Ketegangan kelas memuncak

Classroom by dkrunic2k

“Jangan buat saya marah ya. Saya orangnya nggak suka kalau ada siswanya yang tidak mengikuti pelajaran saya.”

– Pak Amin

Ceritanya kemarin pagi, tepat pada pelajaran pertama Fisika. Pada post sebelumnya pernah saya katakan bahwa guru Fisika kami juga merangkap sebagai wali kelas. Namanya pak Amin.

Tiba-tiba, aku langsung tersentak. Bapak itu langsung marah dalam waktu sekejap. Mulutnya komat-kamit menyebutkan mantra sembari mengusir saya dan teman sebangku saya agar tak terjadi keributan selama proses belajar-mengajar. Memang, dia selalu tidak senang dengan siswa yang tidak berniat untuk belajar. Alasannya, karena siswanya pasti tidak mengerti. Padahal memang kenyataannya begitu. Kami telat melahap pelajaran dengan baik. Minggu lalu kami terkena hukuman dan melewatkan pelajaran penting mengalir dari hasil air liur bapak itu yang keluar dengan jumlah yang banyak.

Bapak itu semakin menunjukkan raut muka marahnya. Daripada kena getah lebih banyak lagi, saya pun memutuskan secara sepihak untuk pindah ke depan. Namun apa daya, pindah satu langkah saja masih dapat membuat keributan. Yah, orang tak ngerti mau gimana lagi. Ngomong pun cuman sepatah dua patah kata yang bisa diucapkan, dan dengan suara yang pelan. Melihat Guntur tidak ada chairmate, sementara si Limbong datang telat, saya memutuskan untuk pindah ke paling depan. Posisi meja paling tersuram tapi sesungguhnya menjadi anugrah jika benar-benar dipakai dengan baik.

Setelah kasus saya-Egy dipisahkan, tambah lagi satu masalah yang perlu diselesaikan. Dua orang perempuan yang duduknya berada di sebelah kanan kami sebelumnya. Mereka, dengan sangat terpaksa, harus dipisahkan. Karena kurang lebih kasusnya ya mirip kami lah. Sama-sama enggak memperhatikan sewaktu pelajaran dan seharian terus bergaul dengan iPad kesayangannya. Tak jarang mereka sering buka-buka Path, Instagram, dan aplikasi foto-foto atau semacamnya. Dari sepengetahuan saya, salah satu dari mereka dipindahkan ke barisan meja tempat saya berpijak sekarang. Bukan di depan sih, tapi di asal tempat saya duduk. Kembali di belakang lagi. Kronologi mengapa saya dikembalikan ke belakang akan saya jelaskan nanti.

Setelah kedua pasangan siswa diacak lagi tempat duduknya, kami kembali ke proses belajar mengajar seperti biasa. Kadangkala bapak itu ada aja nyerocosnya. Mulai dari nggak terlalu memahami pelajaran yang kami kuasai di kelas 10, padahal kami tidak semengerti dengan anak ajar bapak itu waktu di kelas 10. Guru kami dulu, yaaaah, walaupun diajarkannya dengan penuh, tapi metodenya tidak benar-benar membuat kami paham. Bahkan saat kami ulangan pun nilainya banyak yang jeblok.

Eh, baru beberapa menit kami dipindahkan, datang lagi masalah. Dari pasangan anak yang terkenal kenalakannya di antara guru-guru yang masuk ke kelas. Dengan spontan bapak itu menghadap ke mereka, menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan, dan menunjang mereka berdua. Salah satu dari mereka dipindahkan ke posisi pojok depan kanan. Akhirnya, kembali lagi deh ke situasi yang tidak mengenakkan. Bapak itu menyerocos lagi tentang cerita-cerita yang tentunya menyebalkan.

Waktu demi waktu, saya menelan ludah sendiri sambil merasa tidak enak. Tegang. Suasana yang mencair dalam pelajaran, namun sebenarnya merasa kaku seperti batu yang telah berpijak di muka Bumi selama ribuan tahun. Sambil mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh wali kelas kami.

Nah, setelah itu, tiba-tiba si Egy kedapatan lagi main-mainin hape, padahal sebenarnya cuman pencet-pencet main menu nggak jelas. Diambillah hapenya oleh bapak itu, dan sempat diancam hapenya bakal dibanting. Hapenya pun dilempar di meja guru begitu saja. Dengan gaya interogasi yang menyeramkan, bapak itu sempat mengeluarkan statement bahwa dia anak pejabat dan menanyakan apa profesi orangtuanya. Setelah mendengar jawaban bahwa bapaknya bekerja di bank, dengan lantang bapak itu mengucapkan kata yang tidak senonoh di depan anak muridnya. Yah, resiko buat anak-anak yang bermasalah dan membuat gurunya naik pitam.

Terakhir-terakhir, saya dari depan malah ditukar posisinya dengan Egy. Tapi, konsekuensinya dia musti menghafal dan mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya. Nasib memang. Apalagi duduk di belakang lagi. Suram.

Advertisements

2 thoughts on “Ketegangan kelas memuncak

  1. Pak Amin ya? Beliau masuk pas aku kelas X. Bapak itu emang horor, dengan statement andalan “jangan bobok-bobok aja kau di kelas!” (?) dan kadang melempar kepala murid pake spidol/penghapus papan tulis kalo gak dengerin penjelasan dia. Sering bikin anak cewek jadi latah, karena suka mendadak teriak-teriak.

    Serius, dibanding guru fisikaku yang sekarang, bapak itu JAUH lebih enak. Paling tidak beliau mengajar sampai ke akar-akar materi, nggak ngambang kayak guru fisika kebanyakan. Jadi yah, syukuri aja.

    1. Iya sih, udah agak enakan juga kalo belajar sama bapak ini. Tapi yang malesinnya beliau suka membanding-bandingi dengan kelas X pas setahun sebelumnya. Padahal bapak itu nggak ada ngajar di kelas kami sebelumnya.

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s