Dan akhirnya anak kucing itu pun mati

Buat Ayu, maaf ya. Ini salahku mengapa aku terima saja kucing darimu. Seharusnya masih ada induknya, tapi entah kenapa kamu kasih anak kucing itu ke aku.

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin yang lalu. Aku lagi di kelas. Mau siap-siap pelatihan perdana ICT, mumpung lagi ngebantu-bantu makanya aku ada di kelas. Tiba-tiba, Ayu datang. Dia memberikan sebuah kotak ke aku.

“Apa tuh?” aku tanya. “Ini, ada anak kucing. Kamu bisa kan ngerawatnya? Kan kamu selama ini gak ada kerjaan, jadinya kamu aja ya yang ngerawat?”

Waduh. Aku bingung. Sejak awal aku udah bingung kalau aku entah gimana kalau ngerawat anak kucing. Selama ini, yang ada di rumah itu pun kucing liar yang sudah cukup usia. Dan baru kali ini aku ditugaskan untuk merawat anak kucing.  Aku bingung. Aku galau. Aku takut kalau anak kucing itu mati di tanganku, karena gak bisa ngapa-ngapain.

Dengan sangat amat berat hati sekali, aku terpaksa menerima anak kucing itu. Padahal aku bermaksud tidak ingin merawatnya, tapi, entah kenapa, demi ‘menyenangkan’ hati temenku, akhirnya aku terima aja deh.

Aku melihatnya terasa mengharukan sekali kalau anak kucing itu baru lahir, masih baru keluar dari jabang bayi kucing. Masih fertile sekali. Sempat anak kucing itu kutinggalkan sendirian, aku latihan ekskul sampai jam empat. Dan bodohnya aku, kucing itu tidak kubiarkan saja di situ. Malah kuambil. Tapi, sebenarnya kalau baru lahir, seharusnya induk kucingnya juga masih di situ kan?

Selama aku pulang, aku berjalan, aku naik angkot, bahkan sampai aku naik becak pun, masih terdengar suara tatihan meongan dari si anak kucing. Aku sedih mendengarnya. Karena baru lahir pun nasib buruk tidak disangka-sangka.

Sampai di rumah, aku bermaksud menemui kucing liar lain untuk membantu menyusui anak kucing ini. Tapi, ternyata tidaklah berhasil. Anak kucing itu kesusahan mencari pentil susu kucing liar yang sudah beranak dan tua itu.

Tempat aku menempatkan anak kucing itu pun juga selalu berpindah-pindah. Dari hari itu sampai keesokan harinya, aku carikan sebuah laci filling cabinet, lalu aku taruh koran dan sisa jaket saudara angkat untuk menghangatkan dirinya. Sementara itu, dia masih menggigil kedinginan. Aku berusaha menyelimutinya, namun dia tetap berusaha melangkah mencari induknya walau tertatih dalam keadaan kedinginan.

Esok siangnya, aku diberi susu sama sepupu aku yang izin tinggal di rumahku. Katanya sih, dia sudah memberi anak kucing itu susu, tapi dia masih tidak mau juga. Tidak terpikirkan olehku jarum suntik untuk meminumkan susu ke anak kucing itu, justru malah memaksa anak kucing itu minum dengan menaruhkan kepalanya ke piring sedang berisi air susu. Kucoba, tetapi tetap dia mengeong dan tidak jadi meminumkan susu itu.

Aku putus asa.

Hari demi hari. Aku masih terbayang-bayang kelak akan anak kucing tersebut. Hari Jumat, aku bertanya kepada guru ngajiku. Katanya, selama kita memberi makan dan minum kepada makhluk tersebut, kita terlepas dari dosa. Ya, aku pernah memberi susu pada anak kucing itu, tapi caranya salah. Tapi tetap terhitung memberi susu.

Sabtu, aku mengikuti kemping selama dua hari. Dan jadinya malah rasa pahit mengikuti kemping menghapus ingatan sejenak tentang anak kucing itu.

Tibalah hari ini, hari Senin. Sore ini, aku disuruh mamaku mengambil cangkul. Dugaanku… ternyata. Anak kucing itu telah pergi. Pergi meninggalkan dunia ini. Padahal usianya baru seminggu lebih, sudah meninggalkan aku, meninggalkan ibunya, meninggalkan teman-teman seusianya.

Aku ambil cangkul itu, lalu kugali setinggi 25 cm. Usai kugali, aku ambil kain yang serupa untuk menutupinya layaknya kain kafan. Aku ambil singlet.

Begitu kudekati bangkai anak kucing itu, baunya terasa sangat menyengat sekali. Bau. Pekat.

Tapi, demi keselamatan bangkai anak kucing itu, aku rela kukuburkan walaupun aku tidak suka dengan baunya.

Maaf ya anak kucing. Karena kesalahanku menerima kamu dari Ayu, kamu akhirnya jadi seperti ini. Maafkan aku, anak kucing. 😥

Advertisements

One thought on “Dan akhirnya anak kucing itu pun mati

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s