The big deal of not speaking confidently

Akhir-akhir ini saya merenung. Saya murung. Saya kurang bergairah. Saya kurang bersemangat. Walaupun saya kemudian gampang ceria kembali karena diajak bicara dan bercanda oleh teman-teman satu sekolah, namun setelah beberapa menit kemudian efek tersebut hilang begitu saja dan saya pun akhirnya hanya bisa pasrah.

Kemampuan akan berbicara saya dengan percaya diri dan lancar, sebenarnya tidak ada. Iya, tidak ada. Kalaupun ada, paling yang kamu dengar adalah bahwa perkataan apapun yang saya ucapkan kerap kali tidak jelas ataupun susah untuk dimengerti dengan cepat. Dan itu tidak jarang akan kamu temukan apabila kamu berbicara dengan saya, mungkin sekarang dan seterusnya.

Dari awal saya terbiasa dengan keadaan introvert. Mungkin di usia kurang dari tiga tahun di mana belum terlalu tampak sekali perkembangan sifat diri saya sendiri. Namun kalau dipikir-pikir, sifat itu sudah timbul sejak awal 2000. Kala itu saya belum mengerti sama sekali tentang apapun dan selalu bertindak secara subjektif tanpa diingat dan tanpa dipikirkan. Saya mulai mengingat pada saat masa-masa sebelum belajar dan saat awal-awal memasuki tingkatan PAUD (kala itu saya dimasukkan ke playgroup). Saya tetap mendapatkan aktivitas bermain sambil belajar tentunya, dan ‘bergaul’ dengan teman-teman walaupun tidak akrab. Pulang dari sekolah, saya hanya bermain sendirian dengan menggunakan agenda lama milik sang bapak. Kala itu saya sudah memikirkan semacam text-based game, di mana saya memainkan sendiri game Who Wants to be a Millonaire, Hangman, Blackjack, Jackpot, dan semacamnya, sendirian, dan saya buat dan saya gambarkan sendiri permainannya, dalam buku agenda tersebut. Supaya tidak terlalu introvert sekali, orang tua saya mengajak saya keluar dan ‘berinteraksi’ dengan orang lain, keluarga dekat, dan teman-teman dekat mereka. Termasuk dengan tetangga sendiri. Malah, orang tua saya membelikan saya sepeda tidak hanya menuruti keinginan anak tetapi juga supaya saya diajak bermain dengan tetangga oleh keluarga di sekitaran rumah.

Di antara ketika saya masih bermain menggunakan buku agenda orang tua, saya dipertemukan dengan sebuah artificial creature buatan sekelompok manusia di suatu perusahaan, melalui perantara distributor dan diantarkan ke tangan penjual, serta akhirnya sampai ke tangan masing-masing end-user, termasuk keluarga saya, yang barang tersebut dinamakan ‘komputer’. Ya, komputer. Tidak lain dan tidak bukan, itu jelas-jelas merupakan sebuah komputer. Mengingat pada saat itu, desainnya sudah tergolong lebih compact dari masa-masa awal komputer diciptakan masih menggunakan transistor dan beratnya berton-ton.

Bapak sayalah yang pertama kali memperkenalkan apa itu komputer. Sementara ibu saya tidak terlalu mengerti tentang komputer, apalagi teknologi-teknologi yang berkembang saat itu. Maklum, ibu saya orangnya tergolong gaptek. Walaupun begitu, sang bapak juga sering mengenalkan teknologi-teknologi itu kepada istrinya.

Sejak saat itu, sebenarnya pembajakan sudah marak. Namun, tidak terlalu diberantas seperti sekarang ini. Masih adem ayem lah pokoknya.

Saya mulai diperkenalkan dengan berbagai macam game. Awalnya game-game bawaan dari Windows. Kemudian bapak saya memperkenalkan game edukasi bernama Bobby Bola. Mungkin namanya tidak setenar sekarang, tetapi di zaman saya itu cukup dikenal di kalangan anak-anak. Gamenya mampu mengajarkan pendidikan yang baik. Sambil bermain, pelajaran juga diselipkan di situ. Saya pun mulai memahami dan mengerti apa maksud dari pelajarannya.

Lambat laun, satu per satu game dari bapak mulai dikenalkan kepada saya. Bermacam-macam. Ada real-time strategy yang memikirkan tentang pola pikir dan pemikiran keputusan, first-person shooter yang melatih refleks, koordinasi, dan kesigapan, puzzle yang memacu kreativitas anak dalam memecahkan masalah, dan lain-lain.

Di semua game yang sudah ditawarkan ke saya, ada satu yang kurang. Saya malah jadi kurang bersosialisasi. Saya malah jadi kurang kritis dalam soal berbicara dan menanggapi orang. Dengan keluarga saja, terkadang jawabnya kurang lebih singkat namun kurang jelas seperti apa yang anggota keluarga lainnya menanyakan dan menanggapi.

Selama saya kanak-kanak, pindah dari Dumai dan akhirnya tinggal di Medan, tentunya saya juga pernah mengalami yang namanya bersosialisasi dengan anak-anak tetangga. Sederhananya ‘berkawan’. Sering banget yang namanya main bareng. Mulai dari main sepedaan bareng sampai balapan di jalanan banjir semata kaki (memang nyatanya jalanan sekitaran rumah gampang banjir kalau udah hujan deras), hujan-hujanan bareng (dulu gak gampang sakit, beda kalo sekarang), main konsol bareng, sampai tukar-tukaran cartridge Nintendo 64 dan kaset game PC. Kalaupun main di rumah tetangga, seringan malu-malu kucing pas mau ngintip anak tetangga lagi main atau mau ikutan bareng. Ya, di semua itu karena saya tidak terlalu digiatkan untuk ‘how to maintain your relationship with your acquaintances’. Semua hanya bermain, bermain, dan bermain. Kalaupun ada soalan lain, itu bukan soal curhat-curhatan atau diskusi kritis. Yang pokoknya membuat saya jadi enggan mau bertanya saban hari ke sekolah dan ada sesi pertanyaan di setiap akhir patokan pelajaran.

Relationship antara saya dengan anak-anak tetangga dan termasuk juga kawan-kawan SD masih bertahan dan (amat sedikit) berlanjut, sampai akhirnya saya masuk ke jurang yang sangat dalam, membuat saya mengurung diri berlama-lama karena dunia lain. Dunia yang memisahkan dunia nyata. Dunia maya. Segalanya berubah ketika saya jadi mulai aktif menggunakan jejaring sosial bernama Friendster, lalu Facebook, dan merambah ke Twitter, serta berada di komunitas gaming sejak pertama kali ketemu saat mencari sesuatu yang berbau Call of Duty: Modern Warfare 2. Dan, lambat laun, saya jadi mulai aktif sampai akhir 2011 walaupun rata-rata isi dari postingan forum saya nyampah dan ada sebagian dari postingan forum saya yang berbau flaming dan tidak senonoh. Walaupun saya baru mengerti setelah diberi peringatan, maklum saya masih baru di dunia forum komunitas, apalagi yang tua seperti Gamexeon. Tidak seperti halnya di Komunitas Sekolah Indonesia dan Webforum Plasa yang fiturnya kurang lebih sama dengan versi usang Friendster dan Facebook. Hanya ada fitur-fitur esensial yang dijumpai di jejaring sosial konvensional, seperti tambah pertemanan, fitur grup, dan sejumlah fitur-fitur yang standar-standar saja.

Memang, perubahan sifat yang saya alami paling menonjol tentu saja di masa-masa SMP. Saat di mana sibuk dengan kehidupan sosial di dunia maya, baik forum maupun game. Saya tergolong lasak saat terakhir kali menginjak SD, namun diri saya berubah 180 derajat setelah menghadapi kedua hal tersebut dengan intensif. Saya merasa lebih praktis bergaul dengan teman-teman internet ketimbang dengan teman-teman di kelas. Dan lambat laun, keadaan tersebut makin menunjukkan kondisi menyendiri saya yang semakin parah. Tiap kenaikan kelas saya mulai terbuka, namun tetap saja sifat menyendiri saya itu masih ada.

Dan, ketika pada masa-masa SMA. Rasanya masih ada aja rasa hampa yang terjadi, walau saya sering mengalami yang namanya hubungan sosial. Ngobrol sama temen-temen sih sering. Bahas apa aja, mulai dari gaming sampai love matters. Tapi ya jarang aja sih yang seriiiiiiiiiiiiiiiing banget secara relatively or closely ngobrolnya. Yaaaa, istilahnya sahabat karib gitu lah. Sama-sama sharing, sama-sama kasih tau, sama-sama senang susah. Eventhough temen-temen saya ada yang masuk kriteria sahabat karib, tapi ya ada juga yang main bisik-bisik dan menyembunyikan sesuatu dari saya. Something’s bad, mungkin? Saya juga tidak tahu. Tapi saya kurang suka kalau menyembunyikan sesuatu di depan orangnya. Bagusan kalau saya tidak tahu sama sekali kapan rahasianya diomongin. Seriously, tell secrets by whispering in front of me make me curious. Siapa juga yang tidak penasaran ketika dibisik-bisikin gitu?

Pokoknya yaaaaaaaa begitulah. Mungkin postingan¬†kondisi saya ini akan berlanjut, atau ada perubahan, atau ada peningkatan. We’ll see next.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s