Doh, keteteran minta rapor asli!

Niat saya hari ini adalah melunasi syarat-syarat untuk mendaftar menjadi mahasiswa baru di Universitas Telkom. Saya sebenarnya ingin masuk ITB, bagaimanapun caranya, entah itu melalui jalur SNMPTN/undangan maupun SBMPTN/ujian tertulis. Tapi orang tua mana yang tidak ingin anaknya kuliah di universitas bergengsi. Maka untuk mengantisipasi seandainya tidak jebol di perguruan tinggi negeri yang diinginkan, saya disarankan mendaftar juga di Universitas Telkom untuk berjaga-jaga.

Sebelumnya sudah jauh-jauh hari saya sudah diingatkan terkait masalah mencari universitas, bagaimana cara daftar, dan sebagainya. Namun dasar saya amat malas, sehingga jauh tertinggal dengan kakak saya yang bersemangat membantu saya meraih asa yang diinginkan. Di saat mendekat tenggat waktu, di saat itu pula saya baru sadar diri dan mendaftar. Ah, setidaknya lebih baik dibandingkan terlambat sama sekali, pikir saya.

Kembali ke syarat-syarat yang harus saya penuhi.

Mengisi data diri, sudah.

Mengisi data sekolah, sudah.

Memilih PIN sesuai jurusan/prodi yang dipilih, sudah.

Membayar pembelian PIN, sudah.

Memilih jurusan/prodi dan menetapkan biaya kuliah, sudah.

Tinggal mengunggah berkas rapor dan rekomendasi. Setelah itu, selesai sudah. Tenggat waktu pendaftaran Ujian Saringan Masuk Kemitraan di Universitas Telkom tinggal menghitung dua jari. Dan saya masih kesulitan untuk mengunggah berkasnya.

Saya masih bingung, apakah berkas fotokopi rapor yang sudah dipindai/discan, apakah harus dilegalisir atau tidak.


Pagi hari ini, saya coba urungkan niat untuk memberi berkas fotokopi rapor pada bapak saya dan menunggu waktu pulang sekolah untuk bertanya kepada panitia SMB Telkom.

Sepulang sekolah, setelah menyalami guru kesenian, saya kembali ke meja saya, mengambil notes dan hape, dan mencari tempat yang pas untuk mendapat sinyal yang pas saat menelpon panitia.

Di percakapan telepon saya dengan panitia, saya mendapat jawaban: untuk rapor yang sudah dipindai adalah rapor asli, tidak perlu dilegalisir, sedangkan untuk rapor yang sudah dipindai adalah fotokopi rapor perlu dilegalisir.

Beberapa hari lalu, rapor asli sudah harus dikumpul karena alasan mencegah dari masalah kehilangan dan mengurusnya kembali. Dan sehari sebelum rapor dikumpul, saya sudah memfotokopinya. Tapi tidak saya pindai karena alasan sudah kepepet waktu (dan tidak ada inisiatif serta kepikiran untuk memindainya). Oleh karena itu, saya perlu fotokopi rapor yang saya miliki untuk dilegalisir, sehingga memenuhi syarat setelah dipindai dan diunggah ke situs pendaftaran.

Awalnya saya coba tanya ke kantor BK, di mana saya bisa melegalisir fotokopi rapor saya. Saya sebenarnya sudah tahu sih di mana, tapi tetap saya sepasang kaki saya melangkah masuk beberapa senti ke ruangan BK dan tetap membuka mulut saya. Maafkan kebegoan saya.

Dari kantor BK saya keluar, lalu melangkahi sepanjang jalan samping sekolah. Memutar melalui pintu di dekat kantin, Melewati kantor jajaran wakil kepala sekolah beserta staf dan lobi. Sampai akhirnya saya sampai dan memasuki kantor tata usaha.

Dengan suara sedikit lirih, saya coba bertanya pada ibu staf tata usaha yang sibuk berkutat dengan pekerjaan di meja kerjanya. Katanya, jika ingin melegalisir, harus ada menunjukkan rapor yang asli. Beliau menambahkan, apalagi saat itu ibu kepala sekolah sedang tidak ada di tempat. Ibu itu menyarankan saya agar mencoba lagi esok untuk melegalisir.

Saya teringat, rapor asli itu dikumpul dan dipegang Bu Guti. Maka saya coba tanya kepada Bu Guti. Lagi-lagi ibu itu tidak memberikan saya jawaban yang memuaskan. Bu Guti bilang, nggak perlu legalisir. Saya kan masih di area sekolah. Lain cerita kalau saya sudah di luar. Saya coba tanya seandainya saya sudah punya fotokopinya, apakah bisa langsung dilegalisir. Kata beliau, bisa.

Saya balik lagi ke kantor tata usaha untuk meminta legalisir. Tetap jawabannya seperti yang tadi. Tidak bisa kalau tidak menunjukkan rapor asli. Salah seorang staf tata usaha bertanya ke saya, untuk apa dilegalisir. Saya bilang, sebagai syarat untuk mendaftar di Universitas Telkom. Staf tersebut mengatakan pasti akan diperlancar urusannya kalau untuk itu keperluannya. Ya… tapi, mau bagaimanapun juga, batas mendaftarnya sudah hampir kepepet. Untungnya saya coba minta hari ini. Sempat saya minta esok, sudah habislah saya di depan orang tua.

Lagi-lagi saya kembali lagi ke kantor staf wakasek untuk menemui kembali Bu Guti terkait mengambil rapor asli untuk diminta legalisir. Konon saya sudah beri penjelasan dari apa yang sudah disampaikan staf di kantor tata usaha. Akan tetapi, Bu Guti berkata lain. Rapor asli musti didapat dari izin persetujuan wali kelas dan baru bisa diperoleh dari Pak Sabar. Hadeh…

Bolak-balik dua kali, ke kantor tata usaha dan kantor staf wakasek, dan ujung-ujungnya minta izin wali kelas dulu?

Saya lelah.


Tidak berhasil mendapatkan legalisir dari kantor tata usaha, saya melangkah kembali ke kelas. Tidak ada hasil. Tidak ada rupa. Tidak ada apa-apa. Hanya dahaga dan kesia-siaan yang didapat.

Saya coba mengeluarkan keluh kesah saya pada teman-teman. Salah satu teman saya bilang, ada temannya yang sekalipun minta rapor asli ke sana sini sendirian, hasilnya tetap tidak dikasih. Padahal ibu staf tata usaha tadi bilang, kalau saya tidak diperbolehkan mengambil rapor asli kembali, nanti akan dibantu oleh salah satu staf tata usaha. Dua pernyataan yang bertentangan. Ah, daripada tidak sama sekali, mending saya hubungi saja orang tua saya.

Saya telepon ibu saya, dan alhamdulillah, setelah ibu saya menelpon wali kelas, kelihatannya baik-baik saja. Tinggal bagaimana esok saya meminta izin kepada wali kelas nantinya.

Haaah. Kalau saja saya lebih tahu informasi pendaftaran dan lebih sigap, pasti kejadian seperti ini takkan terjadi lagi.


Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s