Hati-Hati Nasionalisme Buta

Ini nih yang lagi anget-anget di kancah regional Jakarta, dan tentunya iklim gamedev Indonesia yang akhir-akhir ini ‘ikut’ berkontribusi untuk tanah air namun kualitasnya meragukan.

Ardisaz

Jargon Untuk Mencintai Produk Dalam Negeri Jargon Untuk Mencintai Produk Dalam Negeri

Kita sering mendengar jargon “Gunakanlah Produk Dalam Negeri” atau “Ayo Dukung Karya Anak Bangsa” sebagai suatu gerakan yang sangat lantang dan tegas. Awalnya, saya dengan modal cap “Karya Anak Bangsa” dengan semangat mendukung tanpa memandang bulu, namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan yakni sisi kualitas. Saya sepakat untuk mendukung karya, produk, jasa, inovasi, pemikiran, dan banyak lagi produk kreasi anak bangsa tapi saya tidak sepakat dengan dukungan tanpa pilah-pilih. Apalagi sebentar lagi era persaingan global, tidak bisa kita bertarung kalau hanya berlindung dibalik “cap karya anak bangsa” tanpa disandingi kualitas yang sebanding. Ada beberapa kasus yang ingin coba saya analisis tentang Nasionalisme Buta.

Wagub Jakarta kita, Bapak Ahok, belakangan dituding dengan title “Tidak Nasionalis.” Ada dua alasannya, yang pertama adalah kasus pemilihan Bis Transjakarta dan yang kedua kasus pembersihan Monumen Nasional. Pada kasus pengadaan Bus Transjakarta, Ahok memilih untuk membeli bus dengan standar setara…

View original post 593 more words

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s