Dilema dimarahin

Kalau aku salah, pasti aku dimarahin. Dan emang sudah sepantasnya kalau aku dimarahin karena aku berbuat salah.

Kalau aku dimarahi dengan sesama jenis kelamin sih masih bisa diantisipasi. Aku masih bisa nahan diri. Tapi gimana dengan perempuan? Ah, udah banyak kasus kalo aku lemah sama perempuan.

Seperti halnya aku dengan orangtuaku sendiri. Sering kali aku berbuat salah, lalu mamaku memarahi aku. Awalnya sih biasa saja, tapi lama kelamaan aku jadi nggak tahan dengan amarah yang dikeluarkan oleh ibuku sendiri.

Kemudian aku juga pernah mengalami kasus yang sama dengan kakak aku sendiri. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan dengan kakakku ke suatu tempat. Tiba di sana, aku bertemu dengan temanku. Karena saking pengen ketemuan, aku membiarkan kakakku di situ dan tidak memberi tahu ke mana aku akan pergi. Dan dia pun marah-marah setelah menemukan aku. Dioceh sana sini, dimarahin. Yah pokoknya dimarahin. Aku sebenarnya mencoba untuk tetap tenang, tapi tetap aja tidak bisa. Aku stres memikirkan kata kata amarah yang dihujat oleh kakakku sendiri. Aku pengen nangis, tapi rasanya nggak jantan kalau seorang laki-laki itu menangis hanya karena masalah sepele. Akhirnya, waktu itu, terpaksa kutahankan.

Kali ini pun aku merasa terpukul. Pada saat itu mood aku masih sangat riang gembira. Aku saat itu membuka komputerku. Kubuka situs tentang tulisan laporan gathering dua hari yang lalu. Kubaca, ada tulisan yang mengatakan bahwa temen sepermainan osu, yaitu Sagi, ikutan hadir dalam foto bersama. Aku lihat.

Selama ini aku pikir kalau Sagi itu orangnya yah standar, pernah suatu hari dipasangnya ava RL, tapi hanya setengah muka saja. Menurutku sih fotonya masih terkesan malu malu.

Yang sekarang ini fotonya kulihat, yah aku hanya tertawa tertatih-tatih aja. Menurutku Sagi itu ya biasa aja, dilihat dari penampilan. Tapi, ekspresi mukanya aja yang kelihatannya murung.

Aku langsung komentar soal fotonya. Kutulis dengan kata “ew”, tapi itu justru malah menyakitkan baginya. Aku memang belum komentar yang berbau negatif jauh lebih dalam, tapi kata “ew” yang berkonotasi buruk itu, membuat bahwa aku telah mengganggapnya buruk rupa, jelek, blablabla.

Sontak aku terkaget. Dibentaknya aku. Keluar kata yang biasa diucap oleh abang abang preman. Dimarahinya aku habis habisan. Aku pun merasa bersalah. Kata yang sering diucapkan dengan teman teman sekomunitas ISC pun pada akhirnya membuat dirinya membenciku.

Entah kenapa, dia itu merendah saat aku berkomentar tentang penampilannya. Setelah aku berkata demikian, dia menjadi semakin membenciku. Sudah kucoba menenangkan diri, bahkan aku mencoba untuk berpikir positif. Tapi, dia semakin membenci dan membenci, padahal aku sudah minta maaf sebelumnya.

Tiga hari kemudian dan dia masih menjauhiku………. Semoga dia tidak membenciku lagi 😥

Advertisements

2 thoughts on “Dilema dimarahin

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s