Hari ini nyoblos, euy!

“Kamu sudah nyoblos?”

“Sudah dong!” *sambil nunjukkin jari yang dilumuri tinta.

Kira-kira begitulah percakapan yang tak asing didengar pada hari ini, hari pemilihan legislatif di Indonesia.

Di seluruh daerah di Indonesia, sudah dijadwalkan oleh pemerintah pusat untuk memilih calon-calon yang bakal dipilih oleh rakyatnya sendiri di tanah air hari ini. Nantinya calon-calon yang memiliki jumlah suara terbanyak, akan terpilih menjadi wakil rakyat dan mengisi kursi-kursi pemerintahan, untuk menyalurkan aspirasi masyarakat tentunya.

Saya yang baru saja menginjak usia 17 tahun, yang artinya sudah eligible untuk memilik hak-hak politik secara pasif, agak ragu apakah bakalan ikut nyoblos atau enggak. Soalnya saya baru berumur segitu tak lama dari hari ini, yang berkisar dua minggu. Dan juga saya meragukan apakah saya bisa mendapatkan KTP secepat itu. Menurut orang yang saya tanya di sekitar saya, KTP bisa dibuat dalam kurun waktu kurang lebih tiga hari. Tapi, begitupun katanya segitu, tetap saja ada yang mendapatkan KTP (sekarang sih e-KTP ya) lebih dari tiga hari. Ada yang dapat dalam waktu sebulan, dua bulan, bahkan enam bulan pun ada. Makanya saya sangsi seandainya saya buat saat umur saya jatuh tempo pada 17 tahun dan bakal selesai jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan caleg.

Tapi sebenarnya saya juga berada di antara kepengen milih sama enggak, soalnya ya kan sekalipun sudah berada di batas usia yang wajar untuk memilih, karena tidak memiliki KTP maka belum bisa dikatakan bisa memilih, dan bisa memilih pada saat pemilu presiden dan wakil presiden. Tak ada salahnya juga untuk menanyakan dan mencari tahu nasib akan pilih-memilih calon legislatif ini. Saya tanya ke orang tua saya, apakah saya masih bisa memilih sekalipun tidak punya KTP. Kata mereka, saya bisa, dengan memakai surat undangan suara dari anggota keluarga yang pernah tinggal selama beberapa waktu di rumah. Dalam pikiran saya pada saat itu, saya rasa saya sudah bisa untuk mencoblos, walaupun dengan menggunakan surat suara orang lain.

Malam kemarin, saya kedatangan tamu, yang ternyata merupakan anak-anak yang bertugas membagi-bagikan surat undangan untuk nyoblos. Awalnya sempat salah karena beda nomor rumah. Begitu saya lihat berdasarkan nomor rumah saya sendiri, ternyata ada nama saya di kertas yang terselip di antaranya. Wogh. Kepikiran saya pada waktu itu ternyata pas H-1, jika di kartu keluarga yang tercatat di kelurahan setempat, apabila umur sudah 17 tahun dan belum punya KTP (kalaupun udah punya, tanpa kertas pun tak apa), sudah bisa dapat undangan untuk nyoblos di TPS terdekat. Sehingga saya tak perlu lagi pakai surat suara dengan nama orang yang pernah tinggal di rumah keluarga saya sebelumnya, cukup hanya memakai surat suara dengan nama sendiri. Sayang, kemarin baterai kamera belum sempat dicas, jadi saya enggak sempat fotonya gimana. Haha.

Pagi, sekitar jam 10, saya bersama bapak saya berangkat ke sana. Ke Tempat Pemungutan Suara. Tempat di mana saya bakal mencoblos calon legislatif yang saya rasa pantas. Di minda saya, saya rasa hampir dominan dari mereka enggak pantas dan enggak layak untuk dipilih. Mengapa demikian? Ada tiga alasan mengapa saya bilang begitu. Yang pertama: mereka hanya sekadar ngomong “ya, saya/kami bakal blablablabla” tapi kenyataannya berbanding dengan janji-janji manis yang mereka umbar-umbar sebelumnya. Kedua: mereka ini tinggal di tempat yang berbeda dengan daerah yang dikampanyekan oleh mereka, jadi kenapa mereka musti ada di ‘sini’ padahal kenyataannya mereka bukan berasal dari ‘sini’? Dan ketiga: kok bisa lah mereka dapat diangkat menjadi calon, sementara kemampuan berpolitik mereka belum tentu bagus-bagus amat. Di sinilah uang diandalkan. Uang mengambil peran di antara caleg, partai si caleg, dan KPU untuk tujuan dapat meloloskan ‘penipu-penipu’ tak beradab di muka umum ini. Tadinya juga saya kepikiran untuk memilih caleg lebih dari satu di setiap kategori, tapi kayaknya bakal sia-sia aja. Suara tak kehitung. Dan suara pun sudah terisi, sehingga tak bisa dimanipulasi. Seperti dua sisi koin.

Pertama kalinya nyoblos (dan bisa nyoblos 2 minggu setelah umur 17 tahun).

Sekitar 30 menit berlama-lama di TPS, akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa:

  • Saya milih caleg yang ‘dipercaya’ karena mereka ‘tetangga’
  • Saya milih cuman satu caleg setiap kategorinya
  • Yang bukan tetangga, saya pilih yang saya rasa ‘oke’ secara subjektif

Sebelum hari H pemilu legislatif ini, para pebisnis memanfaatkan kesempatan di hari tersebut untuk beberapa alasan menurut saya. Promosi mereka ini, menurut saya, menaikkan dongkrak para pencoblos agar bersemangat untuk nyeblos dan enggak golput. Beberapa sumber dari Bisnis.com, LintasMe, dan Okezone membeberkan beberapa promosi yang bisa didapatkan setelah mencoblos, dengan menunjukkan jari bekas tinta setelah dari TPS. Saya mencoba untuk mendapatkan promosi gratis kopi susunya Starbuck, tapi alangkah nasibnya saya tidak kebagian mendapatkan jatah di Starbuck di salah satu mal.

Cuman kebagian foto pas ngantre doang.

Dan pastinya, kamu sudah nyoblos dong ya? Kenapa kamu musti nyoblos? Karena:

  • Dengan ikutan nyoblos, kamu sudah ikut mendukung perkembangan politik Indonesia untuk lima tahun kemudian
  • Kamu enggak masuk ke golongan putih (golput). Sekalipun masuk, tetap musti datang dan nyoblos, dengan catatan kertas suara kamu dipakai tidak sesuai dengan kaidahnya
  • Kertas suara kamu tidak bisa dimanipulasi/tidak kosong, jika kertas suara kamu sudah kamu pakai

Nah, kira-kira begitu. Pengen nyoblos tapi belum cukup umur? Sabar yak. Semua ada saatnya. Hehe. 😀

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s