Menilik ormas Islam berdemonstrasi di depan bimbel bahasa Perancis dari sudut pandang pelajar SMA

Kejadian ini saya lihat langsung (walaupun tidak di tempat itu juga, hanya sekitaran 20-30 meter dari tempat itu) siang tadi, setelah saya balik dari jalan yang tak jauh dari persimpangan Ismud-USU. Dari jalan itu, saya mengambil arah memutar, lalu terus saja sampai nanti ada persimpangan wajib lewat kiri. Nah, di situlah tempat kejadian perkaranya.

Sekumpulan orang yang awalnya saya belum tahu dari mana sedang melakukan demonstrasi di depan sebuah gedung. Tampak juga sekumpulan polisi berjaga-jaga mengatur jalannya demonstrasi dan mengalihkan jalan ke kiri-kanan jalan. Kebetulan area jalan di sekitar bangunan-bangunan yang ada membentuk bujur sangkar.

Saya biasanya sering lewat sini. Tidak salah lagi, tempat tujuan demonstrasi masyarakat itu tidak lain dan tidak bukan adalah bimbingan belajar bahasa Perancis, Alliance française de Medan. Lalu mengapa mereka bermaksud demonstrasi di depan bimbel itu ya? Saya mencoba mencari tahu, sambil mengambil jalan memutar lewat sebelah kiri.

Setelah memutar, saya berhenti sebentar sebelum melanjutkan berkendara ke Jalan Majapahit. Melihat keadaan demonstrasi dari jauh, saya memandang mereka berasal dari golongan organisasi masyarakat yang memakai simbol keagamaan Islam. Kurang tahu persisnya dari ormas manakah, yang jelas mereka benar-benar memakai atribut tersebut.

Saya tertawa melihat apa yang mereka lakukan. Setelah melihat kurang dari semenit, saya meninggalkan tempat itu dan pulang menuju ke rumah. Kebetulan saya tidak (ingin) mengambil foto tersebut dikarenakan keselamatan saya sebagai seorang pelajar SMA terancam.

Apabila ditanyai pendapat penggerebekan editorial Charlie Hebdo oleh orang-orang Islam radikal yang tak tahan dengan satir bersifat ofensif yang mereka buat, saya amat menyayangkan perilaku dari kedua sisi. Apabila ditilik dari sisi editorial, saya tidak setuju dengan karya-karya yang mereka ciptakan namun juga tidak adil apabila dibunuh oleh warga sipil (kecuali dibantu dengan kudeta dari pemerintah setempat). Begitu pula dengan sisi warga sipil yang menyerang, saya juga menyesali apa yang mereka perbuat. Di samping mereka, dengan maksud baik ingin melawan “apa yang mereka buat”, namun dalam konteks Islam sebenarnya, tentu salah bila mereka langsung menyerang begitu saja. Islam mengajarkan kedamaian. Dan mereka, dengan berpikiran dangkal, salah menempatkan konteks membela agama mereka di zaman informasi yang tentu lebih mengandalkan pikiran daripada fisik di peperangan.

Dan jujur saja, saya lucu melihat mereka-mereka ini berdemonstrasi di depan bimbel bahasa Perancis. Ada beberapa poin yang ingin saya terangkan, mengapa aksi mereka ini dapat dijadikan bahan tertawaan. Tentunya dari sudut pandang saya.

  • Mengapa berdemonstrasi di depan bimbingan belajar bahasa Perancis, yang konon hubungannya dengan Kedubes hanya sebatas di bidang akademik/kebudayaan? Mengapa tidak langsung berdemonstrasi di kantor Kedubes/Konsulatnya Perancis? Saya pikir Alliance française de Medan bukanlah tempat yang cocok untuk menyampaikan aspirasi mereka. Alliance française de Medan adalah institusi/lembaga pendidikan yang mempunyai ikatan pendidikan/kebudayaan dengan kerjasama Indonesia-Perancis, bukan tempat perwakilan Perancis untuk Indonesia secara langsung. Justru tempat yang benar itu ialah Konsulat Perancis yang berkantor di lantai enam gedung Bank Sumut. Harusnya mereka berdemonstrasi di depan gedung Bank Sumut, bukan di Alliance française de Medan!
  • Untuk apa mereka berdemonstrasi, mendukung ummatnya yang “telah berjuang” di sana, padahal oleh moral dan akal pikiran sehat dianggap salah? Saya menilai, sebagian dari anggota ormas tersebut, setelah melihat kasus Charlie Hebdo, memboyong mayoritas anggota dari ormas tersebut hanya sekadar ikut-ikutan untuk ikut membela umat yang berada di belahan bumi Eiffel, meminta pertanggungjawaban dari negara Perancis untuk bersikap adil terhadap mereka. Saya pribadi tidak sama sekali menyimak apa yang disampaikan mereka secara langsung, oleh karena itu pernyataan yang tidak saya tulis tebal ini belum sepenuhnya benar dan hanya anggapan oleh saya. Dan menurut saya, tidak salah bila pemerintah Perancis bertindak sesuai hukum dan netral (karena Perancis merupakan negara sekuler).
  • Tidak bisakah mereka menggugat dengan cara yang lebih enak dilihat, seperti membuat petisi, di samping melakukan demonstrasi? Sebagai anggota ormas Islam yang rata-rata hanya bermental ikut-ikutan, tentu tidak terpikirkan oleh mereka untuk membuat petisi seperti warga sipil lainnya. Demonstrasi hanya mungkin terjadi bila segolongan anggota yang dirasa lebih tinggi derajat pemikirannya mengajak dan menggalang saudara-saudaranya untuk menyampaikan aspirasinya dengan demonstrasi ketimbang membuat petisi, yang belum tentu ada orang yang mau ikut petisi mereka.

Sebagai saudara seagama, saya prihatin sekaligus ingin tertawa melihat aksi-aksi mereka yang tidak diperhitungkan terlebih dahulu dari segi tempat maupun dari segi apa yang mereka ingin demonstrasikan. Kalau saja mereka jauh lebih pintar, tentu mereka lebih baik dalam memilih tempat demonstrasi. Kalau bisa, tidaklah perlu demonstrasi. Cukup dengan bijak menanggapi sesuai kondisi dan pemahaman agama masing-masing.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s