Kelamnya Jumat, sekelam warna hitam

Pada tahu nggak sih, kalo hari ini Black Friday? Mungkin sebagian ada yang tahu dan ada yang tidak. Dan mengapa disebut Black Friday?

Kalau dari hasil pengamatan dan lihat dari berbagai sumber di sana sini ya, Black Friday biasanya identik dengan diskon dan barang murah. Ya, biasanya di akhir minggu November, setelah hari Thanksgiving Day, lalu akan ada yang namanya Black Friday. Di hari itu menandakan bahwa dimulainya musim berbelanja untuk persiapan Natal. Banyak orang yang sudah menantikan hari ini, dan bahkan mereka sudah ada yang mempersiapkan daftar belanjaan apa saja yang akan dibeli pada hari tersebut. Bahkan, mungkin di negara-negara sana, sudah banyak orang yang mengantre di toko-toko demi diskonan-diskonan barang-barang.

Lalu, apa hubungannya sama judul? Bukannya harusnya hepi? Harusnya senang-senang? Iya sih, harusnya senang. Cuman ya…. ada sedikit kejadian yang menimpal saya di hari ini.

Saya sendiri sih engga merasa ada sesuatu yang tidak disangka-sangka ya. Mungkin intuisi saya kurang, atau sayanya yang bego. Pergi ke sekolah agak telat. Belajar pun kurang bergairah. Selama belajar, rasa ilmu yang masuk ke otak pun enggak ada. Lalu, pelajaran pun berlanjut ke olahraga. Usai pemanasan dan lari keliling lapangan, saya pun istirahat di kelas dan menonton dua episode anime. Dan tak lama, saya berusaha untuk terhubung ke Internet. Tiba-tiba, ada aja sharean dari bang Nich yang ikutan acara sosialisasi berbau inkubator. Saya jadi kepengen ikutan. Dan rencananya bakalan ikutan sehabis pulang sekolah.

Singkatnya, setelah solat Jumat, saya pun ingin berangkat dan mengajak salah satu teman saya untuk bareng ke sana. Tapi, pada saat itu juga, teman saya menolak. Saya pun akhirnya ke sana sendirian. Sempat kesasar dan kelupaan antara membedakan Hotel Antares dan Hotel Grand Antares, padahal saya sudah melihat sekilas di Google Maps sebelum berangkat. Saat di Hotel Antares, satpam di sana sempat bingung dengan kehadiran saya yang tidak ada sama sekali sangkut pautnya untuk ikut. Dan walaupun demikian, saya pun tetap melanjutkan ke sana. Sempat ada rasa tidak enak, memilih antara ikutan dan tidak ikutan, namun saya tetap memilih untuk ikut.

Di Hotel Grand Antares, saya dengan rasa gugup melangkah ke ruangan sosialisasi. Saya ketinggalan banyak materi yang disampaikan, dan cuman sebagian. Karena saya datang pada jam dua siang. Sungguh aneh ketika saya datang dan dianggap angin berlalu saja. Sementara moderator dan representatif Kemenparenkraf masih sibuk berbicara dan saya baru saja duduk, ibu-ibu dan bapak-bapak yang duduk di arah jam lima tidak sama sekali menghiraukan saya. Padahal, saya baru saja duduk. Mungkin karena saya dianggap tamu tak diundang, apalagi orangnya masih pelajar SMA yang tak tahu diri. Mungkin ya. Mungkin. Mengasih apa pun tidak ada, baik materi presentasi, notes, tas, maupun formulir, apalagi ‘amplop’. Hm.

Usai acara, saya menyempatkan diri ke Gramedia untuk hanya membeli satu komik. Iya, satu komik aja. Karena uang saya pas-pasan, hanya sepuluh ribu, saya hanya menghabiskan enam ribu untuk satu komik dan uang parkir. Sekeluarnya dari sana, saya memutuskan pulang. Mood saya masih normal-normal aja nih, sampai akhirnya di pertigaan menuju belok kiri saya melihat polisi sedang razia. Saya pikir, ah, mungkin razianya biasa aja dan gak bakal ketangkep. Tapi, rupanya, ketangkep. Sejekap syok saya naik. Saya digiring ke pinggir.

Dan alhasil, STNK saya disita. Saya sempat menelepon orang tua saya, tapi yah karena gugup dan pengalaman terbaru saya membuat saya hanya meminta surat merah dan tidak surat biru. Sungguh ini menjadi amarah bagi orang tua saya, mengingat saya yang sudah seharusnya tahu dan harusnya meminta surat biru kok malah jadinya ngambil surat warna merah. Saya enggak tahu mau ngomong apa. Duit tak ada, SIM tak ada, kartu pelajar baru mau buat, ATM enggak ada. Sempat polisi tadi nanyain ada simpanan enggak, dan saya enggak jawab. Mungkin pertanda dia bakalan ngasih surat warna biru. Ah, tapi… enggak tahu lagi dah.

Saya bisa aja sih buat penyimpulan bahwa saya menyesal belakangan, tapi apa boleh buat. Hari ini memang belum tentu hari yang baik.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s