Hari guru dan sepotong martabak

Kalaulah biasanya setiap tahun, di mana pun saya bersekolah, hari guru hanya diisi dengan acara-acara seperti upacara dan perlombaan untuk guru-guru. Namun, tahun ini, hari guru justru berbeda dari biasanya ketika pak David berbicara di depan podium, mengatakan dengan lantang bahwa setelah upacara selesai akan dibagikan seribu porsi sate dan martabak secara cuma-cuma untuk seluruh warga sekolah. Terdengar suara riuh dari semua yang hadir pada saat itu.

Saya, yang tengah berdiri di barisan kelas, hanya menganggukkan penawaran yang sebenarnya enak itu dengan pelan. Saya tak begitu fokus dengan apa yang disampaikan pak David, karena saya sambil memegang handphone dan begitu asyik memerhatikannya.

Usai upacara, semua pada bubar dari barisan. Banyak murid yang kembali ke kelas. Adapun guru-guru mengikuti acara, panitia mengurusi acara, dan siswa yang masih ingin di luar menghabiskan waktu untuk melihat acara dari kejauhan. Saya termasuk yang baru saja balik kelas. Eh, tiba-tiba langsung diserbu teman-teman yang memohon kepada saya untuk menonton film dengan menggunakan laptop saya. Maklum, nasibk saya sebagai kawan yang dijadikan tempat pengedar film. Saya putar juga filmnya. Saya sempatkan sebentar untuk menonton film, walau film yang saya tonton ini tidak sampai selesai ditonton karena saya terlalu sibuk memerhatikan unduhan arsip Wikipedia yang belum kunjung selesai.

Belum ada setengah jam saya tonton, saya tersadar bahwa saya mesti mengejar catatan yang musti saya pindahkan. Saya langsung beranjak dari tempat duduk, melangkah ke belakang kelas, dan mengambil buku tulis catatan, pulpen, serta binder. Saya kembali ke tempat duduk tepat di meja guru di mana laptop saya berada. Di situlah saya kembali mengerjakan kembali catatan.

Beberapa menit kemudian, saya pun sudah kecapekan akibat terlalu lama berkutat di kursi. Saya mencoba keluar dari kelas demi menghirup udara segar sambil beristirahat, dan juga sekalian membeli makanan.

Saya melihat, di lobi kok tampaknya ramai. Teringat di pikiran saya, tadi kan pak David bilang ada bagi-bagi makanan gratis dari komite. Kebetulan juga saat itu saya ingin membeli makanan. Maka, tak ada salahnya untuk pergi ke lobi sekolah untuk mendapatkan makanan gratis.

Sesampainya saya di sana, ternyata banyak sekali anak-anak yang mengantri dengan tidak rapi. Saya yang baru datang pun ikut-ikutan berebut dengan mereka. Dengan mengandalkan postur tubuh yang tinggi, saya sudah mengambil piring beserta sendok. Tinggal martabaknya.

Bukan main rusuhnya mereka menunggu hanya demi makanan gratis. Saya melihat teman-teman saya yang juga sudah lama menunggu mendapatkan martabak.

Begitu martabak setelah dimasak, saat saya berusaha mendapatkannya, ternyata oh ternyata saya belum beruntung. Tangan abang yang memasak martabak tidak berpihak kepada saya. Saya coba sekali lagi, dan akhirnya dapat juga. Malah, saya berpikir, di sini gratisan saja banyak orang berdatangan untuk mendapatkannya. Harusnya ngalah dong bagi yang merasa mampu. Halah, kayak saya tidak demikian.

Selesai menuang kuah martabak beserta bawang dan timun, saya kembali mencoba peruntungan, pergi tak jauh dari mengincar seporsi sate. Agak lama sih, soalnya susah mengambil piring lagi dan memegang piring berisi martabak, tapi ujung-ujungnya saya dapat juga. Ada beberapa orang yang sirik sama saya karena saya sudah mendapatkan martabak sebelumnya, dan lalu sate hahaha.

Dengan bangga, saya kembali ke kelas untuk memamerkan hasil jarahanku. Apes, sifat pelit saya muncul setelah dapat gratisan. Saya mencoba untuk menghindar serangan teman-teman yang menjarah makanan saya. Saya pun keluar dari kelas dan memakan makanan itu sendirian. Barulah setelah makanan saya habis, saya kembali ke kelas dan kembali melanjutkan pekerjaan.

Tak lama, teman-teman saya yang keluar dari kelas, kembali dengan membawa makanan. Salah seorang teman saya menunjukkan sikap seolah-olah arogan, karena tadi saya berlaku pelit kepadanya. Ah, saya tak peduli. Saya kembali melanjutkan pekerjaan memindahkan catatan.

Lagi-lagi saya terganggu dengan asyiknya nonton film. Catatan yang saya kerjakan baru sedikit dari catatan yang mau dipindahkan yang ternyata masih banyak lagi. Saya mulai mengantuk, dan memutuskan untuk mencari tempat meja yang lowong untuk dijadikan tempat beristirahat.

Jam satu siang. Saya baru tidur setengah jam, dan terbangun akibat panggilan temanku yang menyuruh saya membetulkan kabel proyektor. Memanglah, kabel proyektor di kelas kami sering bermasalah. Saya rada males sih ngurusinnya, tapi ya mau bagaimana lagi. Saya betulkan kabelnya. Lalu saya keluar dari kelas, lagi-lagi mengincar martabak gratis (lagi).

Hasilnya, setelah saya makan martabaknya, serangan di perut membuat saya jadi mulas. Tak tertahankan dengan sakit perutnya. Karena tak tertahankan lagi, saya segera ke kamar mandi untuk membuangnya.

Ah, kalau saja hari ini nggak ada martabak dan sate, pasti bekal makan saya tak tertinggal di laci meja saya. Tapi rugi juga sih kalau nggak ada martabak dan sate, saya jadi keluarin duit lagi buat beli makan tambahan. Hehehehe.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s