Khidmatnya mengikuti Indigo Incubator Medan Roadshow 2014 di malam Valentine

Jujur aja ya. Sekarang ini aku lagi jomblo. Status bukan berpacaran; enggak terikat sama yang namanya pacar, apapun itu. Dulu sih pernah pacaran, cuman udah empat kali pacaran rasanya enggak pernah merasa tenang karena emak udah beri nasihat sama aku kalau sebisa mungkin hindari yang namanya pacaran. Karena pacaran membawa mudharat, membawa kepada… ehem-ehem tau sendiri lah gimana. Sampai berujung ke nikah. Emak saya tuh kepikirannya begitu. Saya enggak bisa ngelawan dia, karena apa yang dia katakan itu memang ada benarnya juga.

Tepat tanggal 14 Februari ini, di saat seluruh dunia sedang merayakan/memperingati yang namanya hari Valentine, di mana stereotip awam di seluruh dunia untuk memperingati hari Valentine dengan cara saling mengasihi antar lawan jenis dengan saling memberi kue atau coklat. Padahal kenyataannya menurut sejarah, hari Valentine ini diperingati untuk jasa Santo Valentinus yang baik hati dan pemurah, kemudian mati dengan tragis dengan dihukum gantung. Sebagai seorang Muslim, saya turut sedih juga mengetahui asal mula ceritanya seperti gimana, tapi, saya hargai setiap sejarah, apapun itu. Tidak peduli mau agama apapun, selagi kita mengetahui alur ceritanya mengapa kejadian bisa seperti ini, kita juga dapat menghargai setiap perbedaan dengan mengetahuinya. Sehingga ke depannya enggak gampang terprovokasi oleh berita-berita miring yang mengantarkan ke perdebatan yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu berharga saja.

Aduh, kok jadi ngelantur gini. Oke deh, kembali ke topik. Entah karena alasan apa bang Akbar memilih tanggal 14 Februari sebagai tanggal roadshow untuk acara Indigo Incubator untuk tahun 2014 ini. Apakah karena roadshow Indigo Incubator 2014 selama satu-dua minggu ini sudah diadakan sebelumnya di kota-kota lainnya, sedangkan kota Medan (mungkin) menjadi kota terakhir dalam proyek roadshow mereka, sehingga udah jauh-jauh hari dipersiapin dan enggak bisa dikurang-lebihkan lagi acaranya. Menurut saya sih begitu. Atau jangan-jangan, bang Akbar bermaksud baik, dengan mengadakan acara ini bertepatan dengan hari Valentine, agar para jomblowan dan jomblowati dapat berkumpul di satu tempat, saling berkenalan satu sama lain, mendapatkan jejaring tambahan/baru, kopdar bagi yang sudah saling kenal, dan supaya mereka enggak ‘kesepian’ saat merayakannya di rumah. Bisa jadi…….

Tak luput dari perhatian saya, bang Akbar juga udah jauh-jauh hari ngasih kabar ke media jejaring sosial seperti Facebook dan platform micro-blogging seperti Twitter. Dia juga mempromosikan acaranya lewat grup-grup yang ada di Facebook. Aku yang rada-rada nolifer dan (ke)sering(an) banget buka gituan, langsung tahu dan langsung daftar tanpa mikir lebih lanjut. Tapi, khusus aku aja yang tahu. Teman karib aku seperti Reza enggak aku perhatikan, jadi gak kuajak dia. Buat Reza, maaf ya 😛

Setelah tahu acara ini, niat aku sih pengennya kucoba ajak adik-adik kelas dari ICT untuk ikut serta juga. Tapi, karena penyampaian bahasaku dalam mempromosikan acara yang terlalu teknis dan kurang dimengerti oleh mereka, sehingga ajakan acaraku ini tidak tertarik dan diminati oleh mereka. Kalau saja aku menyampaikan promosi acara dengan bahasa yang lebih simpel… tapi sebenernya bisa aja sih. Ketua ekskul ICT yang juga merupakan temen sekelasku menyaranku agar mengontak mereka, tetapi sialnya, kemalasanku yang jauh lebih berat, tidak berbanding melebihi semangatku menghindarkan agar aku dapat mengontak mereka. Padahal daftar kontaknya sudah kudapatkan, tetapi karena alasan seperti itulah yang membuatku hanya datang sendirian tanpa ditemani oleh orang-orang dari sekolah. Plus, waktu yang terlalu malam; yang menurut sebagian dari anak-anak remaja kurang cocok untuk berpergian, membuat mereka jadi segan dan enggan untuk mengikuti acara ini.

Omong-omong, soal waktu mulai acaranya, bisa dibilang ngaret (juga). Sepertinya untuk soal waktu aku enggak bisa bicara banyak, mungkin karena udah dari sananya kalau mau bikin acara-acara di Indo itu rata-rata pada ngaret gitu. Padahal aku udah berusaha datang secepat mungkin (padahal akupun ngaret juganya) jam 7 lewat sikit, tetapi masih pada belum mulai juga. Mungkin yang di jadwal itu waktunya ditentuin agar yang lain dapat datang dulu yah, sekalian mana tahu ada yang mau dikerjain. Kayak tadi, ada kontes upload foto paling gokil ke Twitter, sebelum hidangan makan malam disiapkan. Aku yang datang jam 7, enggak kesampean buat gitu-gituan.

Perjalanan ke TKP sebenarnya enggak jauh-jauh banget dari area sekolah. Universitas Methodist Indonesia dengan jarak sekolahku bisa dibilang hanya sekitaran 500 meter saja. Tapi, karena alasan saya masih pakai celana sekolah, kaos sudah bau keringat tak sedap, dan gak bawa kamera, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah dengan kondisi ngebut dan motor agak mleduk-mleduk gitu. Jadi kurang nyante gitu bawaannya, tapi yah mau gimana lagi. Belum aku servis tuh motor.

Sampai rumah, aku langsung sigap untuk mandi, ganti baju, siapin segala perlengkapan seperti laptop dan kamera, lalu pergi. Buat emak, maaf ya mak kalo aye melanggar perintah emak. Padahal emak udah nyuruh aye untuk solat Magrib di mesjid, tapi sayanya kepikiran “wah, kayaknya telat banget nih” dan memutuskan untuk solat Magrib di mesjid sekolah karena jaraknya yang dekat, as of jadwalnya sendiri ditulis mulai pukul 6 sore dan selesai pukul setengah 11. Tak disangka acaranya mulai 1 jam 30 menit setelahnya, dan selesai setengah jam setelah waktu acara yang telah ditentukan.

Begitu tiba di TKP, rupanya waktu aku dan bang Din nyampe itu barengan. Sampai-sampai bang Din nyeletuk: “Wah, kau ngikut aja ya sampenya,”. Ah, bisa aja nih bang Din, ujar aku. Bang Din pun langsung melontarkan pertanyaan yang seharusnya kuingat sebelumnya, ke mana si “teman” yang dia maksud? Ah, ternyata aku lupa memberitahukan padanya. Aku hanya bisa jawab lesu bahwa aku lupa memberitahukannya. “Cemana pun, De..” ucap bang Din sambil lemes ndengerin jawabanku. Heheh.

Kami berdua langsung masuk ke dalam, registrasi ulang, dan cari tempat duduk dengan orang yang pernah kami jumpai sebelumnya. Dan pandanganku langsung mengarah ke tempat kumpulan orang dari Indonesia Berkebun, bang Fikri dan kak Sabilla, serta bang Hendra (?) yang ngurus akun Medan Startup. Sebentar aku nyapa mereka, letakkin tas, terus langsung ngambil makanan bareng bang Din. Huft, gak sia-sia juga aku datang ke sini, soalnya dapet makanan gratis, pikirku. Ngoahahahaha.

Kali ini aku nggak terlalu banyak ngambilnya. Porsi yang kuambil normal-normal saja menurut takaran versiku sendiri. Mengingat segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik (cielah). Usai kuambil porsiku, dengan santai aku langsung ke tempat duduk dan makan dengan lahap. Sementara bang Din dan kenalan-kenalannya asik ngobrol ngalor ngidul sambil makan dengan lambatnya. Begitu aku selesai makan, bang Din pun masih tetap melanjutkan makannya sambil ngobrol. Barulah pas aku ngambil gorengan pisang ditambah dengan selai srikaya, barulah bang Din selesai makan. Memanglah, kalau bicarain soal tetek bengek bisnis dan komunitas, enggak ada habis-habisnya untuk diomongin.

Tiba-tiba, ada mbak-mbak catering pengen ngutip piring. Dengan alamiah aku membantu mengulurkan piring nasiku dari bawah kursi sampai berada di tangannya. Sementara bang Din dan yang lain pada sewot sama tindakan yang telah kulakukan. Salahku piye!?

Acara bentar lagi mau dimulai. Sebagai awalan, mbak-mbak MC berpesan kepada semuanya agar menyiapkan satu kartu nama, agar nantinya dapat dipilih secara acak/random dan yang terpilih bakal mendapatkan hadiah doorprize berupa hape. Kalo gak salah, yang menang kontes foto dapet hape Samsung Galaxy Core, yang menang top tweet dapet hape Xperia L, tapi aku lupa yang hadiah hasil acak/random kartu nama ini dapet apaan.

Aku, dengan muka melas, minta supaya dapat kertas untuk dijadiin kartu nama. Bang Din dengan baiknya (walau masih disempat-sempatkannya dibecandain) memberikanku sepotong kertas dan beberapa noda tinta pulpen untuk digoreskan ke kertas agar dijadikan rekayasa kartu nama. Semoga amalmu diterima di sisiNya, bang. Amin.

Singkat cerita, aku enggak mau panjang lebar di sini, ngebahas satu per satu tentang apa saja yang dibahas di sana. Semuanya sudah aku tulis dengan mode real time dan live tweet di akun Twitter secondaryku. Kamu bisa membacanya yang mana tweetnya menggunakan hashtag #IndigoIncubator. Dan pada akhirnya, aku kembali putus harapan. Setelah gagal dan salah setting dalam merekam voice call di group chat di Skype, tambah lagi aku nggak menang sama sekali dalam kontes apapun. Termasuk kontes top tweet. Padahal aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga, jiwa, raga, dan birahiku (???) agar dapat memenangkan kontes tersebut. Tapi……… alangkah sebalnya kalau yang menang kontes tersebut adalah orang di sebelah kananku. Ya, orang itu tak lain dan tak bukan adalah bang Fikri. Dua jari jempol tanganku ke bawah untuk abang. Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhh.

Pulang-pulang, aku enggak bawa apa-apa selain hanya tas kamera dan laptop yang dipakai untuk menampung segala peralatan yang selalu kubawa di saat ada acara. Dan aku masih kepikiran, kenapa aku enggak menang. Alasan selain bahwa aku tidak menang karena akun sekunder yang kupakai less influential ketimbang akunnya bang Fikri.

Advertisements

4 thoughts on “Khidmatnya mengikuti Indigo Incubator Medan Roadshow 2014 di malam Valentine

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s