Modar setelah pertama kalinya mengurus SIM

Sebetulnya tidak sendiri juga sih. Kalau tidak ada kenalan papa saya (yang mungkin saja saya mengiranya sebagai orang dalam), saya tidak semudah ini membuat SIM di kantor Satlantas Polresta Medan.

Ternyata, jauh-jauh hari papa sudah bilang ke kenalannya untuk mendaftarkan saya di kantor Satlantas agar saya bisa mengikuti ujian tes tulis dan ujian prakteknya. Saya, yang lagi-lagi masih sering molor di kasur, malah biasa saja dan tidak ada persiapan sama sekali. Membaca panduan saja cuma sekali, bagaimana dengan menghadapi ujian tes tulisnya, pikir saya.

Malamnya, saya tidur agak cepat. Yah, cepat dalam taraf biasanya. Toh saya tidurnya juga pukul sepuluh malam. Ahahahaha.


Besoknya, saya bangun pagi-pagi. Saya mandi dan sarapan lebih awal, kurang lebih sama seperti saya mau pergi ke sekolah. Pukul setengah delapan saya sudah berangkat dari rumah menuju kantor Satlantas.

Sempat bingung juga nih, setelah persimpangan empat kan nanti belok kiri. Nah, sudah belok nih. Terus… apakah kantornya di sebelah kanan itu? Ah, saya rasa bukan. Itu kan kantor polisi, bukan kantor Satlantas. Saya coba cari dulu sebelum tanya ke penduduk sekitar, dan ketemulah saya kantor Satlantasnya. Saya coba konfirmasi ke kenalan papa saya. Dia bilang benar.


Oke, jadi saya tunggu nih sebelum mempersiapkan SIM. Saya nggak tahu sebelumnya; saya tidak ada dibilang apa-apa, tidak melihat caranya di papan prosedur, dan tidak mau nanya pula itu. Sedih sekaligus rasa malunya terasa di saat saya sudah ditelepon oleh seorang yang tergabung dalam jaringannya kenalan papa ini. Saya disuruh masuk saja ke kantor Satlantas, belok kanan, masuk ke ruangan di kiri, terus masuk ke ruangan di depan mata, terus temui ibu Eva. Yaudah saya langsung ambil langkah saja tanpa persiapan.

Dan ternyata, saya nggak tahu. Kalau ternyata saya musti ujian dulu. Saya kira, asal terima langsung jadi saja. Kan saya mau buat SIM, musti ikuti ujiannya dulu. Duh!

Saya malu banget ketika sudah masuk ruangan tes tertulisnya langsung tanpa dipanggil terlebih dahulu. Saya sempat bertanya dan linglung ketika ditanyai petugas dan ibu Eva sendiri, atas alasan apa saya masuk sembarangan. Malu, malu banget.

Saya kembali lagi ke luar, menemui orang yang tadi sempat saya temui. Seorang ibu-ibu gemuk berjilbab, berperawakan cukup tua. Beliau bilang, yaudah tunggu saja di ruangan itu. Hadeh, beginilah kalau saya ikut-ikutan kongkalikong. Saya pikir mendingan saya daftar sendiri saja, atau suatu saat nanti saya mendaftar di Bandung.

Saya pun kembali ke ruangan yang tadi. Baru sadar, saya yang mau buat SIM ini ternyata tidak bawa pulpen. Lah, bagaimana mau ikut ujian, sedangkan pulpen saja tidak ada? Saya kebingungan.


Rasa bingungnya masih saya bawa setelah saya duduk di antara para peserta ujian tertulis. Kebetulan saya duduk di paling belakang, jarak saya dengan peserta ujian yang lain cukup jauh, dan di sudut pandang mata saya cuma ada peserta ujian yang duduk di sebelah kiri.

Saya coba pinjam, eh rupanya dia cuma punya satu.

Kegelisahan saya semakin membesar ketika salah seorang petugas Satlantas tengah membeberkan sejumlah aturan saat mengisi lembar jawaban ujian tertulis. Mau tak mau, saya memberanikan diri meminjam pulpen kepada kakak yang tadi sempat heran melihat saya tiba-tiba masuk ke ruangan ujian tertulis. Ibu Eva sempat marah dan menyuruh saya membeli pulpen di luar. Tapi, di saat saya sempat mengeluarkan kaki saya untuk segera membeli pulpen, tiba-tiba kakak itu malah mau meminjamkan pulpen itu ke saya, asalkan nantinya dibalikkan. Oh Tuhan..

Walau demikian, perasaan saya masih bercampur aduk, antara gelisah, takut, malu, dan bingung. Semuanya tertuang saat saya mengisi lembar jawaban yang soal-soalnya pun masih saya ragukan untuk saya jawab. Jawaban saya hampir semuanya belum tentu benar. Saya yakin, pasti ada yang salah. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di salah satu jawaban ini ada yang benar. Saya galau.


Usai ujian tertulis, saya kembali bingung. Balik ke luar menemui kenalan papa dan bertanya instruksi selanjutnya, atau menunggu saja di sini? Saya sempatkan untuk menunggu di ruangan tunggu tanpa mengetahui alasan yang jelas. Malah, saya sempat bolak-balik menemui kenalan papa di luar dan beliau pun menyuruh saya balik dan sebaiknya menunggu di sana. Dan, setelah balik, saya baru sadar. SAYA BELUM BELI PULPEN! Saya berlari ke luar, mencari orang yang menjual pulpen. Beruntung saya menemukan sebuah mobil yang menjual rokok, yang ternyata saat saya tanya juga menjual pulpen. Buru-buru saya balik lagi ke ruangan tadi. Dan ternyata, dipanggil lagi. Selanjutnya untuk ujian praktek.

Ah ya. Untuk selanjutnya sepertinya saya cukup mengikuti orang-orang yang juga mengikuti tes ujian tertulis yang sama seperti saya juga. Kurang lebih juga pasti sama kan prosedurnya, pikir saya.

Saya bersama yang lain menuju ke tenda merah, mengisi formulir ujian praktek mengemudi sepeda motor. Saat itu, yang dipanggil untuk memakai rompi barulah empat orang. Setelah memakai rompi, kami berempat bersama pengawas ujian menuju ke tempat ujian prakteknya.

Awalnya sih udah siap banget nih. Saya tinggal mengikuti instruksi petugas. Sebelum dites, petugas mengajarkan cara terbaik untuk mengendalikan sepeda motor dengan menjelaskan fungsi dua rem yang berbeda pada motor bebek. Tak hanya itu, dia juga mempraktekkan bagaimana cara mengendarai sepeda motor dengan trek membentuk angka delapan, melewati rintangan, dan drag.. lalu melewati rintangan kembali. Tentunya dengan kondisi mulus.

Saya tidak ingin mencoba dulu sampai ada orang yang sudah melakukannya. Untungnya si petugas memanggil seorang pemuda untuk diuji duluan. Saya lihat… tampaknya pemuda ini mampu tapi nyatanya tidak bisa melakukannya dengan baik. Dia seolah-olah meremehkan hanya karena sepele bisa dengan mudah melakukan hal ini. Si petugas hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Saya lihat lagi seorang pemuda yang kedua, dites. Bisa sih, tapi ya walaupun nggak bagus, setidaknya lebih baik dari orang yang tadi.

Di tengah-tengah pemuda yang kedua dites, petugas meninggalkan tempat. Tiba-tiba muncul hujan. Sedangkan saya dan satu orang perempuan belum lagi dites. Saya masih mikir, bagaimana hasil tes ujian prakteknya.

Kami berempat kembali ke tenda merah, melepas rompi yang dipakai oleh kami. Petugas memberi setiap orang dari kami secarik kertas berupa nomor pendaftaran. Lalu kami berempat menuju ke ruang pengambilan SIM. Saya duduk di kursi sambil menunggu giliran saya untuk difoto.

Nah, di sinilah keraguan terbesar saya. Kalau sudah ada kongkalikong, saya jadi ragu, apakah saya bisa buat SIM dengan jawaban ujian tertulis/teori saya yang rada-rada samar-samar, dan juga kenihilan performa di ujian praktek saya karena belum melakukannya. Keraguan saya bercampur aduk saat saya menunggu berkas saya sudah sampai di tangan petugas dan ada petugas yang memanggil nama saya.

Saya tunggu dari pukul sembilan sampai pukul dua belas. Belum dipanggil juga.

Saya istirahat dulu, solat Zuhur, dan kemudian kembali lagi ke kantor Satlantas.

Kembali ke sana, saya mesti menunggu lagi. Dan alhamdulillah, anehnya saya dipanggil juga. Saya jadi ragu dengan diri saya sendiri. Bahkan setelah saya sudah berada di tempat duduk, layaknya sesi foto saat pembuatan KTP dan paspor.

Pulang dari sana, saya malah merasakan pusing bukan kepalang mainnya. Gara-gara terlalu larut memikirkan betapa ribetnya ya kongkalikong saat mengurus SIM.

Memang sih, ngurus SIM tanpa ada orang dalam bakal jauh lebih susah di kantong. Tapi kalau sudah kenal ada orang dalam, kantong bukan jadi masalah. Yang penting urusan kelar. Dan saya malah terlarut dalam kepeningan memikirkannya. Pffft.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s