Peringatan (terakhir?) untuk siswa SMA Negeri 1 Medan yang telat di zona waktu masuk sekolah kritis

Untuk informasi Anda, di sekolah saya masih saja ada masalah-masalah kesiswaan di hari-hari efektif sekolah. Seiring briefing berkala setiap pagi di hari-hari KBM jajaran staf dan guru menelaah, mengkaji, dan menimbang hal tersebut, maka pada satu keputusan di akhir semester, sekolah menetapkan sejumlah aturan yang baru untuk para siswanya. Termasuk aturan masuk sekolah yang kini dipercepat menjadi pukul tujuh. Tepat. Dan itu efektif dari awal semester tahun ini.

Efeknya besar sekali bagi SMA itu sendiri. Siswa yang semula datang terlambat menjadi datang lebih cepat dan lebih pagi. Dampak yang paling saya rasakan adalah jam-jam macet masuk sekolah berubah menjadi sedikit lebih pagi.

Awalnya sih saya bisa menyesuaikan waktu untuk datang lebih pagi. Namun, semakin hari saya masih sulit membiasakan diri dengan jadwal masuk yang baru tersebut. Namanya juga orang Indonesia, di mana-mana kalau tidak dibuat aturan yang keras maka individu-individu yang berada di dalamnya bakal susah diatur.

Dan saya pun mengalami keterlambatan untuk pertama kalinya di sekolah pada hari ini.

Saya terburu-buru berangkat ke sekolah pukul tujuh kurang lima belas. Untuk waktu masuk pukul tujuh lewat lima belas, hal itu masih mungkin untuk masuk. Namun mustahil untuk masuk saat waktu masuk sudah berubah.

Sepeda motor pun terpaksa saya kebut supaya bisa sampai tidak lewat dari waktunya. Dan tetap saja, saya terlambat lima menit.


Begitu sepeda motor saya parkirkan di tempat yang sedikit melenceng dari tempat parkir biasanya, saya terbirit-birit masuk sembari membuka jaket. Dan betul saja, guru-guru sudah mewanti-wanti anak-anak muridnya yang terlambat dan mengarahkan mereka untuk duduk di lobi. Saya pun terpaksa ikut-ikutan duduk di antara anak-anak yang bisa dibilang kategori terlambat di zona waktu masuk kritis. Pak Tarto dengan suara lantangnya menyuruh kami untuk melaksanakan kegiatan ibadahnya sesuai agama masing-masing.

Sekitar lebih kurang 300 siswa yang duduk dan berdiri di samping lobi karena sudah tidak menampung lagi.

Sambil membuka buku notes untuk mencatat apa yang sebenarnya terjadi, Pak David yang seharusnya berada di sebelah kiri barisan duduk anak-anak siswa, melangkah menuju ke depan pintu besar lobi ke lapangan. Di sana, Pak David memberi pengertian bahwa waktu masuk sekolah dipercepat dan guru-guru serta staf sekolah mengawasi anak-anak yang terlambat masuk pada zona waktu masuk sekolah kritis — selama lima belas menit –, karena mereka tidak mau melihat anak-anak siswa mangkir dari kegiatan ibadah yang harus dilaksanakan setiap paginya (kecuali Senin).

Beiiau juga menambahkan bahwa mereka tidak harus menjadi murid disiplin yang berlebihan. Asalkan mengikuti tata tertib yang ada dan mengikuti apa yang guru dan sekolah terapkan, sudah menjadi nilai bagus bagi diri sendiri dan martabat sekolah. Apabila ada guru yang melenceng dari aturan, maka siswa juga boleh mengikuti sikap dan apa yang guru lakukan. Tapi saya kurang setuju dengan pendapat ini, karena dengan mengikuti hal mereka yang salah justru membuat kita jatuh ke lubang yang sama dengan lubang kesalahan guru dan staf sekolah yang bersangkutan. Alangkah baiknya bila kita sebagai murid harus mengikuti apa yang baik-baik dilakukan oleh guru dan sekolah, dan menjauhi segala keburukan yang ada pada guru dan sekolah. Seperti ajaran agama yang mengajarkan kepada kita.

Oh ya, untuk para siswa yang datang di zona waktu masuk sekolah kritis (pk. 7.00-7.15) kata Pak David tidak dihitung sebagai siswa yang terlambat. Tetapi bagi yang datang lewat dari 7.15 (waktu masuk sekolah sebelumnya), maka siswa tersebut akan dianggap sebagai siswa yang terlambat. Tambahan, pakaian tak lengkap bakal dikenakan sanksi ringan mulai sejak pagi itu dibilang.


Opini saya mengenai pemberlakukan waktu sekolah baru yang lebih cepat ini, di satu sisi, sekolah memandangnya menjadi lebih tertib. Namun untuk faktor jalanan, saya rasa sama saja. Jalanan yang kurang lebar dan penempatan sekolah di jalan sempit membuat peraturan menjadi tidak sepenuhnya dapat diterapkan dengan penuh.

Harusnya sekolah, dalam hal taraf tenar menjadi sekolah yang paling dibanggakan se-kota Medan, harusnya bisa menggunakan ketenarannya untuk bekerja sama dengan Wali Kota (kalau bisa sih sekalian sama Gubernur), Dinas Perencanaan Tata Kota, Dinas Pendidikan, dan Dinas yang masih terkait dengan urusan pembangunan jalan, agar bisa mengatur alur jalan agar tidak terlalu padat kendaraan murid/wali murid/orang tua murid yang hilir mudik berdatangan. Ini tidak berlaku hanya di SMA Negeri 1 Medan saja, kalau bisa sekolah-sekolah yang bertitik pusat di jalan-jalan protokol juga dilakukan hal yang senada.

Memang pemerintah daerah harus siap dengan faktor-faktor sosial yang ada, seperti penggusuran rumah harus ditanggung walaupun tidak semuanya. Tapi Insya Allah, apabila pemda sanggup, maka masalah keterlambatan di sekolah dan lainnya dijamin bakal bisa diatasi dengan baik.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s