Di kala pergi berangkat sekolah, tak diduga ban motor pun bocor

Jumat pagi. Pukul tujuh kurang lima belas pagi. Saya sudah bersiap untuk segera berangkat dari rumah ke sekolah. Pakaian batik sudah saya kenakan dengan rapi. Sarapan sudah saya habiskan dengan lahap. Buku-buku pelajaran sudah saya masukkan ke dalam tas. Hanya saja saya lupa membawa baju laboratorium untuk praktik kimia hari ini haha. Tapi itu tidaklah terlalu mengkhawatirkan bagi saya.

Hari ini, pelajaran pertama adalah pelajaran olahraga, pelajarannya Pak Syawal. Bapak itu tidak ingin ada yang terlambat, dan kalaupun ada yang terlambat pasti tidak akan diperkenankan untuk ikut berbaur dalam barisan olahraga. Untuk itu saya harus segera pergi ke sekolah sebelum hal yang tidak mengenakkan terjadi.

Setelah kusalami orangtua saya, saya pun langsung mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu ke luar rumah. Saya nyalakan starter sepeda motor dan berangkat menuju ke sekolah.

Awalnya saya kira semuanya bakal baik-baik saja seperti biasanya. Namun, perasaan tidak enak mulai menghampiri pada saat mendekati SMP Negeri 7 di Jalan Adam Malik.

Sepeda motor terasa berat dan mulai goyang ketika dikendalikan. Ternyata oh ternyata, sepeda motornya kempes. Dugaan saya bannya bocor. Duh, padahal tinggal sepuluh menit lagi, dan saya musti sampai ke sekolah paling lambat pas pukul 7.15.

Saya pun mencoba mengendalikan sepeda motor dengan pelan supaya bisa stabil, walaupun dalam kondisi kempes. Sepanjang jalur menuju Santika Dyandra MICC menuju Jalan Teuku Daud, alhamdulillah saya masih bisa mengendalikan sepeda motor.

Merasa enggak yakin bisa sampai sekolah dengan kondisi roda kempes, saya melihat di perempatan jalan menuju Kampung Keling, ada satu tempat tambal ban yang rupanya sudah buka. Saya mencoba menghampiri, dan ada ibu-ibu yang ngomong dari jauh bilang: “Mau tambal ban ya dek? Panggil aja abang itu”. Yaudah deh saya panggil.

Abang tambal ban yang awalnya masih tidur terlelap dalam kursinya, terbangun setelah dipanggil saya dan ibu-ibu yang ada di seberang parit. Saya bilang untuk diganti bannya. Abang itu pun langsung mengecek rodanya dengan membongkar dalaman roda.

Rupanya, pentil bannya rusak. Sayangnya abang itu enggak punya yang baru, dan merasa kasihan kalau saya telat masuk sekolah. Makanya saya cuman diisi angin ban dalamnya saja sama abang itu, dan setelahnya saya memberi lima ribu rupiah sebagai upah atas jasanya sebelumnya. Saya pun kembali menghidupkan starter sepeda motor dan bergegas menuju sekolah, walau hampir telat.

Sampai di depan sekolah, saya samperin abang tukang parkir untuk mengganti ban dalam depan di tempat tambal ban yang tak jauh dari sekolah, persis di dekat pintu masuk restoran di jarak lima puluh meter dari sekolah. Saya beri abang itu lima puluh ribu sebagai biaya untuk mengganti ban. Dengan terbirit-birit saya pun meninggalkan abang tukang parkir dan masuk ke sekolah. Dan saya pun telat. Telat tidak masuk tepat waktu di pelajaran Pak Syawal karena kejadian ban bocor yang tak terduga.

Setelah pulang sekolah, kira-kira jam setengah tiga sore, saya keluar dari sekolah dan mencoba menemui abang tukang parkir. Ternyata abang itu cuman mengeluarkan lima belas ribu, karena dia cuman mengganti pentil bannya aja dengan yang baru, bukan bannya. Saya cuman bilang oke ke abang itu. Abang tukang parkir itu pun memberikan saya kunci sepeda motor saya kembali dan uang kembalian perbaikan bannya. Saya pun langsung mengambil sepeda motor dan pergi, menyapa abang itu di saat meninggalkan sekolah.

Niatnya saya mau diskusi soal-soal W-Fit Kimia, tapi sebelum itu saya mau ke warnet dulu, mau bayar uang booking untuk gath Minggu nanti. Sekalian main deh di sana… sebentar. Hehehe.

Tak terasa sudah pukul enam. Saya pun cabut dari sana, ingin menuju ke tempat les. Sayang beribu sayang, ternyata bannya pun kempes kembali. Nasib, nasib. Saya mencoba untuk mencari tempat tambal ban, dan alhamdulillah di sana ada dalam jarak yang cukup dekat dari warnet. Saya hanya mengisi angin ban pada saat itu, tidak mengganti ban. Alasannya karena sudah gerimis, terlalu lama jika ingin mengganti ban, dan riskan soalnya uang saya juga menipis banget untuk ganti ban. Setelah itu, saya pun langsung pulang dan memutuskan untuk tidak ke tempat les.

Apes oh apes..

Advertisements

2 thoughts on “Di kala pergi berangkat sekolah, tak diduga ban motor pun bocor

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s