Introspeksi diri #1: belajar dari orang lain

Hari ini saya pulang telat. Sampai di rumah pukul setengah delapan. Begitu sampai rumah, saya langsung mengerem sepeda motor dan langsung membuka pagar, lalu menutupnya kembali. Terdengar dari dalam suara pintu yang terbuka. Emak yang langsung tahu suara deruman sepeda motor saya, membukakan pintu rumah. Saya beserta motor pun masuk ke dalam.

Usai mematikan mesin motor, saya langsung makan malam. Malam ini memang sunyi, maklum malam Jumat. Gak tahu kalau hari ini malam Jumat Kliwon atau bukan. Saya yang baru pulang dari kegelapan tadi setelah mikirnya kalau hari ini malam Jumat langsung kocar-kacir ke tempat parkiran gara-gara itu. Tapi suasana itu langsung terpecahkan setelah saya sampai di rumah. Ditemani piring berisi nasi, ayam semur dan tahu, yang dibasahi dengan kuah semur. Seperti biasanya, saya makan di kamar emak dan menghidupkan tivi, lalu mengambil posisi untuk nonton. Tak sampai lima menit, emak saya yang baru saja dari dapur pun masuk ke kamar.

Biasanya, sambil makan-makan begini anak dan emaknya sedang ngobrol ngalor ngidul seperti biasanya. Bertanya seputar keadaan, kemudian hening sesaat. Emak pun ganti topik, menjadi dari apa yang baru saja ia baca. Majalah yang beliau pegang, yang baru saja dibacanya saat saya lagi makan. Majalah yang selalu dilangganinya beberapa bulan belakangan ini. Majalah berbau Islami bernama Hidayatullah edisi bulan ini.

Beliau membahas artikel yang menurut saya memotivasi supaya semangat belajar. Sambil melahap nasi, emak saya njelasin sedikit tentang orang yang dia maksud di artikel. Katanya, orangnya ini gigih banget memperjuangkan prestasi untuk anak-anaknya. Tak hanya itu, ia juga memperjuangkan supaya menjadi sebuah jihad dalam dunia pendidikan dari kaum Muslimin. Beliau dari Ponorogo, kata emak. Saya sangsi karena tadi saya baca dia pernah ngajar di Jember, tapi apa salahnya kalau memang benar dia dari sana. Entah kenapa saya merasa agak sedikit enggak enak mendengar perkataan bahwa orang ini berasal dari Jember, karena pars pro toto.

Sedikit lagi saya selesai melahap semua butiran nasi yang ada di piring, dan saya sudah ditawari untuk membaca artikel yang dimaksud oleh emak. Okelah, saya pun terima tawaran emak dan membaca artikelnya. Dari apa yang saya baca, poin-poin penting yang bisa diambil dari sana adalah:

  • Orangnya ini gigih banget. Seorang ibu yang berhasil mendidik keempat dari kelima anak-anaknya untuk mendapatkan prestasi. Enggak perlu keluar duit, enggak perlu les lagi. Cukup belajar dari ibu ini, mereka bisa menyambet medali-medali dari olimpiade baik nasional maupun internasional.
  • Ibu ini enggak semata-mata mengejar kepentingan dia dan anak-anaknya saja, namun juga sebagai langkah untuk perkembangan pendidikan yang gemilang di kaum muslimin saat ini.
  • Selama proses belajar-mengajar di rumah, ibu dan suaminya sepakat kalau anak-anaknya dijauhkan dari televisi dan game.

Selesai baca dan mencuci tangan, saya sempat mengatakan ini kepada emak:

“Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Tapi, masih ada kesempatan untuk bisa mengubah diri menjadi lebih baik.”

Mendengar kata-kata saya ini, emak saya pun membalas kata-kata saya ini dengan perkataan yang mengandung unsur sedikit penyesalan di waktu dulu, pesan-pesan yang bisa dijadikan motivasi, dan anjuran untuk saya agar lebih cepat istirahat. Memang, saya tadi sudah agak lama pulang, dan mustilah beristirahat supaya esok pagi bisa lebih segar. Mana tadi emak ngomentarin berat badan saya yang rada-rada kurusan. Emak pengen anaknya gemukan sikit.

Saya sadar, bahwa setelah membaca artikel tadi, saya cukup termotivasi. Paling tidak untuk ke depannya, jika seandainya saya enggak lolos Olimpiade Sains tingkat Kota tahun ini, mungkin saya bisa meneruskan ilmu saya ke adik-adik kelas saya. Atau ke anak-anak saya kelak nanti, aamiin ya rabbal aalamiin. Dan sekaligus juga sebagai bahan renungan, bahwa apa yang saat ini saya pelajari, ternyata hanya sekadar menghafal rumus tanpa mengkaji dan mengerti konsep serta logika dari apa yang sudah saya serap selama satu setengah tahun ini.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s