Bangga punya supermom!

Mama, kira-kira begitulah sosok wanita yang telah melahirkanku. Mamaku yang telah melahirkanku, merawatku sejak kecil, membesarkanku menjadi anak yang baik. Semua itu dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Mamaku yang juga menjadi pondasi awal aku untuk berkembang dan tumbuh dewasa. Aku memang pantas menyebut mamaku seorang yang super, walau sebenarnya mamaku tidak memiliki kemampuan dan kekuatan khusus. Mamaku bukanlah sosok yang dibanggakan untuk semua orang. Paling tidak, dia sangat penting bagiku.

Mamaku selalu jadi orang penolong yang benar-benar membantuku dalam berbagai situasi yang tidak memungkinkan bagiku. Di kala sedih, mamaku mampu membuatku senang. Di kala susah, mamaku mampu membuatku menyelesaikan masalah. Di kala aku putus asa, mamaku memberikan semangat yang begitu berarti. Di kala aku malas, mamaku dengan gigih membantuku menjadi anak yang rajin, pintar, dan soleh.

Mamaku selalu mengajarkanku agar mandiri dan tidak terus bergantung kepada orangtua. Dulu mamaku hidup dari keluarga yang susah, di mana pada saat makan semua anggota keluarga harus berbagi jatah makanan yang dibagi sama  rata. Seekor ikan aja dimakan oleh satu keluarga yang kemudian dibagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Memang begitulah kenyataannya.

Namun, mamaku bisa mandiri. Mamaku belajar sendiri, tidak ada dibantu oleh orangtua mama. Mamaku melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, membersihkan rumah, tanpa disuruh-suruh. Aku sendiri terpekur mendengar itu. Aku cuma hanya bisa mendengar dan tidak bisa berkata apa-apa selain hanya mendengar dan mendengar cerita kisah mamaku sewaktu kecil.

Setelah tamat SMA, rencananya mama mau lanjut ke universitas, namun karena ada penawaran pekerjaan di sebuah perusahaan BUMN, mamaku langsung mencoba tanpa rasa takut. Walaupun harus meninggalkan kelanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mamaku sudah senang bisa lanjut bekerja. Mamaku bisa menafkahi keluarganya, dan dari nafkah tersebut mamaku ingin membuat anaknya menjadi sukses lebih dari mamanya.

Mamaku tidak ingin anaknya menjadi manja. Selama ini banyak anak yang kulihat, banyak pula yang dibelikan oleh orang tuanya karena semata-mata ingin menyenangi anaknya. Setiap kali teman-teman aku dibelikan barang yang bagus (misalnya komputer, laptop, mouse, keyboard), aku selalu iri. Malah aku sering teriak-teriak nggak jelas cuman karena iri. Padahal iri itu gak boleh ya. Tapi mamaku berbeda sama mama-mama mereka.

Mamaku berprinsip, jika seandainya aku berprestasi maka aku akan dibelikan apa yang aku mau, tentunya harus sebanding dengan prestasi yang kudapat. Aku, yang selama ini malas, tak mungkin dan mustahil bisa mendapatkan apa yang aku mau dengan mudah.

Entah kenapa, kalau aku sudah juara, juaranya musti berkali-kali untuk mendapatkan satu barang yang bagus. Biasanya anak-anak bakal dapet kalau udah juara sekali. Lha, ini juara musti berkali-kali untuk mendapatkan satu barang. Waduh….

Walaupun aku menabung (ya, mamaku juga menyuruhku menabung agar tak selalu merepotkan orangtua), bukan berarti aku juga bisa bebas beli apa saja. Aku juga dibatasi untuk membeli segala sesuatu. Mamaku mengajarkanku supaya tidak boros dan hemat, karena hemat adalah pangkal dari kaya. Pernah suatu kali aku minta dibelikan baju dari luar kota (pesan secara online), mamaku langsung sewot karena sudah saking banyaknya baju. Padahal beli baju di luar itu pun nggak terlalu sering. Tapi daripada beli di sini tapi gak sebagus di luar kota, mendingan lah.

Mengenai sosok penampilan mamaku, menurutku mamaku biasa-biasa saja. Nggak terlalu tinggi juga nggak terlalu pendek. Nggak terlalu cantik juga nggak terlalu jelek. Sedang-sedang saja. Namun dari sisi perilaku, wah disiplin bukan main. Mamaku selalu bangun tepat jam empat pagi, padahal tidur bisa di antara jam sembilan sampai jam sebelas. Ya tergantung sih. Selain itu, mamaku juga selalu pergi pagi, olahraga pagi (beda denganku yang malas olahraga hehe), dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya. Tak lupa mamaku sering mengingatkanku kalau aku selalu lupa dalam mengerjakan sesuatu. Seperti mengingatkanku tidur malam, solat, bahkan sampai mengingatkanku untuk isi pelumas oli sintetik Fastron di SPBU Pertamina terdekat.

Tapi, di mana mana yang namanya mama yang hebat itu pasti ada kelebihan dan ada kekurangannya. Yah walaupun sebenarnya ini aib tapi nggak apa apa lah buat pelajaran bagi yang lain. Mamaku itu orangnya ya awam di teknologi, jadi kalau baru tahu sesuatu yang baru di teknologi musti diajarin dulu baru ngerti. Terus mamaku juga lemah di bahasa asing, kalau nyebut istilah-istilah yang beredar di kalangan sekarang musti dibenerin dulu atau diajarin dulu baru ngerti. Terkadang itupun kalau sudah diulang-ulang tetap aja salah XD

Tapi tetep mamaku adalah mama yang terbaik buat hidup aku kok XD

Mamaaaaaaaa ❤

Oh iya, karena ada rules baru, maka (mungkin aja ini satu paragraf?) saya khususkan satu post ini untuk mengikuti kompetisi Fastron Blogging Challenge yang diselenggarakan oleh Fastron. Sila mengklik link di bawah ini jika tertarik ingin mengikuti seperti saya ini. Hadiahnya Mac Mini lho!

Advertisements

3 thoughts on “Bangga punya supermom!

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s