Karma Nama dari Alfabet Paling Awal

Hari ini pelajaran Sejarah, pelajarannya si pak botak. Dengan logat Bataknya yang khas dan gaya bicaranya yang berat, terkadang hal itu menjadi lawakan bagi kami. Tapi yah, hari ini saya menggerutu banget sama dia.

Masih asyik main, begitu dia datang nama saya langsung dipanggil. Eh, terkejutlah saya.

“De, absen De,” kata salah seorang teman.

Oh, kirain apaan. Entah kenapa saya agak-agak pura-pura bego untuk memahami kebiasaan yang selalu ada di pelajaran Sejarah. Saya sambutlah bapak itu dengan mengucapkan kata yang lazim digunakan untuk mengabsenkan diri. “Ya, Pak!” dan sejenisnya.

Bapak itu pun lalu mengucapkan beberapa kata yang saya pun sudah lupa apa yang dia ucapkan, karena keasyikan main.

Belum sempat berkedip, eh, dipanggil lagi.

“(sambil melihat daftar absen kelas) Ade… Adetya… Adilla… dan Afrilia… ayo maju ke depan.”

Lontong. Langsung deh keringat dingin. Hawa tak enak menghantui perasaan.

Rupanya bapak ini ngadain ujian. Seperti biasa, ujiannya jarang kalau diadakan tertulis. Keseringan ujian lisan. Bagus sih, tapi yaaaa gitu. Saya yang terkadang demen banget main game-game strategy seperti Sid Meier’s Civilization V pun kayaknya kurang untuk bisa beradu mulut dengan bapak itu. Karena kurang membaca. Keasyikan main gameplaynya doang tanpa merhatiin the origins of the historynya.

Dan, yang paling enggak enaknya kalau ujian sama bapak ini, nama saya disebut paling duluan.

“Lho, kan bagus toh duluan! Gak usah nunggu lagi, gak usah khawatir karena sudah duluan,” mungkin ada yang nanya begini.

Iya sih. Mungkin bagi yang rajin baca-baca udah tinggal enak doang ya. Masalahnya, saya ini keseringan main ketimbang belajar. Bahkan baca aja pun males (hadeuh De, kurang-kurangin lah ini…).

“Udah De.. ayo ke depan!” teman saya yang duduk di samping memaksa.

Mau tak mau, saya pun ke depan juga. Menelan ludah demi menghadapi nasib yang saya terima saat ini.

“Nah… jadi apa yang kamu jelaskan? Kamu terserah mau ngomong apa, apa yang kamu ketahui sajalah,” ujar si pak botak.

Saya mikir. Apa yaaaa….

“Entah itu mengenai revolusi… revolusi Prancis, revolusi Jepang, atau revolusi lainnya,” bapak itu menambahkan.

Pikiran saya tiba-tiba jadi kosong. Enggak tahu mau ngomong apa.

“Err…” hanya itu yang bisa saya ucapkan saat itu.

“Kalau kamu enggak tahu apa-apa, mending kamu duduk aja,” timpal si pak botak.

Saya memang enggak tahu mau ngomong apa saat itu juga. Karena pikiran kosong.

Terakhir saya bilang ajalah enggak tahu sama bapak itu. Bapak itu pun langsung memberi tanda titik ke bagian daftar nilai saya. Nilai saya belum diberikan saat itu juga. Saya pun sempat mengumpat gara-gara enggak dapat nilai.

Di tengah-tengah saya mengumpat, salah seorang teman menimpali saya dengan perkataan: “De, lain kali kalau buat nama anak jangan dari A lah. Kasihan ntar anaknya nerusin bapaknya, hahaha,”. Saya cuman menjawab dengan pasrah atas timpalan yang ia lempar ke saya.

Kalau direnungkan kembali, saya sempat mendengarkan semua arti nama dari orang tua saya, mengapa saya dikaruniai nama Ade Naufal Ammar.

Yang pertama: Ade. Terinspirasi dari nama di sebuah ibukota di negara bagian Australia Selatan, Adelaide. Di mana saat itu abah sedang menimba ilmu S1nya di sana. Tidak ada maksud atau artian khusus lagi selain hanya terinspirasi, dan juga ingin anaknya menjadi nomor satu, termasuk absensi.

Untuk suku kata nama kedua, Naufal, katanya sih pengen jadi anaknya yang dermawan. Dan Ammar, berarti ingin anaknya menjadi tampan/ganteng/rupawan/bijaksana (begitu katanya… katanya ya…).

Nah, di sini udah jelas kalau dari doa orangtua terhadap anaknya aja kepengen anaknya nomer satu udah kelihatan. Namanya dari huruf alfabet paling pertama: A. Dari kelas satu SD sampai kelas dua SMA saat ini aja, nomor absennya paling pertama terus (enggak selalu sih, saya pernah kedapatan jadi nomor dua di beberapa jenjang kelas). Gimana enggak pertama coba. Makanya saya juga agak linglung saat maju ke depan pertama duluan, sementara tanpa persiapan.

Di awal, saya sempat mengumpat. Tetapi, setelah berpikir dua kali, saat pulang, ternyata saya berpikiran masih ada jalan. Masih ada kesempatan kedua untuk menguji ilmu akan sejarah saya. Saya coba hafal-hafal sedikit pelajaran sejarah yang bisa saya ingat, dan saya masih diberikan second chance dari Allah swt. untuk ujian tersebut.

Sebagai seorang anak, saya enggaklah menyesali apa yang diberikan orang tua saya kepada saya. Memang, apa yang sudah diamanatkan oleh orang tua tentu doanya akan menjadi makbul. Buktinya, doa orang tua ke anaknya melalui nama yang diberikan saja terkabuli. Saya jadi bulan-bulanan guru yang selalu menyebut dan memanggil nama siswanya dari pertama. Udah dipanggil pertama, enggak siap pula. Apes berkali-kali lah saya.

Namun, dari situ, saya enggak merasa menyesal apabila saya masih bisa diberi akal dan pikiran untuk berharap akan ada lagi second chance untuk selanjutnya. Jika tak ada, ya sudahlah, biarlah apa yang berlalu sudah terjadi semestinya.

Advertisements

2 thoughts on “Karma Nama dari Alfabet Paling Awal

    1. Pengennya sih gitu. Tapi mikir-mikir juga, soalnya nama juga udah punya personal branding dan personal philosophynya tersendiri đŸ˜†

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s