Pesiar ke Pulau Tumasik: Bahagian Pertama

Yap, sesuai judulnya yang rada-rada berbau Melayu (biar nampak kesannya baru pulang dari sana, haha), bulan ini saya pesiar ke pulau Tumasik. Kedengeran eksotis kalau dibandingkan dengan negara Singapura. Awalnya memang dinamai pulau Tumasik, lalu setelah jadi negara namanya berubah jadi Singapura (Singa artinya ya memang singa, pura artinya kota).

Mengingat saya dan adik saya sudah selesai ujian dan beberapa hari lagi bagi rapor, rasanya kurang lengkap gitu kalau belum ada liburan. Jadinya saya ngambil liburan ke Singapura bersama ibu dan adik perempuan saya.

Ibu saya mengajak saya dan adik saya untuk liburan bertiga. Hanya bertiga, karena kakak saya sedang di Bandung dan hanya sedikit sekali hari-harinya untuk libur. Begitu juga dengan bapak saya yang masih kerja di hari-hari itu, dan mungkin enggak bisa mengambil cuti pada hari-hari itu, sehingga hanya kami bertigalah yang berangkat.

Ibu saya pun menawarkan dua pilihan: empat hari Malaysia-Singapura atau tiga hari hanya di Singapura saja. Saya pikir, kalau jalan-jalan juga di Malaysia, untuk apa. Apalagi saya sudah pernah ke Malaysia sekali, saat ada jambore pramuka internasional. Kalau soal adik saya yang belum pernah ke sana, saya sih enggak peduli amat hahaha. Kayaknya bakalan susah kalau mau beli-beli di Malaysia, jadi saya pikir pilihan ke Singapura saja adalah pilihan tepat untuk saya, ibu saya dan adik saya. Maka, diputuskanlah saat itu juga untuk memesan tiket PP Medan-Singapura untuk tanggal 17 dan tanggal 19 Desember. Tak lupa, ibu saya membooking kamar penginapan di sebuah hostel di Chinatown, dan juga booking tiket Universal Studios dan S.E.A. Aquarium.

Dan tibalah jua harinya. Tidur agak cepetan, sekitar jam 9.45 malam saya sudah (disuruh) tidur agar bisa bangun pagi. Pukul empat, saya dibangunkan dan bergegas untuk mandi. Lalu sedikit persiapan, dan berangkat pada sekitar 4.30 pagi dan sampai sekitar sejam. Awal-awal mau berangkat, eh tahu-tahu dompet bapak kelupaan, akhirnya balik lagi deh buat ngambil dompetnya.

Selama perjalanan, hanya terdengar pembicaraan kecil antara bapak dengan ibu, juga sang adik. Beberapa kilometer lagi sebelum sampai, bapak sempat sewot perihal belokan antara keberangkatan dan kedatangan, mengapa enggak dibuat jauh-jauh sebelum hampir sampai ke bandara.

Jarak antara pembicaraan tersebut dengan sampainya kami ke pintu masuk keberangkatan internasional di bandara berlalu dengan sangat singkat. Dan kesan saya selama berada di bandara Kualanamu ini, yah, lumayan. Baru pertama kali juga soalnya. Dan enggak tahu apa-apa mengenai dalamnya bandara yang baru diresmikan beberapa minggu yang lalu. Mau ke kounter penerbangan untuk check-in dan ngambil border pass aja masih ditunjukkin sama seorang bapak tua yang saya kira dia sudah cukup berpengalaman di bidangnya ini. Dan ternyata, masih belum buka juga.

Sambil nunggu, kami nyari-nyari musholla dan toilet. Toiletnya sih ketemu, dan saya sempat buang air besar yang menyita waktu cukup lama untuk yang lain. Kalau mushollanya sih, denger-denger katanya di bawah. Kebetulan kami melihat ada keluarga yang solat di dekat lift yang belum beroperasi. Jadi, setelah saya keluar dari toilet, kami langsung gelar sajadah di situ. Yaaaah, abisnya kalau nunggu buka counter maskapai pesawat terus turun, periksa dan sampai di ruang tunggu, bakalan kelamaan dong.

Beberapa saat setelah menunaikan ibadah, eh, counter maskapainya buka. Yang pada nungguin juga udah banyak yang ngegerombolin counternya. Ramai. Kebetulan kita dapetnya belakangan karena lagi nungguin.

Hitung-hitung ada waktu untuk nunggu, aya lihat ada anggota keluarga yang nampaknya lagi kepepet banget tuh. Dari tadi nunggu di situ, dan rupanya udah disuruh cepet aja. Saya pun heran, nih kok buru-buru banget. Begitu pun sampai di antrian imigrasi, mereka masih aja enggak sabaran dan takut telat. Pas kita ngantri, kita kasih lewat mereka untuk lebih dulu. Dari bahasa yang mereka ucapkan sih, kedengerannya mereka orang Melayu yang pengen balik ke Kuala Lumpur.

Usai dikasih cap stempel di paspor dan tinggal dikit lagi ke ruang tunggu, eh rupanya pas di screening ketahuan bawa air minum dan nasi. Ga jadi masuk deh…. musti dihabisin dulu makanan minumannya hahah. Jadinya kita sarapan di tempat duduk yang enggak jauh dari pintu masuk screening x-raynya. Dan ternyata enggak habis. Terakhir ibu kasih ke cleaning service bandara. Eh, tahu-tahu masih ada aja. Dan ternyata itu sardin. Kata petugasnya sih enggak apa-apa. Fiuh.

Perjalanan dari Medan ke Singapura memakan waktu satu jam dua puluh menit. Begitu sampai, kita kebingungan. Yang pertama kita incar itu adalah toilet. Tiba-tiba, ada sesuatu yang tidak biasa dilihat di Indonesia, tapi menjadi biasa di sini. Air. Iyah, lupa saya kalo airnya udah steril, jadi bebas minum airnya dari keran. Gak heran, orang-orang yang lewat ke toilet juga ngisi botol minum mereka dengan air keran yang sudah dijamin steril dan dapat diminum. Kalau tau gini, mending bawa botol minum kosong, haha.

Habis itu, kita enggak tahu lagi mau nyampe ke hostel naik apa. Awalnya sih kita tanya sama orang sekitar. Dan saya pula yang musti nanya ke orang tersebut. Maklum, emak enggak fasih amat berbahasa Inggris. Adik pun juga enggak bisa diandalkan untuk berbicara. Katanya, kalo mau ke MRT, naik dulu Skyline ke Terminal 2. Sampai sana, saya pun enggak tahu lagi. Saya tanya sama orang lain, eh ternyata juga satu kota. Sekeluarga. Katanya sih, kalo naik Skyline itu gratis (baru tau, maklum kedua kalinya ke sini pas gede setelah pertama kalinya ke sini pas masih bocaaaaaah banget, 7 bulan πŸ˜† ), dan entar baru ke MRTnya. Saya pun mangut-mangut.

Tak begitu lama, kami pun sampai juga di MRT, dan juga tempat ticketnya. Emak sempat ngobrol sama keluarga yang juga liburan ini dan akan tinggal di area Lavender, katanya sih ambil aja one-way ticket yang jauh lebih murah dari ngambil kartu MRT lalu diisi ulang. Di sini, saya sempat bingung antara dua pilihan kartu. Terakhir, saya memilih membeli tiga kartu MRT dan tiap kartu diisi saldo 10 SGD. Total saldo 17 SGD tiap kartu yang dimiliki. Yaaaaah, cukup deh itu buat tiga hari. Biaya yang dikeluarkan, 66 SGD.

Kami bertiga pun langsung menuju ke MRT. Melihat rutenya, kayaknya bakal ganti dua kali ini. Satu kali ganti di Tana Merah, satu lagi di Outram Park. Jarak dari Changi ke Tana Merah cukup dekat, maka tak ayal bila emak dan adik heran, cepat banget gantinya. Perjalanan dari Tana Merah ke Outram Park pun terbilang cukup jauh, karena melewati 12 tempat pemberhentian. Kali empat, dan sekitar lebih kurang 51 menit dihabiskan dalam subway.

Outram Park pun lewat, kita ganti ke North East Line. Warna ungu. Menuju Chinatown yang hanya sekali lewat. Paling makan empat menit. Jarak jalan kaki antara East West Line dengan North East Line cukup dekat untuk dijangkau. Tapi gak bisa jalan cepet-cepet sih, emak jalannya cukup pelan karena mengingat umur.

Tiba di Chinatown, kita malah naek ke elevator di mana tempatnya itu tempat pasar. Yaaa awalnya enggak tahu mau ke hotel lewat arah mana. Udah sempetin lihat peta di situ sih, tapi yaaa percuma aja. Kirain langsung ada gitu Mosque St atau Pagoda Stnya, eh rupanya di seberang.

Awalnya aku sempat nanya ke anak muda yang nyebarin kertas-kertas promosi gitu ya, cuman katanya dia sendiri bilang enggak tahu. Yaudah deh, kita ke depan jalan sampai ke depan People’s Park Complex. Bingung. Gak tahu ke mana. Sempet sewot nih emak, nyaranin tanya sama bapak-bapak yang lewat. Tapi akunya rada-rada enggan mau nanya.

Eh, tau-tau ada bapak tua yang mau nolongin. Dia nanya pake bahasa apa. Begitu dia bilang bahasa Indonesia, saya iyakan. Kemudian dia bantuin kami dengan bahasa Indonesia campur Melayu dan Inggris. Tak apalah, asal membantu. Katanya, lewat jalan seberang, terus belok kiri. Ya kita ikutin aja.

Sampai seberang, entah lewat kiri yang mana pula. Lupa lagi deh… dan kita tetep menelurusuri jalannya, sampai ketemu seorang warga Singapur yang berketurunan India yang lagi maen game di hapenya. Kita tanya ke dia, dan dengan bantuan Google Maps di hapenya, dia bilang cukup terus aja, mentok, terus belok kanan, dan entar ada kuil India terus nyebrang.

Kita ikutin apa yang dibilangnya tadi. Sampai belokan kanan dan ada jalan lagi, eh emak malah ke kanan. Dikiranya Backpacker Hostel itu penginapannya. Rupanya salah. Sampai malu banget karena udah pemiliknya udah lama nungguin, dan ternyata bukan itu. Haha. Akhirnya, setelah kira-kira dua puluh menitan nyari-nyari (padahal ada Galaxy Tab, tapi enggak dipake karena enggak ada kartu yang bisa dipake buat internetan), ketemu juga tuh penginapan.

Penginapannya terletak di dekat jalan kecil bernama Mohammad Ali St. Yah, kurang lebih kayak gang gitu lah. Sampai sana, kita disuguhi dengan ruangan yang cozy, nyaman, dan dengan hiasan-hiasan yang ciamik lah pokoknya. Kami langsung samperin mas-mas dan mbak-mbak yang jadi resepsionis. Emak pun langsung nunjukkin kertas bukti pemesanan kamar. Dan saya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata ngomong sama mbak dan masnya, dengan campuran bahasa Melayu. Dengan santainya, mbak resepsionis bilang kalau kita nunggu dulu sebentar. Oke deeeeeeh, kita bertiga nunggu dulu, duduk dulu di sofa. Saya pun mencoba mengkonek wifi melalui Galaxy Tab, dan lima menit kemudian kami pun dipanggil. Cuman ngasih tahu bahwa baru bisa ke kamar mulai jam 3 sore. Alamak.

Yaudah deh, akhirnya kita bertiga nitipin semua barang bawaan kita ke resepsionis, lalu keluar dari penginapan. Kebetulan posisi penginapan kami enggak terlalu begitu jauh dengan mesjid. Dan juga kuil Hindu. Dan juga deket daerah pecinan…. yaiyalah. Wong kita tinggalnya di Chinatown.

Jalan kurang dari 50 meteran aja udah nyampe tuh mesjid. Namanya Masjid Jamae (Culia). Bisa disebut Masjid Jami’ juga sih. Desainnya bisa dibilang, rada-rada bergaya Indian-Arab-Eropa-Cina gitu. Begitu masuk, yaaa suasananya juga terbilang kayak mesjid yang ada di Indonesia. Saya pun langsung mengambil wudhu dan melakukan sembahyang. Baru beberapa menit mengerjakan solat, eeeeeeh rupanya baru azan. Mau enggak mau saya pun rela ikutan solat bersama jemaah lainnya. Yang solat pun dari berbagai ras, jadi kerasa gitu kebersamaannya.

Habis solat, saya nunggu emak dan adik sebentar, dan kemudian kami bertiga mencari restoran halal untuk makan siang. Enggak jauh juga dari mesjid, ada satu restoran India yang udah disertifikasi halal bernama Taj. Tempatnya cukup enak untuk makan. Pelayanannya juga oke. Namun, harganya sedikit kurang murah, hahaha. Di sana, kita makan dengan lauk yang berbeda. Tentunya dengan citarasa India.

Enggak terasa, udah kenyang. Kita pun balik ke penginapan. Dan ternyata udah dikasih masuk sama resepsionisnya. Dengan senang hati, seorang pegawai penginapan bernama Safreena memperkenalkan seperti gimana penginapannya. Mulai dari di mana sarapannya, cara masuk dan keluar ruang penginapan, di mana kamar mandinya, tempat tidurnya yang mana aja yang bisa dipake, loker, dan hal-hal tambahan lainnya. Saya bisa memahami seluruh apa yang ia bilang dan gesturenya, tapi rada-rada kaku saat ingin bertanya dan menjawab. Yaaah, lagi-lagi soal jarang ngomong bahasa Inggris ini mah.

Kita pun mengambil waktu istirahat sebentar. Saya yang dari tadi sibuk mikirin AFA Shop, berencana untuk membujuk emak supaya kita bertiga pergi ke sana. Sebenernya emak juga pengennya mau ke Orchard, lihat-lihat ke sana, sekalian belanja juga. Saya juga enggak mau kalah. Saya terus bujuk. Dan akhirnya mau juga. Fiuh.

Dengan rasa bangga sekaligus memegang kemenangan, akhirnya saya berkesempatan juga untuk pergi ke AFA SHOP. Sebelumnya saya udah cari-cari tahu juga mau ke mana aja selama di Singapur. Bahkan sempat saya tanya ke teman saya, enaknya kalau beli barang-barang berbau Jejepangan di Singapur itu di mana aja. Dan salah seorang teman saya merekomendasikan saya untuk berbelanja di AFA SHOP. Langsun saya cari di Google. Ketemu. Ada artikelnya yang ngereview venuenya, tapi sayang sekali saya enggak lihat di mana alamat lokasinya berada. Yang saya lihat jelas-jelas hanyalah di halaman Facebooknya AFA SHOP, di mana alamatnya justru sama dengan alamat kantornya Sozo Pte Ltd, perusahaan yang mengurusi bidang event organizer Jejepangan di Singapur seperti AFA. Dan kenyataannya yang mengejutkan, kita malah ke gedung kantor SiS Technologies di mana kantor Sozo berada. Weleh weleh weleh.

Keluarlah kami dari penginapan, menuju MRT. Dari Chinatown, terus ambil ke Redhill. Sempat ganti jalur sih sekali di Outram Park. Beberapa menit kemudian, sampai juga di stasiun Redhill. Tinggal beberapa langkah lagi menuju Leng Kee Road. Saya buka dulu tab untuk ngecek ke arah mana kalau dari stasiun. Lagi-lagi GPSnya berulah, sampai muter-muter taman gajelas sih haha. Saya sebagai penenteng kamera, layaknya fotografer keluarga, mengambil jepretan foto untuk adik dan emak saya yang demennya difoto pada saat liburan. Dari perjalanan ini, kita mengambil pelajaran bahwa pengemudi kendaraan lebih menghormati orang yang ingin lewat dari jalan yang kecil. Mungkin karena udah dikasih rambu-rambunya juga kali yah.

Selangkah demi selangkah, kita lalui jalannya satu per satu. Sampai akhirnya berada di depan, eh belakang, kantor SiS Technologies. Mau masuk, tapi ragu, soalnya ada portalnya. Ada pos satpamnya juga. Ah, enggak mau tahu lah, pokoknya kami bertiga pun masuk, beberapa langkah maju ke depan dan lalu ke kiri. Ada lift dan ada papan informasi mengenai daftar perusahaan yang menggunakan gedung selain SiS Technologies. Saya cek lagi di notes saya, dan menyamai dengan yang ada. Oh. Ternyata ada. Tapi namanya bukan AFA SHOP, melainkan Sozo Pte Ltd. Saya pikir udah bener, yaudah kita langsung aja naik sesuai lantai yang terpampang di situ. Ke lantai lima.

Tiba di lantai lima, kita masuk ke pintu yang ada di sebelah kiri, dan sempat mondar-mandir saat mencarinya. Awalnya kami berusaha mencari ke kanan, tetapi enggak kelihatan. Tiba-tiba ada seorang yang keluar dari ruangan kantornya. Saya mencoba menanyakan ke dia, dan dia pun juga enggak tahu. Kemudian ada seorang ibu-ibu kantoran yang juga baru saja lewat, kemudian dia nanya ke ibu tersebut. Dia bilang juga enggak tahu. Terakhir, mereka bilang coba aja cari yang di sebelah kiri. Okelah.

Ketemu sih. Ada logo AFA SHOPnya gede-gede. Dengan beraninya saya memasuki ruangan tanpa izin. Eh, tahu-tahu, ada mbak-mbak yang lagi kerja di sono, mohon maaf sambil bilang mereka enggak melayani pelanggan. Yah, saya kecewa sih dengernya. Tapi, berhubung sudah jauh-jauh datang, enggak mungkin kan mereka biarin gitu aja. Saya bilang awalnya pengen beli barang-barang AFA. Tapi tetep aja mereka melayani saya, bahkan dikasih duduk di sofa sambil menunggu Moekana berada di tangan saya.

Kalo enggak salah, di sana saya ditanyain sama om Maurice Han soal tahu dari mana lokasi kantor mereka ini. Saya bilang, dari temen. Dia hanya tertawa kecil mendengar soal itu. Belum sempat dia menghabiskan tawa kecilnya, eh saya malah minta yang aneh-aneh. Sebenarnya biasa aja sih. Saya cuman mau minta beberapa poster yang berserakan dan bertumpukan tepat di dekat pintu depan ruangan kantor mereka. Dengan sangat yakin beliau mempersilahkan saya untuk mengambilnya! Wew. Jarang-jarang dikasih ginian. Padahal kalau dipikir-pikir, eventnya udah lama banget loh. Tahun 2012. Dan masih ada aja poster mereka, ditumpuk dengan sangat amat banyak di depan pintu kantor mereka.

Saya yang ngambilnya agak banyak, langsung disahut sama dia. “Wah, memang niat pengen bawa sebanyak itu ya?” begitulah kira-kira perkataannya dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapuranya yang begitu kental. Saya jawab iya, mengingat antusias saya terhadap poster ini udah terlalu tinggi gara-gara banyak banget poster yang bertumpukan. Beliau pun kembali ke dalam, mengambil tempat poster berbentuk silinder dengan stiker AKB48 SHOP HONG KONG di tempatnya, dan memasukkan satu per satu poster yang ada. Ada tiga jenis poster yang ia masukkan: poster Anisong, SCANDAL, dan poster Madoka Magica bonus dari AFA 2012 buat yang ikutan nonton filmnya saat di AFA pada tahun tersebut. Suatu kebanggaan juga bisa mendapatkan poster-poster tersebut. Sayang, yang SCANDAL dan Madoka Magica cuman satu per jenisnya, jadi temen-temen yang kepengen juga ngiri atas poster-poster yang saya bawa ini haha.

Usai menyelesaikan urusan saya di kantornya Sozo, saya pun berterima kasih kepada Maurice Han (mungkin dia) yang telah mempersilahkan saya untuk masuk dan dilayani dengan barang-barang yang sebenarnya bisa saya beli di AFA SHOPnya di SCAPE, Orchard. Cuman ya karena enggak saya lihat alamatnya di situs tersebut, dan hanya melihat alamat yang tertera di page Facebook, maka saya juga enggak bisa menyalahkan diri saya sendiri dong. Tapi ya enggak apa-apalah. Dari sebuah kesalahpahaman, bisa mendapat suatu keberuntungan yang kebetulan. Alhamdulillah. Sayang, saya enggak sempat untuk minta izin memfoto keadaan ruang kantor mereka. Entah karena udah segan karena telah dipersilahkan masuk atau malu-malu.

Turun dari gedung SiS Technologies, kita kembali lagi ke stasiun MRT jalur Redhill. Di dekat stasiun, ada kedai yang ngejual makanan nasi kotak. Mahal coy harganya. 19 ribuan kalau dirupiahkan. Setara sama kualitas dan harga nasi yang di foodcourt, bedanya tipis doang. Yang ini nasinya jauh lebih banyak, menurut saya. Melihat harganya yang terjangkau, ibu saya langsung beli tiga nasi kotak untuk kami bertiga. Juga tentunya dua minuman untuk kami berdua. Minuman yang kami baru saja beli, langsung disimpan ibu saya dalam botol yang tersedia. Sedangkan punya saya langsung saya minum, dan habis begitu sampai di kereta. Sempat hype, sampai melupakan peraturan di sana, hampir saja saya kena denda karena udah sempat minum minuman di MRT. Untunglah ibu saya masih sempat ngingetin. Kalo enggak, udah bahaya deh. Haha.

Beberapa menit kemudian, kita sampai juga di stasiun Orchard yang juga langsung berhubungan dengan ION Orchard. Kita sempat keliling-keliling ke beberapa toko di sana. Saya sempat pengen ngewifi di sana, tapi alangkah sialnya kalau wifinya cuman buat data packet subscriber doang. Setelahnya, kami keluar dari ION Orchard dan mengambil beberapa foto. Niat awalnya sih kepengen beli sesuatu yang berbau otaku di 68 Orchard Road, tapi bingung di mana. Eh, malah kepikirnya di Lucky Plaza yang berada di seberang, depannya Wisma Atria. Mikirnya ke situ, yaudah deh kita langsung lewat underpass untuk lewat ke sana. Enggak perlu nyebrang-nyebrang melalui jalan raya yang begitu sibuk dan tidak ada ruang kosong untuk lewat.

Sambil ke arah underpass, saya sempat lihat booth PS4. “Wah, pasti bakal launch nih bentar lagi,” pikir saya. Eh, rupanya baru launch pas saya udah pulang ke Medan duluan. Pffft.

Setelah dicari ke sana-sini, rupanya mall yang terdapat toko otaku yang saya maksud bukan di situ ternyata. Beuh.. Malah kita belanja-belanja yang lain di sana.

Makan malemnya kita makan nasi kotak yang tadi di tempat duduk di dekat Wisma Atria. Sambil mengunyah dengan lahap nasi oriental yang sudah terlanjur dingin, ibu saya dengan candid memfoto saya. Dan beberapa hasilnya bisa kamu lihat di header di atas ini.

Usai saya menelan suapan nasi terakhir saya, eh tiba-tiba ibu saya udah ngeluh dari tadi soal kaki. Kan sepatunya udah rada-rada rusak tuh, dan pengennya beli sandal yang ada di Lucky Plaza tadi. Maka jadilah kami kembali ke toko tempat di mana saya membeli sandal supaya enggak capek saat berpergian. Huft.

Langit sudah gelap. Kami pun balik ke Chinatown. Di tengah langkah kami menuju tempat penginapan, kami ketemu toko farmasi yang menjual botol air minum sebanyak 1,5 liter, dan setelah sampai langsung jama’ solatnya.

Solat saya pun dibuat sengebut mungkin supaya bisa main di iMac milik penginapan yang gratis dipakai khusus para penginap. Eh, tahu-tahu udah ada yang pakai. Pas dapat giliran main, eh baterai mouse Applenya lowbatt. Rada-rada enggak enak mau main. Toh saya lihat juga masih ada satu wired mouse yang masih bisa saya pakai.

Ketika saya lagi main, ada aja turis yang pengen pake iMac karena ada keperluan, tapi mousenya enggak bisa dipakai. Kasihan sih, jadi saya kasih mousenya untuk beberapa saat. Saat selesai meminjam, dia berkata bahwa dia enggak ngerti cara pasang mousenya. Hmmm… cukup mencengangkan juga.

Pukul 10 malam, sayapun lekas menghapus cookies yang ada di browser, membiarkan iMacnya dan kemudian menuju ke kamar untuk tidur.

Advertisements

3 thoughts on “Pesiar ke Pulau Tumasik: Bahagian Pertama

  1. Waah sayang sekali kalau harus beli tiket MRT yg isi ulang, kenapa ga beli STP utk 3 hari aja? Jauh lebih hemat dan ga perlu di isi ulang, bebas pakai MRT & bus selama masa berlaku STP tsb (1 day, 2 days…).
    Kl utk gps bisa cobain Navitel, aplikasi maps+gps ini offline, saya sudah buktikan sendiri di tab 2 dibawa ke KL, spore, thai, Sydney & Canberra semua berjalan lancar

    1. Bukan tiket MRT sih, lebih tepatnya prepaid card untuk MRT ticket pass kali yah. Kenapa gak beli STP tiga hari, karena sebenarnya kami jalan-jalan tepatnya cuman 2 hari doang ya yang full, sedangkan keesokan harinya kami harus pulang pagi (ya karena soal biaya tiket pesawat PP ga ada yang lebih murah lagi kayaknya ya πŸ˜† ).

      Kulihat sih bisa aja ngambil yang dua hari, cuman karena udah terlanjur belom apal rute bus dan belom ngedownload aplikasi Navitel, dan hanya bermodalkan peta jalur MRT doang, makanya cuman kepikiran penuh untuk beli prepaid cardnya bang.

      Eh, itu STP bisa dipake buat MRT ya? Di situs katanya cuman untuk bus doang.. walah. Lebih mahal dikit tapi gak rugi gitu ya bang. Terus bisa direfund setelah pake, dalam waktu kurang dari 5 hari yah? Untungan pake STP dong ya, walau harga gak jauh beda amat pas beli prepaid card tiga bijik. Mending kemarin belinya yang STP lah ya. Haha, lagi-lagi karena kurang persiapan nih bang, hehe.

      Kapan-kapan bisa lah nih minta rekomen dan tips-tips liburannya ya bang Reza :p

      1. Ada yg 1 hari, 2 hari atau 3 juga bisa dipakai utk MRT, LRT & bus juga. Deposit & refund $10, benar bisa di refund dalam waktu kurang dari 5 hari tp kl ga mau di refund nanti otomatis kartunya berubah jadi jenis EzLink yg berlaku sampai 1 atau 2 tahun gitu kl ga salah.
        Sebenarnya kl modal peta jalur MRT jg ga masalah asal jeli lihat papan petunjuk pasti ga akan nyasar.
        Kl untung rugi kayaknya lebih banyak untungnya pakai STP krn cukup sekali bayar bisa dipakai sepuasnya tanpa perlu isi ulang.
        Sebaiknya sblm pergi riset kecil2an aja dlu ttg destinasi yg mau di kunjungi di forum2 kaskus juga ada tuh

        Siiipp boleh aja asal masih di sekitaran asia Tenggara, Jepang, Sydney & Canberra

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s