Persepsi Posisi Golkar pada Pilpres 2014 di Kacamata Awam Saya

31bd1d89fc8247f7237d96caa252bf7f4a7a66e9Beberapa hari yang lalu, saya baca sebuah artikel dari nasionalis.me tentang korelasi antara Golkar dengan cewek cakep yang belum dapat pasangan.

Jadi, secara singkatnya, di situ dijelasin mengenai skema cewek dan cowok. Ada tipe A, B, dan C. Anggap aja A itu paling ‘wah’, dan C itu the worst choice(s).

Tipe A, baik cewek maupun cowok, udah pasti bakalan didapetin lawan jenisnya dari tipe B, karena tipe B yang selalu berusaha dan mengejar chances demi mendapatkan unpredicted benefits yang bakal mereka raih. Di sisi lain, tipe C, mau enggak mau harus menelan air ludahnya sendiri, karena yaaaaaaa…. mau bagaimana pun juga susah untuk meraih ekspetasi mereka. Sekalipun itu sedikit lebih oke dibanding mereka, tapi tetap aja ujung-ujungnya berakhir ke pilihan yang enggak jauh beda dari berbagai sisi dan penampilan mereka. Tipe C, setidaknya mutlak ke tipe C juga.

kenapa-cewek-cantik-bisa-jomblo

Lalu, bagaimana dengan cewek tipe A yang memiliki kriteria khusus: masih menjomblo? Secara penampilan, bisa dibilang cewek tipe A mana yang enggak attractive dan appealing? Pasti semuanya memiliki dua sifat tersebut. Cuman, ada cumannya nih. Mengapa mereka enggak kepikiran untuk mendapatkan pasangannya, padahal dari segi penampilan oke, isi otak pun relatif tergantung dari bagaimana ceweknya juga.

Hal ini yang ingin dikaitkan situs nasionalis.me dengan Golkar. Sejauh ini, Golkar bisa dibilang sebagai cewek tipe A yang cukup appealing dalam merebut lawan jenisnya. Hal ini dapat dilihat dari persentase jumlah kursi DPR yang didapat cukup tinggi. Bukan mayoritas, namun setidaknya bisa menggaet parpol yang ingin diajak ‘bersatu’.

Nah, di sinilah yang menjadi tanda tanya. Mengapa saat ini Golkar masih belum menentukan pasangannya untuk berkoalisi? Sementara Partai Nasdem (yang bisa saya katakan termasuk cowok tipe B) sudah merebut PDIP sejak beberapa hari setelah pemilu legislatif 2014 yang diadakan 9 April lalu, diikuti dengan PKB dan Hanura. PAN pun dengan gesit juga sudah melakukan koalisi dengan Gerindra, dengan sokongan pengikut dari PKS dan PPP.

Ternyata ada udang di balik batu, mengapa Golkar lebih memilih ‘ah, ntaran aja deh’ ketimbang langsung sigap merebut pasangan.

Mungkin kamu tahu, bahwa dua kubu antara Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta, mewakili personalita dan kepentingan masing-masing. Jokowi-JK dikenal dengan merakyat, lebih terbuka, dan lebih condong ke Barat. Sementara Prabowo-Hatta sendiri, bisa dibilang… yah belum ada prestasi besar yang bisa kita banggakan, tergolong militan, dan enggak bisa menutup muka sendiri dengan peristiwa-peristiwa kelam masa lalu. Semuanya tergambar dalam cover Tempo edisi 7 April 2014 ini:

1077777_20140524032633

Kalau kita menilik dari sisi perekonomian, tentunya arus politik yang masih menggaung berpengaruh ke perkembangan pasar modal Indonesia. Sedikit-sedikit ada notable event, seperti koalisi anu lah, koalisi ini lah, pasar modal langsung naik turun.

Banyak orang berpikiran bahwa koalisi PDIP dengan Nasdem dan penjodohan Jokowi dengan JK justru membuahkan hasil yang lebih baik. Toh kenyataannya enggak selalu kok. Justru Golkar-lah membawakan presence yang begitu penting dalam suasana politik yang sedang onfire, terutama di pasar modal Indonesia. Golkar sebagai decider dalam kasus ini. Hal ini dapat dilihat dengan Golkar mengambil keputusan. JK, yang mana merupakan kader Golkar, digaet untuk berduet dengan Jokowi. Sementara itu, dari Golkar sendiri memilih untuk ikut ke kubunya Gerindra. Ini berarti Golkar yang cenderung cukup kuat dalam mengayomi politik, memilih condong ke arah ‘timur’.

Sumber: http://katadata.co.id/sites/default/files/field/gallery/Grafik-KoalisiWEB%20%281%29.jpg

Untuk ke depannya, saya sendiri kurang tahu dengan jelasnya. Saya udah bilang, kalau saya bukan seorang pemerhati. Jadi maaf kalau ada kesilapan kata.

Tapi, seandainya saya diajak untuk menyampaikan opini terkait kemungkinan yang bakal terjadi, kalau menurut praduga saya, mengingat kedua kubu, antara kubu barat (Jokowi-JK) dengan kubu timur (Prabowo-Hatta) bisa dibilang sebelas dua belas. Masih imbang-imbangan beda tipis. Dengan adanya Golkar yang ikut ke kubu timur, sementara salah satu dari kadernya ikut ke kubu barat, berarti Golkar bisa bikin kedua kubu ini jadi ‘berat sebelah’. Kubu timur megang vital mayoritas, sedangkan kubu barat hanya menang kader doang.

Terus nih ya, bisa jadi Golkar hanya sekadar party pooper. Eh, itu bukannya Partai Demokrat ya? Kalau dibilang sih, bukan. Perolehan kursi cukup minor, enggak mayoritas, dan memilih netral. Lebih bisa dibilang pengecut ketimbang cewek tipe A yang tipenya milih-milih, kayak Golkar ini. Padahal beberapa hari sebelum resmi bilang ikut barengan Gerindra, ketua Golkar, Aburizal Bakrie udah klop mau bikin koalisi baru sama Partai Demokrat. Tapi, mungkin ya, selanjutnya mereka (Partai Demokrat) lebih memilih netral ketimbang ikut koalisi manapun.

Tapi ya gitu aja sih. Demikian analisis awam dan cetek dari seorang anak SMA kelas dua yang begitu katrok dalam dunia perpolitikan.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s