Mengenai The Raid 2 dan rating dewasa

Cuman buat ngingetin aja, kali aja ada yang udah semangat buat baca ini tapi ujung-ujungnya malah ngomel-ngomel. Buat yang belum nonton The Raid 2: Berandal… iya, yang belum nonton The Raid 2: Berandal. Jangan sampai sakit hati cuman gara-gara nanti bakal baca spoiler-spoiler yang bisa ditemui di sepanjang tulisan ini. Kalau udah nonton sih, yawes. Malah kalau ada yang ngebantuin saya buat ngisi kekurangan tulisan ini juga tak apa-apa. Oke, gitu aja sih peringatannya.


The Raid, sebuah film aksi garapan Gareth Evans yang tayang perdana pada tahun 2011 lalu, sukses mendapatkan beberapa penghargaan dari adegan film dengan aksi-aksi yang mencengangkan. Dengan balutan berbagai gerakan bela diri, katakanlah pencak silat, yang dilakonkan oleh Iko Uwais sebagai Rama dan Yayan Ruhian sebagai Mad Dog, berhasil membuat para penonton terpana dengan gebuk-gebukan mereka. Berlatar cerita tentang sebuah apartemen yang menjadi sarangnya pemukim orang-orang miskin dan mempunyai reputasi rendah dan mengenaskan yang diketuai oleh Tama, digerebek oleh sekelompok anggota polisi elit (yah, bisa dibilang SWATnya Indonesia lah), di mana Rama termasuk di dalamnya. Aksi penggerebekkan bukannya berjalan dengan harapan bisa mulus, akan tetapi justru malah menjadi minus di pihak polisi mengingat sebagian besar dari mereka masih berstatus baru alias berpangkat perwira. Semakin cerita mendalam, semakin kompleks bahwa sang letnan ternyata berkhianat dan malah pengen menang sendiri. Sementara Rama yang masih bertahan sudah banyak menumpas warga yang ada di apartemen, yang mencoba untuk membunuhnya. Setelah itu, bersama saudaranya Andi, Rama berhasil menumpas Mad Dog, kaki tangannya si Tama. Singkat cerita, sang letnan pun tak berkutik dan ditangkap. Andi yang kini berkuasa, memperbolehkan Rama dan orang-orang tersisa lainnya yang masih hidup untuk dapat keluar dari kompleks apartemen menyeramkan itu.

Tiga tahun berlalu. The Raid kini mempunyai sekuelnya yang tayang pada tanggal 28 Maret 2014. Kebetulan aja tanggalnya bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Tapi itu hanyalah kebetulan semata, enggak ada sangkut pautnya dengan cerita. Saya kurang paham betul awal ceritanya seperti apa, tapi yang jelas background cerita dari The Raid 2 berlangsung dua jam setelah cerita The Raid. Karena pada saat saya mau nonton, saya agak telat untuk datang ke bioskop. Kebetulan pada saat itu saya sedang asik-asiknya menyelesaikan satu match Dota sampai selesai, dan tidak menitip dibelikannya tiket ke teman (karena saya juga rencananya mau beli tiket). Sampai di sana, begitu saya cek, ternyata tiket untuk jam 3 sudah habis. Saya terpaksa menunggu di luar selama 3 jam demi bisa menonton, dan itupun kepotong selama 15 menit karena musti menunggu waktu shalat Magrib tiba dan shalat terlebih dahulu.

Saya datang, ternyata adegan sudah sampai di gebuk-gebukan di penjara, seperti yang juga pernah saya tonton di trailer sebelumnya. Setelah gebuk-gebukan, alur cerita dipersingkat menjadi dua tahun kemudian. Rama berhasil bebas dari cobaan hidup di penjara, sekaligus juga melepaskan Ucok, anaknya Bangun, pemimpin sebuah geng besar di Indonesia (dalam Merantau Universe). Di saat yang bersamaan, Rama juga telah diangkat menjadi anggota dari brotherhoodnya Bangun dan sekaligus menjadi kaki tangannya Bangun. Rama tahu, bahwa misi ini hanyalah misi undercover. Mungkin kalau kamu pernah main Sleeping Dogs, kira-kira kurang lebih mirip cerita antara Rama dengan Wei Shen. Menjadi double agent.

Bukan tugas yang mudah memang. Begitupun berat, tetap kondisi masih bisa dikendalikan oleh Rama. Konflik muncul ketika Bejo mulai ganas dalam menggencarkan strateginya untuk bekerja sama dengan Ucok. Perkataan licik, perjanjian menggiurkan, dan kesamaan misi visi di antara mereka yang timbul dari hasrat buruk yang mendalam, menjadikan emosi Ucok semakin tak terkendalikan. Mulai dari Prakoso dan anak-anak buah dari brotherhood Bangun yang ditumpas akibat niat jahat Bejo dan Ucok, kemudian diikuti dengan kabar burung tentang perebutan kekuasaan oleh pihak Goto selaku geng penguasa di Jepang. Tentu saja hal ini memicu amarah, dan berhasil dimediasi oleh Bangun. Tapi, naas pun tiba. Bangun pun mati ditembak oleh anaknya sendiri. Rama yang tadinya masih kesakitan parah, setelah beberapa saat sembuh mencoba untuk datang ke atas dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan pertarungan sengit Rama melawan segerombolan anggota berandalan pun dimulai.

Endingnya? Udah pasti semua koit dong, kecuali Rama. Kubu Goto yang bisa dibilang ‘late party’ cuman jadi penampilan figuran doang. Enggak ada aksi sama sekali. Kayak, mereka udah tinggal enak. Mungkin bagi kalian yang udah nonton merasa: “Ah, sayang banget kalau ternyata orang Jepangnya enggak ikutan gebuk-gebukan”. Well, sebenarnya udah sih kalau Kazuki Kitamura di film KILLERS (2014). Ada kemungkinan kalau orang Jepangnya bakalan nampil bacok-bacokan di film Merantau Films selanjutnya.

Saya cukup penasaran dengan awal-awal cerita di seputaran 15 menit, mengingat di paragraf sebelumnya saya menyebutkan bahwa saya telat masuk ke ruang teater bioskop. Rencana saya sih, pengennya bakalan nonton lagi untuk pengen tahu cerita awalnya seperti gimana. Soalnya pada kebayang nih di pikiran, kok ada cerita yang mengganjal. Saya belum lihat adegan Andi gimana. Saya belum tahu gimana awal ceritanya si Bejo dan Reza bisa berkongkalikong. Dan beberapa cerita di awal yang saya sendiri memang belum tahu. Di awal aja nggak tahu, apalagi di akhir. Bikin penasaran. Dua setengah jam habis, dan akhirnya suara dileburkan dengan suara background musik, dan hanya diakhiri dengan ucapan Rama: “Tidak, cukup”. Sebenarnya apa sih yang bisa diambil hipotesis dari sana? Mungkin kamu bisa baca artikel ini untuk lebih jelasnya.

Okeh. Setelah panjang lebar saya ceritain sebagian ceritanya, maka dengan ini saya pengen kasih tau seperti apa penilaian saya terhadap film ini. Melalui pikiran pendek yang singkat, saya kepikiran untuk ngasih film ini dengan skor 8,7-8,9. Pulangnya, begitu saya lihat di IMDb ternyata nggak jauh beda dengan skor yang saya pikirkan. Memang, untuk film action berkelas ini lebih fokus ke actionnya, terutama di bagian martial artsnya. Ada sedikit peningkatan dalam storytelling, yang artinya penyampaian pesan dalam cerita lebih jelas daripada film sebelumnya yang tidak ada penggambaran cerita melalui adegan sama sekali, hanya melalui cerita yang disampaikan oleh tokoh-tokoh tertentu. Dan saya juga mendengar dari beberapa opini orang yang menyebutkan bahwa adegan bacok-bacokannya ada yang disengaja lambat agar salah satu tokoh utama bisa dapat timingnya. Ya kalau menurut saya sih sah-sah aja ya. Kayak kamu lagi main game action yang ada QTE-nya (quick time events). Musuh disengaja slow motion/slow pace supaya kamu bisa ngepas timingnya untuk mukul. Di film pun gitu juga. Refleks tokoh utama haruslah lebih cepat daripada refleks musuh agar dapat timing yang pas. Kan malu gitu kalau timing kita enggak pas dengan timing musuh. Untuk film yang belum jadi dan masih diproses, okelah bisa di’retry’. Tapi gimana untuk hasil yang udah jadi? Serasa mustahil.

Sebagai penutup, saya ingin membahas tentang rating Dewasa. Cukup banyak khalayak ramai yang merasa terganggu atas adanya film ini, seperti pendapat ketua PPFI, Firman Bintang dan juga penolakan tayang The Raid 2 di negeri jiran, Malaysia. Untuk kasus yang pertama, menyinggung pernyataannya Firman Bintang yang seperti berikut ini:

“Apa tujuan pemerintah memberi apresiasi pada film The Raid 2: Berandal? Kalau memang didukung dan diapresiasi seperti itu, Indonesia ramai-ramai saja bikin film tentang kekerasan,”

Menurut saya, apa yang salah dari film ini? Toh genrenya juga udah ngepas. Action. Dan tak ada salahnya kalau dibikin rating Dewasa, karena memang target audiencenya untuk orang dewasa saja. Termasuk saya (yang baru saja berumur 17 tahun, sedikit mendekati 18 tahun tapi yasudahlah, toh juga sudah bisa dibilang dewasa juga, hehe).

Untuk berita yang kedua, di sana dijelaskan bahwa alasan mengapa The Raid 2 ditolak untuk tayang bukan adegannya yang terlalu gore. Pandangan saya, pasti adalah penayangan film-film action yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya di sana. Alasan saya mengapa mereka menolak menayangkan, mungkin karena ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan kebijakan dan jati diri negeri jiran di sana, seperti pada saat penggerebekan lapak industri film porno oleh gengnya Bangun. Pada saat Topan ditagih uang bulanan oleh Ucok karena merasa kurang atas bayaran bulanan yang selama ini ia bayar, tampak ada bayangan siluet di mana seorang lelaki dan perempuan sedang (maaf) melakukan adegan seks, dan mungkin juga pada saat itu ada yang ngerekam adegan mereka. Kemudian ada adegan di mana si Ucok sedang mempermainkan cewek-cewek pelayan di suatu bar karaoke. Dan ada pula adegan beberapa detik, saat lima orang sexy girl dancer sedang menari. Sebagai negara jiran yang mengutamakan prinsip hukum Islam (walau menurut saya enggak semuanya Islamis), hal ini menjadi cukup jelas mengapa negara Malaysia enggan menayangkan The Raid 2 di bioskop-bioskop di negara mereka.

Kalimat-kalimat sebelumnya juga menjadi alasan mengapa saya sebaiknya tidak mengajak orangtua untuk ikutan nonton film sekuel The Raid ini. Berbeda dengan prekuelnya yang pure cuman fighting ditambah sedikit alur cerita supaya ada rasanya, di sekuelnya ini memang jauh lebih rich dalam cerita dan koreografi gerakan gebuk-gebukannya. Termasuk adegan yang kurang sesuai di negara yang berprinsip Islamis yaitu Malaysia, tetapi sebenarnya sah-sah aja untuk ditonton karena sudah sesuai dengan rating. Dan lagipula, adegan-adegan tersebut hanya sebatas di peringkat questionable, belum explicit. Artinya masih sebatas ditanda-tanyakan. Belum buka-bukaan, tapi juga enggak bisa dibilang tertutup. Kalaupun explicit, entar kredibilitasnya 21 Cineplex dipertanyakan dong. Mengapa mereka menayangkan film-film dewasa yang berbau seks secara explicit, dan nantinya bakal diganyang oleh sebagian kaum anarkis/ekstremis/fanatik agamis kalau sampai terjadi. Kayak film Act of the Killing/Jagal yang sampai saat ini belum tayang-tayang di Indonesia, karena filmnya yang memang di satu sisi mendiskriminasikan kaum militan/preman tapi di satu sisi juga menguak sisi buruk premanisme di Indonesia seperti apa.

Oke, sampai di sini dulu ramblingnya. Sebenarnya pengen nulis di hari yang sama pada saat saya menonton (31/03), tapi apa dikata, motivasi menulis pun tidak ada. Yang penting sekarang masih sempat nulis lah. Saya usahain besok juga ada tulisan saya.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Advertisements

4 thoughts on “Mengenai The Raid 2 dan rating dewasa

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s