Sesuatu itu tanpa arti

Biru. Di sekelilingku tampak berwarna biru. Aku tak melihat apapun selain diriku dan warna biru.

Gumpalan-gumpalan udara menyembur dan mereka terangkat menjauhi aku. Sepertinya mereka berasal dari mulutku.

Ketika aku melihat ke atas, tampak cahaya datang menyinari dari atas. Semakin lama cahaya meredup, hawa yang kurasakan semakin dingin.

Aku tak percaya kalau aku tenggelam. Benarkah demikian?

Biarlah aku mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi…


Pada siang yang terik di sebuah pohon besar di halaman sekolah, aku antusias sekali mendengar cerita sepasang kawanku. Mereka bercerita tentang sumur di belakang gedung sekolah yang ternyata ada sesuatu di sana. Aku sendiri belum pernah datang dan melihat isi sumur itu, makanya aku penasaran sekali dengan cerita dua temanku itu.

Melihat sikapku, mereka bermaksud ingin mengajakku dan melihat sesuatu yang ajaib itu keesokan harinya. Awalnya aku menolak karena aku baru ingat besok aku musti mengikuti les piano. Tapi mereka memaksaku.

Aku menolak untuk kedua kalinya. Mereka tetap saja memaksaku, kali ini dengan muka memelas.

Akhirnya rasa penasaran dan dorongan keterpaksaan dari mereka pun tak dapat kutahan. Aku mengikuti kemauan mereka. Kami bertiga berjanji, esok hari kami akan bertemu di sumur di belakang gedung sekolah, melihat apa sebenarnya ‘itu’.


Pukul satu siang. Bel berbunyi. Seluruh siswa SMA Santo Bernavius dipersilakan untuk pulang. Sementara aku dan dua temanku berjanji untuk bertemu di belakang gedung sekolah.

Aku tak melihat ada sumur di belakang sekolah. Aku coba tanyakan sumur itu pada bang Petrik sang penjaga kebun sekolah. Ternyata sumur itu bukan di belakang gedung sekolah. Melainkan di gudang sekolah. Gudang itu berada di dua kilometer dari sebelah barat sekolahku.

Sampai di sana, lagi-lagi aku harus menunggu mereka. Sebal! Padahal mereka yang pertama mengajakku, tapi mereka pula yang telat. Dasar.

Ketika mereka berdua membuka pintu gudang sekolah, aku melihat jamku secara refleks dan waktu menunjukkan pukul dua kurang sepuluh menit. Mereka telat dua puluh menit dariku. Untunglah aku masih baik dengan mereka sehingga aku bisa maafkan ketelatan mereka.

“Nana, Erika, apa yang ingin kalian tunjukkan di sumur itu?” tanyaku.

“Yuk kita lihat bersama-sama. Nanti kau juga akan tahu sendiri.” jawab Nana.

Kami bertiga melangkah menuju sumur itu.


Ketika kami bertiga sudah dekat dengan bibir sumur, tanpa sadar, aku didorong dengan kuat oleh Nana. Erika menjambak rambut lurusku dengan keras dan menarik rambutku sampai memasuki bibir sumur. “Ahhhhhh! Hentikan!”

Teriakanku tak berguna. Pintu gudang tertutup rapat. Gudang jauh dari sekolah, membuat orang sulit mendengar teriakanku. Dorongan Nana dan tarikan tangan Erika membuatku terjatuh dan memasuki sumur itu. Tanpa kusangka, ternyata sumur itu berhubungan langsung dengan Danau Lefriri yang terkenal akan kedalamannya.

Aku hanyut. Tenggelam di dalam sumur.

Terdengar samar-samar suara tawa Nana dan Erika dari luar permukaan air. Sepertinya mereka bangga telah melenyapkan teman mereka yang selama ini menjadi pengganggu di antara mereka. Tanpa kusadari, senyuman dan tawa mereka selama ini berakibat fatal bagi diriku.

Perlahan pandangan mataku mulai kabur. Oksigen di dalam paru-paruku mulai menipis. Aku tak bisa bernafas lebih lama. Dan tak mungkin ada yang bisa menolongku dari sumur yang menyatu dengan danau.

Dan akhirnya, aku tak bisa melihat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap gulita.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s