Rakyat Indonesia Ricuh Berebut Es Krim Gratis Akibat Ketidaksiapan Unilever

kerusuhan-es-krim-gratis-1
Source: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10201839404848273&set=a.1023189021460.2004613.1277264145&type=1&relevant_count=1

Indonesia, negara yang terkenal dengan ideologi Pancasila dan keanekaragaman budayanya, kali ini mengalami musibah. Bukan, bukan musibah alam. Tetapi musibah mental penduduk yang disebabkan oleh salah satu produsen es krim terbesar di Indonesia, Wall’s, yang baru saja mengadakan acara bertajuk Wall’s Ice Cream Day pada hari Minggu (11 Mei 2014). Acara ini diadakan di delapan kota besar secara serentak, yaitu di: Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Palembang, Banjarmasin dan Bandung.1

Tujuan Wall’s mengadakan acara ini sebenarnya bermaksud baik, dengan tujuan untuk membahagiakan warga sekitar di kota besar dengan suguhan es krim gratis. Dengan kehadiran acara di delapan kota besar di Indonesia dan disediakan es krim dalam jumlah besar, kurang apalagi coba untuk mengangkat euforia warga kota setempat untuk mendatangi acara ini? Tentu bukan kepalang tanggung senangnya.2

Souce: http://1.bp.blogspot.com/-93adEaximgk/U29-vIqSjfI/AAAAAAAACFM/53UoalsUXZs/s1600/Screenshot_330.png
Souce: http://1.bp.blogspot.com/-93adEaximgk/U29-vIqSjfI/AAAAAAAACFM/53UoalsUXZs/s1600/Screenshot_330.png

Masalahnya, tak semua orang bisa merasakan ‘kebahagiaan’ yang dimaksud. Di Yogyakarta saja, warga kota setempat yang setiap pekannya menghabiskan olahraga dan menikmati ketenangan di Alun-alun Selatan, terpaksa harus ikutan berdesak-desak dengan ribuan warga lainnya yang ingin mendapatkan es krim gratis. Tak diduga, jumlah warga yang ingin mendapatkan es krim gratis melebihi ekspetasi jumlah es krim yang disediakan. Akses jalan pun sangat sesak dan ramai, mengingat kurangnya persiapan dari pihak panitia sendiri. Bagi yang baru datang tentu saja menyesal bukan main, karena tidak mendapatkan kupon voucher untuk mendapatkan es krim gratis.3

Kekecewaan serupa tak hanya terjadi di Yogyakarta, namun juga di Surabaya dan di Bandung. Rerumputan yang ada di Taman Bungkul, Surabaya kini rusak akibat keramaian massa yang ada di sana pada saat acara pembagian es krim gratis ini. Pihak internal Unilever berkata bahwa mereka sudah mendapat izin dari Dinas Pertamanan Kota Surabaya, namun kenyataannya pihak Unilever belum mendapat izin resmi berdasarkan kesaksian dari walikota Surabaya, ibu Risma.4 Izin belum ada, eh sudah main gelar tikar saja di taman, ngerusak pula. Tak heranlah bila ibu Risma naik pitam melihat tindakan Wall’s dan Unilever yang terbilang kurang persiapan dan ‘asal buka lapak’ saja.5 6 Apalagi katanya lima tanaman langka yang ada di Taman Bungkul dikabarkan rusak setelah acara bagi-bagi es krim tersebut.7

Di Bandung, hal ini sebenarnya disambut baik oleh kang Emil selaku walikota. Namun justru menjadi buruk sejak diketahui bahwa jumlah warga yang ingin mendapatkan es krim gratis ternyata melebihi perkiraan. Balai Kota sudah seperti lautan penuh ribuan manusia.8

Cerita buruk tiga dari delapan kota yang mewakili membuktikan bahwa kinerja Unilever belum professional dalam mengadakan acara. Padahal Unilever merupakan salah satu perusahaan multinasional yang diakui kehebatan branding dan lakunya produk yang dijual. Dengan adanya kesalahan persiapan mengadakan acara, yang mana menurut pihak internal Unilever merupakan kali yang pertama mengadakan acara seperti ini dan belum ada pengalaman sampai salah mengestimasi jumlah penduduk yang akan mengikuti acara akbar ini9, justru malah mencemarkan nama baik Unilever dari sisi pelayanan pelanggan dan pengurusan di bidang acara terutama berskala nasional.

Seharusnya, menurut saya, ada baiknya Unilever terlebih dahulu membuat persiapan dengan matang, dengan memastikan segala kemungkinan, kepastian, dan peluang yang ada jika seandainya plan yang mereka buat bakal direalisasikan. Pihak R&D Unilever harus melakukan penelitian terhadap konsumen Indonesia dalam menanggapi promosi berbentuk gratisan ini, mencoba meneliti interaksi dan tingkah laku konsumen seandainya menerima promo sebesar ini. Seperti melakukan promo dengan melakukan reservasi tiket secara online (dengan kemungkinan server bakal penuh pengunjung membludak), penggunaan QR code untuk mendapatkan es krim gratis, dan pemberlakuan buy X get X. Dalam keamanan pun begitu juga, diterapkan sistem keamanan dan antrean yang rapi dan tertata dengan baik dan nyaman. Dengan begitu, saya bisa bilang Unilever bakal sukses dalam menjalankan campaign promotionnya di khalayak penduduk Indonesia.

Pun demikian, acara pembagian es krim yang konon merupakan yang terbanyak di Indonesia dan dicatat dalam rekor MURI10 ini belum bisa membaikkan brand Wall’s dan Unilever secara instan. Semoga saja Unilever mau menerima pelajaran dan memperbaiki kesalahannya saat ini, untuk kesempatan yang akan datang.

Advertisements

2 thoughts on “Rakyat Indonesia Ricuh Berebut Es Krim Gratis Akibat Ketidaksiapan Unilever

  1. liat foto yang pertama, ngeri banget.. kayak antrian rebutan zakat atau BBM -____-

    daripada berburu eskrim gratis mending berburu uang gratis *loh? =)))

    saya setuju kalau unilever kayak kurang riset, seharusnya gak cuman jumlahnya aja yang disurvey, tapi usaha cari tahu mental orang orang kita ya seperti apa.. dengan begitu seharusnya bisa sedikit diantisipasi lah..

    1. Haha, iya sih mbak. Tapi ya mau gimana toh.. eventnya udah terlanjur dibikin. Moga-moga aja deh untuk seterusnya enggak bakal terjadi seperti ini lagi 😀

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s