Gak salah sih protektif, tapi…

Hari ini saya pulang dari sekolah dalam kondisi matahari sudah tenggelam dan langit sudah gelap bertabur bintang-bintang. Seperti biasanya, kalau enggak izin atau gimana-gimana, mau pulang pun rasanya was-was. Apalagi kalau duit kurang dan malahan enggak ada sama sekali, atau enggak ada alat komunikasi untuk hubungi ortu.

Niatnya sih tadi pengen menyelesaikan donlotan game yang sebentar lagi mau kelar, namun karena udah keburu maghrib, kenapa gak sekalian aja solat di mesjid, pikir saya begitu. Maka jadilah saya solat maghrib berjamaah di mesjid sekolah. Daripada solat di rumah tapi sendirian doang.

Di jalan, saya mikirnya kalau saya pulangnya agak lama, kemungkinan besar ortu (terutama emak) pasti enggak ke mesjid untuk nanyain kabar anaknya gimana dan dinasihati lagi. Saya pun mempersiapkan mental saya untuk berhadapan dengan permasalahan yang akan saya hadapi setelah membuka pagar rumah dan memasuki sepeda motor ke dalam rumah.

Ternyata tebakan saya bener. Emak udah pasti bakal nungguin anaknya dan bakal diinterogasi nih. Dengan muka pucat sekaligus lemas, saya pun harus bersiap-siap untuk dihujani segelintir pertanyaan oleh emak.

“Gak khawatir kamu kalo pulang kelamaan? Gimana perasaanmu kalo pulang lama?”, begitulah serentetan pertanyaan-pertanyaan yang langsung dilempar ke saya. Sembari menaruh tas, saya menjawab: “Khawatir sekaligus kecewa”. Setelah saya jawab, emak dengan gayanya yang seperti biasanya, layaknya seorang ibu yang memberikan perhatian ke anak laki-laki satu-satunya, beliau tanya kembali mengapa saya bersikap begitu. Saya beri alasan dan perbandingan ke teman-teman saya yang merupakan bagian dari Badan Kemakmuran Masjid dan saya beralasan kalau saya pun enggak pulang cepat karena “ingin memakmurkan masjid”. Dibantah emak, seharusnya terlebih dahulu memakmurkan masjid di sekitar rumah. Tentu emak menyadari ada motif tersembunyi saya yang pulangnya rada lama, semisal tidur di mesjid, numpang pakai Internet dengan wifi. Macam lah.

Kecewa bertambah, karena alasan emak yang enggak setuju membanding-bandingkan (padahal terkadang emak juga membanding-bandingkan saya dengan anak tetangga/teman sekantornya) dan juga rasa cemas sebagai orang tua yang enggak tahu kabar anaknya.

Biasanya sih saya kalau keluar udah dipastikan janjian sama orang tua dulu. Tapi, di benak saya, yang terpikirkan adalah: “Mungkin orangtuaku berpikir demikian, bahwa aku lama karena masih di sini”. Mungkin aja orangtua bakal begitu, tapi gak selamanya kan mereka berpikiran kalau kita pulang dari tempat yang sama. Bisa aja kita berada di tempat Y, padahal ortu mikirnya kita dari tempat X.

Sekarang ini yang menjadi masalah overprotektif ini terjadi adalah kurang komunikasi antara orang tua dengan anak. Saya yang saat ini tidak memiliki satu alat komunikasi yang utuh, merasa ragu untuk menghubungi orang tua akan kondisi saya sekarang. Minjam telfon ke teman atau adik kelas? Segan. Kirim pesan lewat email? Ya kalau bakal dibalas, tidak menutup kemungkinan. Dari situlah maka saya muncul pemikiran bahwa “tenang aja, ortu pasti mikirnya begini begitu”. Kalau saya sebagai orang tua anak, untuk mengetahui kabar si anak, saya usahakan dengan berbagai cara saya hubungi dulu anak saya.

Saya akui, setelah dua kali mikir, niat ortu memikirkan anak itu sebenarnya baik. Cuman, karena enggak ada komunikasi yang wajar, sehingga bisa salah kaprah. Anak depresi, orang tua khawatir. Kayak saya. *sigh*

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s