Buka rekening karena auto-debet, eh, rupanya tak harus buka

Sudah mau dekat akhir masa sekolah di SMA. Pas pula beberapa hari setelah membayar uang sekolah untuk bulan Januari, eh, malah muncul penetapan aturan baru dari komite sekolah. Perpanjangan ruangan untuk kantor cabang Bank Sumut dan tentu saja pemberlakuan auto-debet – pemotongan saldo secara otomatis dari rekening yang dibuka di Bank Sumut untuk membayar uang sekolah.

Okelah kalau pemberlakuannya hanya untuk kelas X dan kelas XI. Mereka masih punya jangka waktu belajar yang lebih lama dibanding kami yang kelas XII. Tapi untuk kami? Yang tinggal enam bulan lagi? Kenapa musti membuat rekening Martabe di Bank Sumut dan kenapa untuk enam bulan ini enggak langsung ke kantor-tempat-membayar-uang-sekolah-yang-biasanya-saja? Kenapa?

Menjawab kebingungan kami semua, pihak kantor cabang Bank Sumut untuk SMA Negeri 1 Medan mengadakan sosialisasi terkait implementasi auto-debet untuk pembayaran uang sekolah pada hari Sabtu.

Hasil dari sosialisasi itu tidak menyurutkan pemikiran saya dan beberapa teman lain yang merasa dirugikan, mengapa musti membuat rekening Martabe yang konon hanya dipakai untuk enam bulan dan hanya untuk membayar uang sekolah? Tidak bisa menggunakan rekening yang sudah pernah ada, dan musti dibuat lagi di kantor cabang di SMA Negeri 1 Medan? Kenapa?

Pulang dari sekolah, saya langsung menyerahkan surat edaran dari komite sekolah terkait auto-debet tersebut ke orang tua saya. Dan orang tua saya pun memberi uang, ya, uang sekolah. Untuk membuat rekening di sekolah.

Untuk apa?

Beberapa hari setelah saya diberi uang sekolah, masih saja saya tahan uang tersebut. Saya simpan baik-baik dalam dompet dan uang tersebut tidak saya gunakan sama sekali. Saya masih menunggu, menunggu, dan menunggu. Menunggu uang jajan selanjutnya untuk membayar uang muka untuk membuka rekening.

Sampailah pada hari Minggu tanggal 1 Februari. Orang tua saya bertanya apakah saya sudah membuka rekening atau belum. Saya jawab belum. Orang tua saya memaksa dan memarahi saya dengan alasan kelalaian yang saya lakukan dan hendaklah urusan yang ada bisa dikerjakan sendiri tanpa dibantu orang lain.

Seninnya, saya bukalah rekening yang dimaksud itu.

Dan esoknya, tepat pada hari ini, saya tidak menyangka bahwa dari sekolah tersebut mengatakan hal yang awalnya disangkal-sangkal. Belum semua anak kelas XII yang membuka rekening. Dan sebagai akibat dari itu, maka anak-anak kelas XII yang belum membuka rekening di kantor cabang Bank Sumut agar bisa membayar seperti biasanya sampai tamat sekolah tanpa harus membuka rekening.

Sial.

Saya sudah terlanjur buat.

Lima puluh ribu pun sudah tersangkut dalam rekening itu.

Kalau saja saya bisa bersabar menunggu dan lebih aktif menanyakan apa teman-teman juga sudah membuat rekening, pasti saya tidak harus menunggu untuk membayar uang sekolah dari auto-debet yang serba merepotkan itu…

Advertisements

2 thoughts on “Buka rekening karena auto-debet, eh, rupanya tak harus buka

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s