Terlanjur Basah, Linglung dan Panik Ketika Rombongan Tamu dari Malaysia Datang Menghampiri

Aduh, judulnya ribet banget ya? Belum terbiasa banget nih bikin judul panjang-panjang dan fenomenal pula. Hahaha.

Ceritanya tuh baru tadi pagi. Dua jam setelah saya lagi sibuk ngurusin laptop sambil masang earphone, tersentak setelah dipanggil teman. “De, siapin barang-barangmu,” katanya.

Hah? Bingung saya. Bukannya masih istirahat ya? Bukannya bentar lagi mau pelajaran TIK ya, pikirku.

“Udah pulang loh, De,” balas teman dengan tenang.

What? Udah pulang!? Kagetlah saya.

“Iya, kayaknya nih bentar lagi kelasnya mau dipasangin nomor ujian di meja.”

Sontak saya pun kegirangan. Kesenengan. Dan boro-boro ngumpulin tugas-tugas yang tersisa kemarin ke guru-guru yang bersangkutan. Ada sih satu tugas yang belum dikumpulkan, dan saya pun akhirnya menunda untuk mengumpulkannya hari ini karena guru yang bersangkutan tidak ada di mejanya di kantor guru.

Singkat cerita, saya masih sibuk sama laptop saya, sampai pada akhirnya terpaksa mengungsi karena kelas sudah mau diberes-beresin. Saya pun hijrah ke mesjid. Di situ, saya malah asyik membaca komik webseries. Sementara itu, ada adik kelas, malah asyik bermain game sepakbola di salah satu laptop temannya. Yang lain hanya bersenda gurau saja.

Waktu menunjukkan sekitar pukul sebelas. Seorang adik kelas sempat terkejut melihat ada rombongan yang datang dari Rase. Begitu kepala saya melihat ke arah belakang, ternyata oh ternyata, ada rombongan tamu dari Malaysia.

Karena kondisi kami yang saat itu udah terlanjur basah, seperti ada yang main lah, ada yang duduk-duduk gak jelas lah, dan lain sebagainya. Sempat salah seorang adik kelas bilang: “Eh eh eh, udah, ayok diberesin. Gak enak diliatin begini.”

Salah seorang temannya menimpali: “Ah, buat apa. Toh sudah terlanjur basah kelihatan begini.”

Keadaan jadi serba salah. Salah kaprah. Ujung-ujungnya, seorang ibu-ibu bertanya (dan sepertinya direkam) kepada kita semua.

“Boleh nggak bawa gadget ke sekolah?” begitulah kasarnya dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia.

“Boleh.”

“Boleh nggak gadgetnya dipake sewaktu pelajaran?”

“Err… kalau enggak ketahuan sih boleh-boleh aja.”

Lalu percakapan pecah dengan suasana tawa anak-anak.

Begitu selesai bertanya, rombongan tamu tersebut meninggalkan kami. Antara syok sekaligus bingung, kenapa kok bisa-bisanya ada. Padahal rombongan tamu tersebut sudah ada disambut sejak hari Senin kemarin. Ah, tak tahu lah. Mungkin mereka memang pengen lebih tahu seperti bagaimana sekolah kita.

Toh karena kita juga udah terbiasa begitu di masjid, apalagi memang karena deket masjid ada bangunan di sebelah kiri, nah itu bangunan kan ada router wifi. Sinyal sampe ke bawah. Gak heran kalo tiap hari ada aja anak-anak yang mangkal di masjid cuman gara-gara sinyal wifi.

Ah yasudahlah. Toh semuanya sudah terlanjur.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s