Ffffffffffffffuuuuuuuuuucking situation

Hari ini stres. Ternyata bukan cuman temen aja yang bisa stres, tapi aku juga ikutan stres.

(sebenernya di bawah ini belum masuk cerita inti. skip dan temukan font yang dibold untuk cerita gila sebenernya yang terjadi)

Sampai sekarang, laptop yang current, belum juga dibenerin sama temen. Alasannya simpel. Dia cuman gak mau ngerjain kalo ga ada yang nemenin.

>cuman
>gak mau ngebetulin laptop
>kalo ga ada aku

What the fuck bro. Dia akhir-akhir ini stres. Stres entah kenapa. Gak tau alasan secara jelasnya sih. Alasan sampingannya: gara-gara dipancing sama temennya-yang-sombong-ngeremehin-dia. Kemarin aja dia sampai gak makan.

Okelah, hari ini masih bisa bersabar. Aku masih ada laptop lama di rumah, yang bisa menemaniku dan terhubung untuk tetap ada di internet. Tapi laptop lamaku gak bisa membuatku jadi lebih produktif. Layarnya yang 5% rusak di bagian bawahnya, keyboardnya yang rusak, layarnya yang gak sefleksibel dulu kalau mau tetep layar laptopnya berdiri dengan tegak. Mau tak mau, aku harus bisa menunggu. Dan pakai laptop itu pun seadanya sajalah.

Kembali ke hari-hari sebelumnya. Keesokan harinya, sesudah aku kasih laptopnya ke dia, tepatnya Rabu setelah Selasa. Kuhubungi kembali dia. Dia masih belum mengerjakan sedikitpun. SEDIKITPUN. Alasannya: ngga ada obeng, dan same shit. musti ditemenin. Dia lagi stress.

Besoknya, juga sama aja. Jumat aku mampir ke rumahnya, dan laptop aku dalam keadaan tergeletak begitu aja di kasurnya. Charger laptop yang kutaruh pun masih utuh dalam kondisi dililit. Sementara dia enggak ada di kamar. Aku pun tidur di kasurnya, menunggu kedatangannya. Begitu dia datang, dia malah telponan sama pacarnya. Aku yang tersadar dari bangunku, tidak segera duduk. Masih dalam keadaan tidur, mata tertutup, tapi kesadaranku masih ada. Aku gak bisa tidur lagi, dan akhirnya mendengarkan percakapan antara dia dengan pacarnya.

Begitu aku bangkit, aku langsung permasalahkan laptopku ini. Eh, ternyata masih same shit juga. Obeng gak kubawa. Memang itu masalah lama, aku gak ngebawain obeng. Kukira dia punya obeng. Setahuku dia tahu masalah beginian. Karena bisa, dan ahli dalam mengatasi masalah ini. Karena kita kawan, karena dia gak narik biaya, so i trust him. But, kenyataannya? Laptopnya sampai sekarang belum diperbaikinya. Dia musti dikawanin dulu. Katanya, jauh lebih enak ngebetulin kalo ada orangnya nunggu langsung. Tapi gimana coba, kalo si empunya lagi ga bisa nunggu sampai bener-bener betul itu? Masa si empunya ngebawain obeng, sementara obengnya sendiri gak ada? Malas? Udah tanggung jawab dia sebenernya untuk ngebetulin laptop aku. Tapi, udah karena orangnya begitu, jadinya sampai sekarang laptop aku masih dalam keadaan begini…

Hari ini aku ke rumahnya. Mau ngambil laptop. Sampai sana, ga ada dia. Aku terpaksa nunggu lagi. Jam enam baru datang dia. Aku nyeleneh kenapa dia gak datang. Katanya sih, karena aku gak jelas gak kasih konfirmasi kalo datang jam 4. Well, aku memang gak memastikan sih. Gak kubilang dalam chat di Facebook kemarin.

Terus, laptop yang sampai sekarang belum dibetulin, ada dua penyebabnya. Antara memang HDDnya rusak sehingga ada file yang corrupt, atau kabelnya kurang ketat. Aku harap sih yang kedua. Karena, kalau misalnya yang pertama, fileku gak bisa direstore dan musti diformat. Solusi: beli HDD baru. Aaaaaaaaaaaaaaaaaah.

Aku pun pulang, dari rumah temanku ke rumahku. Dalam perjalanan pulangku, aku ngebut. Padahal orangtuaku sudah melarangnya untuk tidak ngebut di jalanan. Tapi, aku tetap nekad untuk ngebut. Sampai akhirnya aku melanggar, dan ada orang yang menabrakku dari belakang. Kebetulan jalan itu tidak jauh dari rumahku, hanya sekitar 3 menit untuk sampai ke rumah dari jalan itu. Seorang bapak yang belum memasuki usia setengah abad, menyuruhku untuk ke pinggiran jalan dan mencari jalan keluar dari masalah ini. Aku pun bingung. Tak ada satupun kata-kata yang keluar dariku setelah melihat bapak ini.

Aku cuman buang-buang waktu saja. Sementara hapeku tinggal di rumah. Aku gak bawa uang. Dan hanya menunggu bersama bapak brengsek ini.

Adapun kecelakaan yang dialaminya adalah lecet yang menimbulkan kaki jadi keseleo, dan yang dialami sepeda motornya adalah: rusak di bagian pinggir dekat jok, patah rusak, roda motor tergeser, ‘segitiga’ motornya apalah rusak di bagian dalam. Dia menuntutku untuk supaya bisa mencari jalan keluar dari itu. Sementara aku gak tahu harus ngapain. Maunya aku seperti kasus Avin, sepupuku, di mana dia kesempet motor gara-gara ngebut sementara lampu udah merah. Di depannya ada motor. Jelas marah orang yang nunggu lampu jadi hijau tersebut. Avin pun langsung meminta maaf. Dan dimaafkan oleh orang yang kena serempet tadi. It ended.

Tapi ini apa? Orangnya masih nuntut. Dia nelpon backup (baca: kawannya) untuk datang ke sini. Tapi sampai sekarang nggak kunjung datang. Si bapak brengsek ini lalu menanyakan apa yang bisa ditahan dari aku. Uang? Gak ada. Telepon orangtua? Gak bawa hape. SIM? Belum cukup umur. KTP? Belum buat. STNK? Awalnya aku bilang gak ada, tapi karena kepengen pulang cepet cepet dan ngelapor orangtua. Akhirnya aku bilang aja kalo ada STNKnya. Terus aku pulang.

Begitu sampai rumah, aku langsung bilang ke papa soal ini. Papa jelas marah, karena udah tau kalo aku itu emang ngelanggar. Kali ini, papa emang gak banyak omongan marah ke aku. Tapi, begitu sampai mamaku tau, dia langsung ngomel-ngomel soal ini itu. Apalagi dia tau aku kalo gak solat Magrib. Tambah besar marahnya. X_X

Oke segini dulu. Besok dilanjut.

Advertisements

One thought on “Ffffffffffffffuuuuuuuuuucking situation

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s