Sekarang apa? Dia mulai berbicara.

Sebelumnya, saya mendengar kabar bahwa ada yang sudah memilikinya. Dan saya sudah berusaha, mencoba untuk menghindar demi menghilangkan sisa-sisa perasaan saya kepadanya. Dan itu terus menerus dilakukan, tanpa henti. Walaupun ada beberapa saat di mana saya kewalahan sampai saya pun jadi stress. Tapi, terus terang saja, ini demi kebaikan perasaan saya. Perasaan saya yang terusik, teraniaya, dan tidak tega dengan situasi dan kondisi seperti ini. Saya sebenarnya tidak menerima, namun alangkah lebih baiknya jika saya ‘menerima’ tapi dengan kondisi bahwa saya mesti menghilangkan perasaan-perasaan lama saya yang ditaruh untuknya.

Dan hari ini pun dia kembali mencoba berbicara. Mengajak berbicara melalui japri. Menanyakan seputaran buku. Melalui deretan baris-baris, saya dan dia berusaha senormal mungkin untuk berbicara. Namun, apa yang terjadi? Saya pertama duluan menaruh kalimat kontrovesial, yang berisi ucapan selamat atas jadiannya mereka. DIa terkejut mendengarnya. Lalu saya jawab dari mana saya tahu bahwa mereka sudah jadian. Dan, ada satu kalimat yang sangat mengusik saya. Kalimat yang mengatakan bahwa saya bersikap apatis terhadapnya.

Saya pikir, saya tidak apatis. Saya hanya berusaha untuk menghindar, sementara ini, untuk menghilangkan perasaan saya kepadanya. Dan kalimat bahwa saya galau dan termenung atas kondisi ini saya lontarkan melalui japri.

Padahal, saya sudah sering kali beri kode. Saya sudah sering banget ngetweet dengan jenis no-mention. Saya blak-blakan untuk berkicau di linimasa. Walaupun kenyataannya saya tidka benar-benar berkicau di dunia nyata. Dan dia tidak sama sekali menyadarinya. Apa jangan-jangan dia hanya mendengarkan kode-kodean dari pacarnya saja? Baik di linimasa maupun di kelas? Oh ya, mengingat mereka satu kelas. Jadi wajar saja bila lebih gampang untuk direbut.

Dan begitu pula dengan postingan-postingan saya mengenai dia di blog. Mungkin dia tidak membacanya. Mungkin dia berpura-pura tidak tahu atas apa yang saya omongkan selama ini?

Dan semuanya mengacu kepada kemungkinan, yang berujung kepada keraguan. Buntu.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s