedang berdiri mengikuti upacara ini, banyak di antara mereka yang justru menertawakannya. Saya miris melihat mereka.

Andai saja mereka seperti bapak itu, pasti mereka tak akan tertawa. Namun kenyataannya mereka tidak seperti bapak itu. Dan mereka juga tidak punya rasa empati dan menghargai.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s