Ketika mim dijadikan ajang kompetisi oleh sebuah institusi pendidikan tinggi negeri Indonesia

Ketika mim dijadikan ajang kompetisi oleh sebuah institusi pendidikan tinggi negeri Indonesia

Bagi kebanyakan orang yang menggunakan Internet sebagai kebutuhan utamanya di zaman informasi ini tentu tidak merasa asing lagi dengan kehadiran mim, atau orang lebih banyak menyebutnya dengan meme.

Jika ditafsir, pengertian mim di Indonesia berbeda dengan pengertian mim secara universal. Menurut kamus Merriam-Webster, mim merupakan satu ide, gaya, atau perilaku yang menyebar dari orang ke orang pada satu kultur atau budaya. Itu berarti sesuatu yang diciptakan kemudian ditiru oleh orang banyak, dan hasil tiruan-tiruan itulah yang disebut dengan mim.

Ada banyak macam jenis mim, dan itu tidak hanya berupa gambar saja. Bisa jadi berupa perkataan, perilaku, suara, video, dan lain sebagainya.

Sedangkan di Indonesia, mim dianalogikan sebagai suatu karya seni yang meniru dan mengikuti konsep apa dan pola yang sudah diciptakan oleh pembuat, bertujuan semata-mata untuk menghibur bagian lapisan masyarakat yang dituju.

Mim umum secara universal tidak ditujukan untuk semua kalangan; hanya sebagian lingkup masyarakat yang menyebarkan dan menerapkan ulang baik masih dalam bentuk aslinya maupun buatan mereka sendiri. Begitu juga di Indonesia dengan mim sebagai karya seni.

Menariknya, di Indonesia, konten-konten mim yang hanya tiruan dari mim yang sudah diciptakan lama oleh orang-orang di luar Indonesia, dikategorikan sebagai sesuatu miliknya dan dapat dikomersilkan pula. Padahal mim merupakan bentuk perwujudan dari sebuah hal yang menyebar luas, berevolusi, dan berlipat ganda dengan variasi yang sangat beragam.

Kalangan penyebar dan penikmat mim di Indonesia pun terbagi atas tiga macam: kalangan yang mengikuti semua aliran mim; kalangan yang mengikuti mim hanya di Indonesia saja; dan kalangan awam yang tidak paham sama sekali mengenai perkembangan mim alias kalangan non-netizen.


Sebetulnya tidaklah menjadi hal yang asing bila mim dijadikan sebagai ajang kontes atau kompetisi. Apabila Anda mengecek di mesin pencari Google dengan kata kunci ‘meme competition’, tentu sudah banyak sekali pencarian yang bisa Anda temukan. Ada sekitar enam juta hasil pencarian terkait dengan kompetisi atau lomba mim.

Sedangkan jika Anda mencarinya dengan kata kunci ‘lomba meme’, ‘kontes meme’, atau ‘kompetisi meme’, tentu hasilnya jauh lebih sedikit, hanya 200-400 ribu hasil pencarian dibandungkan dengan mencari dengan kata kunci dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya secara keseluruhan.

Dari sekian banyaknya kontes, lomba, atau kompetisi membuat mim di Indonesia, perhatian saya tertuju kepada kompetisi mim yang diadakan oleh sebuah institusi pendidikan negeri di Indonesia, yaitu Sekolah Tinggi Akutansi Negara.

Mungkinkah bila STAN digadang-gadang sebagai institusi pendidikan yang pertama menjadi penyelenggara kompetisi mim? Bisa jadi, untuk publik pertama kalinya.

Kalau untuk kalangan internal yang ada di instansi/institusi/lembaga pendidikan lainnya, saya rasa sudah banyak yang membuat hal serupa. Bedanya, tidak ada disebutkan kata mim atau meme, melainkan dalam bentuk komik strip atau lainnya.

Bukankah Anda sudah tahu, selepas membaca pengertian mim di teks sebelumnya, mim itu secara universal bukan hanya karya seni saja, tetapi aspek-aspek budaya lainnya juga ada?


10419399_1526763807572176_4784653903258534729_n (1)
Lomba MEME (MEmerangi dan MEnertawakan) Korupsi mulai mencuat di linimasa medsos sejak 12 Desember 2014. Sumber: laman Facebook MEME Korupsi.

Untuk pertama kalinya, kompetisi membuat mim dari STAN muncul di linimasa medsos sejak minggu kedua Desember 2014. Melalui laman Facebook bernama MEME Korupsi, STAN mengajak seluruh mahasiswanya beserta alumni, organda, elemen kampus, dan pegawai Kemenkeu untuk bersaing dalam membuat mim bertema melawan korupsi.

Karena acaranya masih baru dan eksklusif hanya untuk segelintir kaum STAN saja, lomba membuat mim ini tidak terlalu ramai. Namun, setelah empat hari acara berlangsung, panitia mengubah aturan untuk partisipan. Tidak hanya dari internal STAN saja yang boleh ikut, tetapi masyarakat umum juga boleh mengikutsertakan hasil karya mimnya di laman Facebook MEME Korupsi.

Kontes ini berlangsung sampai 9 Januari 2015, diikuti dengan masa nominasi dengan jumlah suka, bagi, dan komentar terbanyak yang ditutup sampai tanggal 11 Januari 2015 pukul 12 siang WIB.

Sistem acaranya: Anda membuat mim apa saja, bertema bebas namun tetap merujuk kepada tema, boleh buatan sendiri atau sudah dibuat sebelumnya, tidak menyinggung SARA dan pihak tertentu, dibuat dengan format JPEG ukuran setara A4 resolusi 300 ppi, lalu dikirimkan ke surel panitia MEME Korupsi dengan mencantumkan identitas diri. Mim yang sudah masuk ke surel akan dipublikasikan ke medsos MEME Korupsi.

Untuk delapan karya pemenang beserta karya lainnya yang terpilih juga akan ditampilkan di lingkungan kampus STAN pada hari Selasa, 13 Januari 2015 dan di Car Free Day di Jl. Sudirman – Thamrin pada hari Minggu, 18 Januari 2015.


Terhitung sejak kontes mim dimulai sampai pukul 12 siang WIB hari ini, karya mim yang sudah dipublikasikan sudah mencapai 141 buah.

Dari sekian banyak publikasi mim yang sudah saya lihat di laman Facebook MEME Korupsi, banyak yang membuat mim berdasarkan inspirasi yang didapat atau hasil pemikiran awam para pembuat mim. Hanya beberapa orang saja yang membuat mim dengan menggunakan aliran-aliran seni seperti avant-garde serta permainan kata dan makna kiasan gambar-gambar yang digunakan dalam mim.

Mim yang menggunakan aliran avant-garde (baru dan tidak biasa).
Mim yang menggunakan aliran avant-garde (baru dan tidak biasa). Kredit pada Adhitya Daniel.

Pada mim tersebut pun hanya segelintir orang yang ada di lingkaran pertemanan orang yang terlibat atau dilibatkan dalam mim tersebut, entah itu dari komunitas game, anime, Jejepangan, maupun budaya pop culture. Begitu juga dengan teman-temannya yang mendukung.

Mim dengan menggunakan pun (permainan kata) dan trope (kiasan) dari tokoh mim, bendera, dan corak latar belakang gambar.
Mim dengan menggunakan pun (permainan kata) dan trope (kiasan) dari tokoh mim, bendera, dan corak latar belakang gambar. Kredit pada Javier Ferdano.

Saya sempat melakukan rekapitulasi sendiri sekitar pukul sepuluh sampai sebelas pagi WIB hari ini (Anda bisa melihatnya di sini) dan menghitung jumlah suka di semua karya mim secara keseluruhan sebanyak 1014, jumlah bagi kiriman di semua karya mim secara keseluruhan sebanyak 1110, dan jumlah komentar di semua karya mim secara keseluruhan sebanyak 721.

Tak luput juga dari kacamata saya, saya cantumkan juga prediksi siapa saja delapan orang yang berhak untuk memenangkan kontes mim ini.

Untuk prediksi pemenang secara umum (jumlah suka + bagi + komentar), juara satu jatuh kepada Nur Jr. Saya sendiri kurang tahu siapa teman yang saya kenal telah membagikan atau menyukai karya mim ini, tapi yang jelas, jejaringnya banyak sekali dan juga interaktif.

Lalu, juara dua sepertinya bakal dikantongi Ferdi Alexander. Saya cuma kenal beliau dari lingkar pertemanan temannya saya, di mana beliau sering juga membuat mim-mim satir di Indonesianball, kalau saya tidak salah. Mim yang satu ini kembali mengingatkan saya akan foto fenomenalnya Novendra yang terkenal sebagai seorang hacker cilik jadi-jadian.

Juara ketiga tampaknya disusul oleh Ivan Liem. Seorang gamer merangkap pemilik lapak game. Aktif di sebuah komunitas game orisinal. Kecintaannya dengan loli menjadikannya membuat mim dirinya dengan kombinasi catchphrase korupsi dengan loli.

Lanjut ke prediksi pemenang favorit (jumlah suka paling banyak). Juara pertama sepertinya diraih oleh Tridoyo. Mimnya tidak terlalu menghibur. Hanya saja, dengan menggunakan catchphrase yang tepat, pesan gambarnya langsung mengena di pikiran.

Juara kedua disusul oleh Nur Jr, lagi.

Juara ketiga mungkin akan dikantongi oleh Aryani Putri Islami dengan gambarnya, yang mungkin bisa saya bilang buatan sendiri?

Lalu, juara keempat tampaknya akan dikantongi Ferdi Alexander dengan gambar yang sama dengan nominasi sebelumnya.

Dan terakhir, juara kelima dilihat-lihat dimenangkan oleh Arif Setiawan. Tidak menggunakan kiasan gambar mim dari manapun, hanya menggunakan gambar pribadi dan dokumentasi dari stasiun televisi lokal.


Terlepas dari itu semua, masih belum jelas apakah pemenang yang sudah menang di kategori umum, bisa menang lagi di kategori favorit? Jikalau ya, pemenang bakal disortir menjadi enam pemenang saja. Sedangkan apabila tidak, pemenang akan digantikan dengan karya mim dari Ahmad Habiballah dan Javier Ferdano. Kita lihat saja hasil akhir keputusan panitia kontes seperti apa nantinya.

Demikian penjelasan singkat dan analisis saya mengenai mim dan kontes mim dari STAN.

Advertisements

One thought on “Ketika mim dijadikan ajang kompetisi oleh sebuah institusi pendidikan tinggi negeri Indonesia

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s