‘Yaudahlah, pasrah aja gak bakal dapet’

Hidup ini datar. Datar kalo gak ada sesuatu yang mendukung seseorang.

Lagi, PC dan laptop yang spek cukup tinggi sudah bisa menjadi udara buat bernapas di kehidupanku. Sudah terlalu lama aku tak bermain game-game yang biasa kumainkan dulu saat kelas 1 SMP. Saat itu aku masih bisa main, aku masih bisa semangat, aku masih bisa teriak konyol-konyolan dan teamwork saat itu juga masih tinggi.

Tapi ya apa di kata lah, masa kejayaan itu tak lama pun sirna.

Koneksi mulai perlahan nurun. Dulu masih bisa main dengan koneksi ping 3-4 bar. Sekarang cuman bisa main dengan 1-2 bar.

Dulu koneksi masih puncak-puncaknya, sampai 100KBps, sekarang cuman bisa mendownload sampai batas wajar 40KBps. Lebih parah lambat dari koneksi Eropa dan setara dengan koneksi di Amerika Latin kebanyakan.

Dulu masih bisa main tembus bajakan, sekarang musti original (dan akhirnya terbeli dua key untuk dua akun, tapi akun satu lagi kebanned gara-gara suatu alasan).

Komputer masih bisa dimainin, tapi tak lama kemudian akhirnya ngelag. Aku masih bisa main dengan wajar namun tak lama kemudian komputernya matot.

Tiap kali aku bermain, kerap kali setiap lima belas menit atau lebih, komputer tersebut mati. Aku kesal tak karuan.

Sekarang? Apa daya, komputer tersebut tak bisa digunakan. Setelah kubersihkan, saat memasang kembali heatsinknya, tiba-tiba sekrup pemasangnya rusak tak bisa dipasang di mainboard.

Dan akhirnya sejak saat itulah aku tak bermain itu lagi. Sudah berbulan-bulan saat itu, aku masih kerap menggunakan laptop dan setia.

Tapi, tetap saja, lambat laun aku juga tak nyaman menggunakan laptop. Aku bodoh karena gak pakai cooling fan, baterai laptopku menjadi soak karena saking asiknya hidupkan laptop sampai berjam-jam.

Entah karena terlalu cepat menutup layar, sekrup penahan layarnya patah dan rusak.

Karena sering kupakai sehingga panas, semut-semut banyak bertahan di situ dan bertempat tinggal di laptop.

Perlahan-lahan tombol keyboard tak bisa kupencet, dan terpaksa kucabut. Setelah dicabut, aku gak tahu cara memasangnya, dan berakhir dengan menekan keyboard tanpa tombol.

Begitu seterusnya, sampai laptop tak bisa hidup tanpa adaptor. Baterai yang dulunya masih bisa bertahan satu jam kini sudah tak bisa apa-apa lagi. Sudah dikerubungi dengan semut, sehingga tak terhubung lagi dengan benar. Kalau sekali saja adaptor mati, laptop pun ikut mati.

Adapun PC yang lainnya yang masih tetap kupertahankan tapi okelah, saat ini masih bisa digunakan. Masih bisa jadi ‘nafas cadangan’ buat ‘pernafasan kehidupan’ku.

Tapi yang kuharapkan emang sepertinya sia-sia. Percuma.

Udah banyaklah cukup bersabar untuk mendapatkan, dengan segala macam kukerjakan. Perintah juga sudah kulaksanakan. Walaupun dengan berat hati.

Aku tinggal menunggu waktu, memetik hasil. Tapi sepertinya bakal tidak terjadi apa-apa.

Apa yang kuinginkan adalah hanyalah sebuah PC atau laptop yang speknya cukup tinggi untuk bisa main. Itu nafasku.

Tapi, keinginan tersebut gak bakal bisa tercapai kalau tidak ada kesepakatan antara ketiga orang ini. Aku udah sepakat, tapi tinggal kedua orangtuaku ini. Kalau misalnya si ayah gak mau, tapi ibu mau, bisa jadi ibu membujuk ayah buat beli. Tapi yah kalo sebaliknya gak mungkin terjadi.

Hari ini aku down gara gara itu. Sore hari, saat masih puasa, ayah bertanya kepadaku tentang PC yang satu lagi. Kubilang bahwa PCnya tak bisa digunakan karena heatsinknya belum betul. Monitor juga rusak karena tombolnya masuk ke dalam. Salahku lagi. Salahku lagi. Iya, aku tau itu salahku, tapi sudah sewajarnya jika memang udah rusak. Ayah hanya nyalahin aja, lalu berharap pendek soal aku gak bakal dapet laptop baru, lalu pergi.

Soal heatsink memang bisa dibetulin, dan apalagi tombol monitornya itu. Memang wajar lah kalau tombol monitornya masuk, secara hukum alam jika dipencet berkali-kali pasti secara acak pasti akan masuk juga. Dikiranya aku gak pandai menjaga barang. Padahal, gak selalu semua barang itu awet. Masa musti nunggu 20 tahun dulu baru rusak, begitu? Begitu? Aku orang yang menghancurkan barang? Yang gak bisa merawat barang?

Iya aku jujur aja sih, gak ngerawat banget. Tapi, paling nggak selama kupakai, aku asumsikan kalau barang yang kupakai dijaga baik-baik. Aku mau benerin tombolnya, tapi kalau kubongkar sendiri, takutnya aku gak tau cara masangnya lagi. Kalau diservis, makan biaya lagi. Uang tabungan lagi ujung-ujungnya. Heatsink nggak masalah, Reza nawarin heatsink lamanya, tapi apakah mungkin bisa bertahan lama jika aku bermain PCnya kembali? Kurasa tidak.

Sejak dulu, entah kenapa aku selalu harus sering mendapatkan juara. Apakah juara itu seperti harga tebus untuk mendapatkan itu semua? Memang. Di SD aku jarang mendapatkan lima besar. Tapi pas kelas 5, aku mendapat PS2 hanya bermodal juara 8. Senang sih. Tapi, kenapa pas SMP aku tidak mendapatkan yang lebih tinggi sementara aku mendapatkan juara 1 dan 2? Teori begini sifatnya korelatif dan jadinya konspirasi.

Kalau sama ibu, aku masih bisa ditawar. Tapi, entah kenapa hari ini rasanya kurang sreg banget. Di pengajian malam hari ini aku terjaga dan mendengarkan semua apa yang dibilang ustadz, namun entah kenapa setelah itu pikiranku langsung buyar. Begitu kuditanya tentang ikhtisar pengajian, aku malah menjawab hal yang kurang enak. Aku gak tau, tapi karena masih negative thinking sama ayah, jadinya ngefek ke ibu. Ibu pun aware, gak setuju sama aku. Pikiranku berbalik jadi pasrah.

Ah, kurasa perjalananku terhadap ‘nafas kehidupan’ku masih terlalu jauh. Buat orangtuaku yang berlangganan blog aku, mungkin masih bisa baca tentang keluh kesahku ini. Aku gak pernah mendapatkan perhatian dari ayahku soal apapun ditulis di blog ini, tapi kalau ibuku pasti bakal baca.

Aku udah pasrah total soal ini. Aku gak berharap lebih dari ini lagi. Aku hanya bisa pasrah, pasrah, dan pasrah aja. Aku iri sama kalian teman-teman yang bisa dibelikan. Entah itu uang jajan yang terkumpul banyak atau dibelikan dari orangtua.

Seandainya jika tidak dibelikan sampai kuliah nanti, aku hanya bisa pasrah.

Mak, pak, udahlah. Aku gak mau pusing lagi soal ini. Aku pasrah saja.

Sekian.

Advertisements

3 thoughts on “‘Yaudahlah, pasrah aja gak bakal dapet’

  1. Setelah dipikir-pikir, aku sadar juga kalau pasrah gak ada guna. Memang mungkin aku kurang berpikir kalau mungkin kesempatan lain cerita. Aku gak boleh pasrah.

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s