Menentukan arah dan tujuan mendatang dengan memasuki ekskul tertentu

Bagi kamu yang baru saja memasuki masa-masa SMA/SMA, hal pertama yang kamu pikirkan tentu adalah kebebasan yang amatlah indah. Mungkin kamu bakal lebih tidak terkekang dibanding saat kamu berada di SD atau SMP. Kamu bisa lebih bebas melakukan suatu hal, yang sebelumnya tidak diperbolehkan atau tidak ada kesempatan buat kamu untuk melakukannya. Namun di saat SMA, kamu bisa dan bebas melakukannya sekarang.

Semua berubah ketika kamu disuruh memasuki ekskul, setidaknya satu ekskul saja. Mungkin hal ini sepele. Mungkin kamu berpikiran, untuk apalah mengikuti ekskul ini. Toh hanya membuang-buang waktu, dan enggak ada gunanya sekarang. Tapi cobalah berpikir ke depan. Pikirkan bahwa ini sebenarnya penting buat bekal kamu yang ingin mempersiapkan diri tidak hanya dengan kemampuan akademis, namun juga kemampuan non-akademis seperti pengalaman organisasi, bergaul, dan berinteraksi.

Merupakan sebuah kewajiban bagi seorang pelajar untuk mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi di sekolah, karenanya memasuki ekskul/organisasi termasuk dalam nilai rapor. Banyak sekolah yang menganut kurikulum nasional menerapkan kebijakan seperti itu. Apalagi nilai ekstrakurikuler juga termasuk dalam nilai pertimbangan saat memasuki suatu perguruan tinggi negeri. Termasuk di sekolah saya tercinta.

Di sekolah saya, yang mana termasuk salah satu sekolah negeri yang tersohor, memiliki sekian banyak ekstrakurikuler yang dapat dimasuki. Mulai dari ekskul kerohanian sampai ekskul olahraga ada. Saya sendiri mengikuti ekskul/organisasi, yang bisa dibilang cukup banyak, seperti Pramuka (awalnya mengikuti, sekarang sudah vakum), ICT-One (ekskul komputer yang berbentuk organisasi), dan Tim Olimpiade Smansa di bidang Informatika.

Awalnya saya rada bingung memasuki ekskul, karena saya bingung akan tujuan dan arah saya ke depan. Maka, tak pelak, saya memasuki ekskul sesuai dengan apa yang sudah saya pernah ikuti. Yang ingin saya masuki dulu adalah Pramuka, Bakmiss (Badan Kemakmuran Masjid Ibnu Sina Smansa), dan ICT-One. Tim Olimpiade Smansa saya pada awalnya sekilas tertarik, namun belum ada niat serta masih segan untuk memasukinya. Sampai ada salah seorang guru mata pelajaran TIK yang menawari saya untuk masuk ke ekskul tersebut.

Sebelum saya menyerahkan kembali formulir-formulir ekskul tersebut, saya ragu memilih satu di antara dua ekskul untuk saya masuki. ICT-One saya sudah yakin betul ingin memasukinya. Namun, Bakmiss dan Pramuka? Saya mencoba adu nasib dengan memasuki Pramuka. Semula, saya oke-oke saja dengan sikon. Saya bisa beradaptasi. Namun, lambat laun, saya mulai membangkang. Saya mulai membandel. Saya bosan dengan apa yang diterapkan selama di ekskul. Memang, banyak sekali yang bisa saya akui, saya mendapat pelajaran penting betapa beharganya pengalaman organisasi dan bergaul dengan sesama. Tapi, di sisi lain, saya justru mendapat kekangan, yang membuat saya ingin dan ingin sekali lari dari ekskul tersebut. Dan saya pun akhirnya keluar juga, walau dalam kondisi keluar tersembunyi (tidak benar-benar keluar, tidak keluar secara resmi, keluar dengan tidak menghadiri dan bersosial dengan sesama rekan ekskul). Sampai sekarang, saya terhitung hanya mengikuti dua ekstrakurikuler secara aktif: ICT-One dan Tim Olimpiade Smansa.

Kembali ke topik bahasan. Untuk kamu yang baru-baru ini memasuki masa-masa sebagai seorang pelajar SMA, perlu waktu berpikir untuk menyelaraskan apa yang kamu cita-citakan di masa yang akan datang dengan kondisi kamu saat ini. Umpamanya, kamu bercita-cita ingin menjadi dokter, maka masuklah ekstrakurikuler Palang Merah Remaja.

Enggak tertarik? Mungkin kamu bisa menyelaraskan apa yang saat ini kamu sukai berdasarkan bakat dan minat. Kalau kamu suka bereksperimen, ikutilah ekskul Kelompok Ilmiah Remaja. Kalau kamu suka bela diri, ikuti ekskul Karate atau Pencak Silat. Dan sebagainya.

Di awal-awal, ada saja penghalang yang menghambat kamu untuk memasuki ekskul. Sebut saja, proses diklat dan masuk ke sebuah ekskul yang begitu ribet. Apalagi ketika di tengah-tengah kamu mengikuti ekskul, ada saja rintangan dan hambatan yang ditemui. Saya dulu juga pernah merasakannya, seperti yang saya ceritakan di tiga paragraf sebelumnya.

Maka, ada baiknya kamu mengikuti ekskul dengan niat penuh, sepenuh hati, dan ikhlas. Jangan menyerahkan formulir ekskul dengan setengah-setengah, maka hasil yang kamu capai juga setengah-setengah. Enggak bakal sampai.

Yang terpenting, di saat kamu mengikuti ekskul yang kamu ikuti, kamu memperoleh pengalaman organisasi. Karena, di waktu mendatang, kamu memerlukan kemampuan tersebut. Di ekstrakurikuler, kamu juga bisa mengasah kemampuanmu sesuai bidang ekskul yang kamu dalami. Kemudian, ekstrakurikuler membantu kita untuk belajar mengatur waktu antara waktu belajar dengan waktu mengikuti ekskul. Sehingga, tak ada yang sia-sia buat kamu yang bakal mengikuti ekstrakurikuler, selama kamu mengikutinya dengan sepenuh hati dan tekun mengikutinya.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s