Kecenderungan diajak dan mengajak orang ngobrol

Manusia itu makhluk yang memiliki panca indra. Makhluk yang dapat melihat, meraba, merasa, mendengar, dan berbicara.

Sebagai seorang makhluk yang dapat berbicara, saya usahakan semaksimal mungkin untuk berbicara dengan orang,

Dari sekian banyaknya percakapan-percakapan yang saya alami, saya cenderung lebih banyak diajak ngobrol oleh orang lain, ketimbang saya yang mengajak orang tersebut untuk mengobrol. Kecenderungan lebih banyak diajak ngobrol ketimbang mengajak untuk ngobrol, menghambat saya untuk berkomunikasi.

Ada beberapa penghalang yang menjadikan saya lebih sulit untuk komunikasi, dan hanya bisa lebih sering untuk menerima tanggapan dan ajakan. Beberapa di antaranya adalah sifat introvert dan kuper. Sifat introvert sebenarnya mulai sejak SMP muncul, ketika lagi marak-maraknya main game online. Dampak yang saya rasakan adalah, hubungan pertemanan yang sudah saya geluti dengan anak-anak tetangga jadi menurun hingga ke posisi paling terbawah (biasa saja).

Begitu juga dengan kuper, alias kurang pergaulan. Dari apa yang saya temukan, saya sering bergaul dengan teman di dunia maya ketimbang di lingkungan sekitar. Secara nyata, interaksi hubungan tidak langsung jauh lebih banyak ketimbang interaksi hubungan langsung yang semakin lama semakin berkurang. Ketika interaksi antara saya dengan teman sekolah yang tergolong biasa-biasa saja, namun di internet, bisa dua-tiga kali lipat dari itu.

Kemudian, faktor kedua adalah kurang pandai bersilat lidah, serta tidak mahir memainkan kata-kata yang pas untuk dapat menemukan suatu argumen yang cocok dijadikan bahan persoalan. Saya masih ingat betul, dulu guru SD mapel Bahasa Indonesia saya menyarankan ke anak-anak didiknya supaya menyerap kosakata-kosakata dari kamus setiap harinya. Per harinya dihapal lima kata. Kalau dihitung, saya sudah bisa menghapal 1825 kata per tahunnya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Wejangan itu belum saya terapkan. Saya telah menyia-nyiakan lebih dari 3 tahun tanpa menyerap kata-kata baru yang bersumber dari kamus resmi berbahasa Indonesia.

Lebih parahnya lagi, sebenarnya kami saling mengenal, namun, entah karena apa ya, mungkin karena kurang menemukan topik yang cocok, enggan siapa yang ingin mengobrol duluan, dan bagaimana cara mengawali percakapan yang baik dan benar, atau mungkin nggak ingin diajak bicara (karena tidak penting atau tidak ada artinya saat itu juga).

Sebenarnya, saya ingin sih, berbicara dengan orang tersebut tanpa hambatan dan perasaan yang menyangkut dalam diri dan pikiran. Andaikata saya bertemu orang itu, saya ingin dan maunya seperti itu. Namun, ekspetasi saya saat ini masih berbeda dengan apa yang saya harapkan. Justru malah lebih sering saya hadapi kenyataannya yang berbeda 180 derajat dari ekspetasi yang selama ini saya idam-idamkan.

Bukannya tidak baik sih jika kita menerima ajakan ngobrol oleh orang lain, tapi bukankah lebih baik jika kita mengajak dan diajak orang lain untuk mengobrol, dengan rasio yang sama-sama balance?

Ngomong itu... segampang ini kan?
Ngomong itu… segampang ini kan?
Advertisements

2 thoughts on “Kecenderungan diajak dan mengajak orang ngobrol

  1. Hoy, jangan samakan introvert dengan antisosial. Introvert itu kepribadian yang cenderung lebih menyukai stimulus dari dalam. Iya, mereka emang lebih suka berdiam diri, merenung sendiri, atau aktivitas sendirian lainnya daripada berkumpul dengan banyak teman. Tapi nggak seperti antisosial, mereka bukannya menghindar dari berbagai macam interaksi sosial. Mereka bakal berinteraksi kalau mereka rasa dibutuhkan.

    Masalah pertemanan, introvert itu memang cenderung punya sedikit teman, tetapi dengan ikatan yang lebih erat. Nggak seperti ekstrovert yang punya jutaan teman, tapi ya cuma sekedar teman aja gitu. Nggak ada yang spesial. Introvert itu lebih menuntut kualitas daripada kuantitas :p

    Jadi daripada kau ngeluh soal “betapa sedikitnya lingkup pertemananku”, lebih baik kau condong untuk mempererat hubunganmu dengan teman yang sudah ada. Karena percuma saja kau coba cari teman banyak-banyak tapi nggak nyaman. Kau introvert, face it. Siapa bilang orang pendiam nggak bisa sukses? Kita semua didoktrin begitu karena kita hidup di mayoritas orang ekstrovert.

    I hope this would help you. Sori kalau terkesan sok tau -_-v

    1. Nice argument. Ya terkadang saya sendiri nih ya, sifatnya tergantung sikon juga. Kadang lagi ngehype sampe extro, sampai akhirnya malah jadi intro. Kebawa perasaan dan keadaan, terus ujung-ujungnya melodramatis, haha.

      Temen sih ya engga sedikit, cuman karena lagi asik sama temen yang lebih baru sampe-sampe temen lama dilupakan, jadinya ngerasain yang namanya ginian :v

      Mungkinkah bila saya mengidap keduanya (ambivert)? Bisa jadi sih.

      Dan terakhir, ada maksudnya sih ngebuat post ginian, gak hanya menyalahkan bahwa “wah aku itu seperti ini, wah aku itu seperti itu”. Selalu ada maksud tersirat mengapa saya pengen ngebuat ginian. Ada “maksudnya”.

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s