Melewati rutinitas keseharian ini

Routine by Félix Pagaimo

Nyeh. Akhir-akhir ini saya dilanda capek. Capek yang menurut seorang anak SMA yang ababil ini lebih dari cukup. Melebihi batas. Entah kenapa saya merasa euforia belajar saya semakin menurun. Walau beberapa pelajaran ada yang saya paksakan, mengingat gurunya galak dan persistent tapi sebenarnya baik sih. Jujur aja, tahun ini sepertinya ketidakpahaman saya akan pelajaran-pelajaran eksakta ini semakin berkurang. Walaupun di pelajaran utama eksakta saya seperti Biologi, Fisika dan Kimia saya agak tergagok-gagok. Saya katakan, proses pemahaman Fisika saya di kelas dua ini sudah cukup membaik lah, walau sekarang jadi tertinggal jauh, karena pada minggu lalu saya belum siap mengerjakan PR dan akhirnya dihukum musti mengerjakan PR di perpustakaan bersama teman sebangku yang ternyata tidak membawa buku catatannya. Waktu itu pak guru Fisikanya yang ternyata wali kelas kami, pak Amin, bilang kalau PRnya dikerjakan di buku catatan. Untunglah kemarin udah dicatat cheat sheetnya sama teman sekelas. Sisanya tinggal lihat hasil jepretan contekan di hape teman sebangku.

Hari ini pun rasanya lelah sekali. Apalagi bawa tas yang sehari-harinya tanpa laptop, sejak ada internet jadi malah dibawa. Tapi tujuan laptop dibawa ke sekolah hari ini bukan karena kepengen unduh doang sih. Tapi untuk mengerjakan PR yang seminggu ini janjinya sudah harus dikirim tapi belum disiapin juga. Kemarin malam teparnya naudzubillah min dzalik. Capek. Lagipula, kemarin juga sudah unduh game yang diinginkan, tapi sampai sekarang masih belum dimainkan.

Nah, jadilah pagi tadi mengerjakannya. Dan siap. Rupanya, belum sempat bakalan maju karena udah keburu habis pelajarannya. Fiuh, nasibnya. Sementara kelompok yang lain sudah pada maju duluan, pada diomelin. Minggu lalu sudah dibilang sih sama gurunya. Presentasi yang akan ditampilkan TIDAK DIBACA TERANG-TERANGAN sembari ditampilkan teksnya dalam layar proyektor, melainkan diberi gambar illustrasi doang dan dijelaskan menurut bahasa sendiri. Ya saya sudah buat sesuai apa yang dikatakan oleh gurunya, tapi ya untuk kelompok lain mau gimana lagi. Pada melanggar aturan semua. Ibarat lagi main di arena balapan, semua pada salah pakai onderdil. Terakhir jadi pada nabrak keluar lintasan deh.

Pulang sekolah, saya pun capek. Capek, karena tas saya terasa berat. Buku-buku yang ditumpuk bersama laptop di dalam tas membuat berat saya tak sanggup menahan semua itu. Tapi, demi pulang saya musti pertahankan. Sempatlah saya menunggu berlama-lama sampai sejam demi menghilangkan rasa penat ini. Tapi belum cukup sepertinya. Di perjalanan, saya sempat mengeluh kecapaian. Tapi, dengan usaha dan doa, akhirnya dengan selamat sampai rumah juga. Setelah sampai kamar, saya pun langsung tidur.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s