Bagaimana jika (sebaiknya) UN ditiadakan?

Hentikan UN!

Kita sudah tahu bahwa UN pada tahun 2013 mengalami kegagalan yang sangat besar sepanjang sejarah di Indonesia. Awal mula UN (dulu disebut Ebtanas) masih dapat berjalan lancar dengan didukung oleh penjagaan yang keras oleh guru-guru yang masih terbawa arus pra-reformasi. Namun, pelan-pelan, Ebtanas juga dapat dilemahkan dengan mulai adanya kunci-kunci jawaban yang mulai bertebaran oleh para joki ujian. Hal ini berkembang ke UAN yang semakin dipersulit dengan banyaknya peraturan-peraturan yang berbelit-belit, sampai ke UN sekarang ini. Diperbanyaknya paket-paket ujian tidak mempengaruhi kesulitan para siswa untuk mengerjakan soal-soal, karena joki sekarang pun juga berusaha keras mengasah kemampuan mereka dalam memperkirakan jawaban dan mengedarkan jawaban dengan harga yang cukup tinggi.

Apabila kita kaji ulang kembali, UN 2013 mengalami kegagalan dalam berbagai sektor. Salah satunya adalah, pada tahun ini paket yang semula hanya dua kode kemudian bertambah menjadi lima kode. Kemudian ada sekian jumlah paket soal yang ternyata dalam kondisi tidak baik. Apalagi, ada di antara dari para siswa yang paket soalnya tertukar dengan siswa yang lain. Beberapa provinsi mengalami penundaan jadwal yang disebabkan oleh telat datangnya paket soal. Para siswa yang sudah lama menunggu paket soal yang menanti itu, pada akhirnya batal melaksanakan ujian dan sementara ujian pun ditunda karena paket soal yang dinanti belum juga datang. Jalan keluar yang dipaksakan pun berupa fotokopi naskah paket soal yang sudah dipakai oleh siswa lainnya.

Tujuan dari Ujian Nasional ini sebenarnya adalah mengetes siswa seberapa paham dan menguasai pelajaran yang sudah ia pelajari, dan menargetkan nilai siswa mencapai ketentuan standar secara nasional untuk dapat lulus sesuai dengan tingkatan institusi perguruan yang sedang menjadi tempat belajar baginya. Tetapi, nilai yang diincar hanyalah nilai dalam angka semata. Hasil tiga tahun ditentukan dalam empat hari, dan kalau misalnya jeblok, maka sia-sialah tiga tahun belajar.

Kalaulah kita lihat dari sisi yang lain, nilai hanyalah sebagai bentuk apresiasi dari menghargai hasil apa yang kita pelajari. Bukan sepenuhnya apa yang kita pelajari ‘tok’ dituangkan dalam nilai, bukan. Bisa jadi apa yang ada di nilai berubah dengan kenyataannya. Maksud saya, proses dan penerapan dari apa yang kita pelajari jauh lebih penting dari hanya sekadar mengejar nilai. Ujian Nasional seharusnya menerapkan metode seperti itu. Menunjukkan orientasi berbasis penerapan ketimbang orientasi berbasis nilai.

Sudah banyak orang-orang yang menentang kelanjutan UN ini. Sempat juga orang-orang mengganyang adanya UN ini dengan membuat petisi daring di situs Change.org. Dan hasilnya? Banyak orang yang mendukung aksi gerakan protes terhadap UN. Dan hasilnya, beberapa hari ke depan akan ada Konvensi Ujian Nasional yang diadakan oleh Kemdikbud pada tanggal 26 September 2013. Nasib UN katanya akan ditentukan di sini. Walaupun demikian, Kemdikbud masih bersikukuh tidak akan menghapus UN ataupun mempertanyakan eksistensinya, melainkan hanya akan mencari format yang jauh lebih baik. Lalu apa gunanya konvensi bila hanya sekadar menjadi legitimasi untuk melanggengkan UN?

Sebagai tanggapan atas rencana Konvensi UN yang hanya bersifat formalitas ini, Koalisi Reformasi Pendidikan akan mengadakan acara Konvensi Rakyat:

Evaluasi Satu Dasawarsa Ujian Nasional: Besok, Selasa, 24 September 2013, 9.30-13.00, Gedung Joeang, Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.

Beberapa narasumber akan dihadirkan untuk bicara mengapa UN merusak pendidikan Indonesia sehingga perlu ditolak, antara lain: Prof. Iwan Pranoto, Prof. Daniel M. Rosyid, Elin Driana, Doni Koeseoma, Ifa Misbach, dll.

Yang bisa Anda lakukan adalah: 

  • Hadiri Konvensi Rakyat, besok, daftar acaranya di Facebook: http://bit.ly/konvensiUNAcara akan diliput media massa dan kita akan sebarkan proses dan opini yang terekam di dalamnya melalui media sosial.
  • Bantu kami sebarkan poster acara ini yang bisa diunduh di http://bit.ly/posterkonvensiUN lewat media sosial, messaging apps, dll. Contoh twit untuk menyebarkan poster: “Kemdikbud buat konvensi untuk langgengkan UN, mk kt buat konvensi utk hentikannya! Yuk gabung! #konvensiUN”
  • Gunakan avatar “Hentikan UN” berikut ini http://bit.ly/avatarUN di media sosial [Facebook, Twitter, dll] dan messaging apps [BBM, WhatsApp, dll]
  • Sebar terus petisi di http://bit.ly/petisiUN. Contoh twit: “Kemdikbud adakan #konvensiUN utk langgengkan UN. Yuk kt suarakan sebaliknya: Hentikan UN! Dukung & tanda tangani > http://bit.ly/petisiUN” 

UN adalah kuda mati yang terus kita tunggangi sambil berharap ia mengantarkan kita ke tujuan. Seribu orang mencambuki kuda mati beramai-ramai di Konvensi UN tetap tak akan membuatnya berlari. Maka kembali kita serukan: Hentikan kebodohan ini!

Acara Konvensi Evaluasi UN

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s