Main bareng (tapi ngaco) setelah bagi rapor

Kemarin saya mengajak teman saya Reza dan Bramasta untuk bermain di rumah saya. Sebelumnya saya sudah ajak Reza datang ke rumah, tapi Bramasta mau ikutan juga.

Tiba harinya, saya jadi malah merepotkan mereka. Maklumlah, pagi itu saya masih agak ngantuk dan tidur agak lama. Dua jam. Sempat saya tersentak kesal tidak menonton channel TV, katanya sih teman saya bakal nongol di TV bahas game. Di channel TV berita pula itu. Terus, orang tua saya pun agak lama mandinya (padahal saya udah mandi setengah jam sesudah itu, baru orang tua saya siap mandi). Terus saya musti mengambil rapor adik saya dulu bersama bapak saya. Agak lama, karena awalnya kami ke kelasnya dulu, tapi kata salah seorang teman adiknya bilang kalau mau ambil rapor musti di bawah. Saya tanya lagi siapa wali kelasnya, adik itu menjawab bu Susi. Wogh. Jadi inget banget masa jaman dulu, pas lagi demen ngapal lagu Islami di kelas sama bu Susi. Serasa dibawa ke era nostalgia deh. Eh, tiba-tiba Laga minta kirim salam ke seluruh guru di SD IKAL. Duh, jadi malu XD

Sekembalinya bapak saya mengambil duit di ATM, yang saya salami hanya bapak Fahrial aja X_X yang lainnya ngga ada. Dan memang kalau orang dewasa mengenal anak alumni yang tidak terlalu perhatian ke sekolah alumnusnya itu kok kenapaaa gitu ya, ga open ke saya. Serasa udah lupa padahal saya baru saja keluar dari sekolah itu tiga tahun yang lalu. Sungguh menyedihkan memang, dan saya juga orangnya terhitung malu. Jadi ya hanya satu. Dengan (sok) keren, saya hanya berpapasan dengan 2–3 teman saya yang saya kenal, dan sisanya tidak melihat, bahkan tidak menghiraukan saya (padahal dulunya teman satu angkatan). Oke, it’s fine. Keknya saya yang cuek bebek sama guru, hahahaha.

Saya sempat check-in selagi di air mancur. Dan juga ketika di SPBU. Reza udah pada gelisah menunggu saya saking saya lamanya datang. Bahkan sampai ditelepon dan di-sms berkali-kali. Dan, setelah saya mampir menjelang ke sekolah dan sedikit larian ke sekolah, akhirnya saya sampai juga. Untuk kedua kalinya saya meninggalkan bapak saya, setelah yang pertama kali tadi ditinggal bapak karena mengambil uang di ATM dan membayar uang sekolah. Saya pun agak kewalahan mengontaknya, karena bapak saya nggak bawa handphone pula 😦

Di atas, saya bertemu Reza, dan ke kelas saya sambil menitipkan helm saya. Saya sudah mencari ke mana-mana, tapi ga ketemu juga. Sampai akhirnya saya ditelepon sama bapak saya melalu handphone teman bapak saya. Bapak saya sampai membentak-bentak, bahkan memaki saya. Yah, abis saya juga melamun gak mencari lagi. Hanya duduk-duduk saja.

Baru setelah saya ketemu bapak saya di bawah di depan, tepatnya pada pintu tengah, bapak saya nyeletuk sambil memukul pundak saya, marah karena dicari ke mana-mana ga ketemu. Rupanya di atas 😆

Pada saat pembagian rapor, ketika saya lihat nilai saya. Wow. 1060 D: Saya ranking dua.

Reaksi bapak saya biasa saya. Lalu, bu Fatmi (wali kelas saya) pun berceloteh tentang saya, mengerjakan ujian pasti cepat dan langsung tidur. Saya malah bilang kalau saya nggak ada kerjaan apa-apa, ya jadi saya tidur aja. Setelah itu, saya tidak ikutan pulang bersama bapak saya, tapi pulang dengan Reza dan Bramasta. Rencananya kami mau ke Carrefour, cuma kata Reza mobilnya lagi dipakai. Jadi kami pulang naik becak. Namun, setelah dipikir-pikir uangnya kurang, dan Reza kepingin berhemat, maka kami semua setuju untuk naik angkot.

Sambil berjalan menuju tempat yang biasa saya panggil buat tumpangan angkot, Bramasta bilang, kalau saat kami berlari-lari kecil waktu di trotoar, saya dibilang ninggalin Bramasta dengan berlari kecil menuju tempat tunggu satu kilometer lagi. Saya hanya bisa diam dan kesal, sedangkan Bramasta dan Reza tertawa dengan hal itu. Eh, tau tau saya diketawai lagi karena berlari-lari kecil.

Sesampai kami di rumah, kami menuju ke atas kamar, dan meletakkan tas kami yang dirasa cukup berat. Saya langsung bermain osu! tanpa menghiraukan mereka, dan tentu saja, Bramasta dan Reza mengeluarkan laptop mereka masing-masing. Sebenarnya saya ingin mencoba bermain game yang ada di Steam milik saya di laptop Reza, karena ketidakmampuan bermain laptop saya yang, yah, sudah tahun 2005. Sudah hampir 7 tahun. Tapi Bramasta bawa juga, tapi saya tak berniat memakai laptopnya untuk bermain game Steam di situ. Takut jebol haha. Dan kami juga membawa laptop guru Bahasa Inggris kami, tapi tidak kami mainkan.

Belum sempat satu jam, si Reza malah minta minum. Saya terpaksa mengambil satu gelas di meja cermin dan satu ceret di bawah meja gosokan, lalu saya antar ke kamar. Eh, Reza sewot lagi minta minuman sirup, makanan, dan gelas lain. Sempat dibilang sama bapak saya, ajak teman saya makan kolang kaling. Namun saya justru melupakannya sampai pulang sorenya. Daaaaaaan, saya juga lupa menyadari, dari tadi di kamar sudah ada ceret air minum! Huuuuh, buat apa saya keluar cuma untuk ambil ceret kalau ceretnya udah ada di kamar?

Sambil menikmati laptop masing-masing, tibalah keributan. Saya ngambek, lagi asik main internet, eh dipakai buat download. Sama Bramasta. Download PES. Saya sempat ngamuk dan menyuruh si Bramasta untuk segera menghentikan downloadnya, eh tapi Reza malah mendownload Steam dan YM versi terbaru juga -_-. Alhasil, koneksi saya yang hanya 50KBps dipakai berebutan sama Reza dan Bramasta. Huuuuuuuuh.

Tiba siang, saya ajak mereka makan siang. Makanan hari ini tidaklah begitu spesial. Begitu selesai, kami kembali ke kamar dan melanjutkan permainan. Menyadari kalau Reza nggak bawa hard disk eksternal ataupun flash disk, saya berusaha mencoba mencari akal supaya bisa men-copy game Steam saya yang ada di laptop ke laptop Reza. Dan caranya adalah dengan menggunakan file-sharing satu jaringan. Saya agak kesulitan menyatukan kedua laptop ini dalam satu workgroup, apalagi mengganti nama workgroup di Windows 7. Terpaksa saya cari caranya di Google, dan ternyata begitu. Baru ingat saya, maklum jarang pakai Windows 7 jadi rada lupa.

Sambil men-copy, kami sholat bergantian. Saya dulu, kemudian Bramasta. Si Reza lagi terkena penyakit M alias Malas, jadi dia nggak solat bukannya kafir tapi Islam KTP. Saat Bramasta solat, Reza malah ganggu Bramasta lagi solat. Gak tau malu, malah tambah dosa. Hedeh hedeh. Sampai difoto segala. Kurang kerjaan banget.

Usai game Steam dicopy, saya mencobanya satu satu. Dan kurang dari setengahnya bisa berjalan, sisanya bisa update tapi gak bisa jalan. Jadinya malah main Jamestown bareng si Reza. Sambil main, kami lagi asik seru-serunya, diganggu sama nyanyian jelek Bramasta yang menyerupai lagu background game tersebut. Jadinya kami malah lebih sering kalah ketimbang menang.

Sampai dibikin postingan khusus kejadian kami lagi main dari Bramasta.

Dan, yang paling menyebalkan adalah, REZA NGAMUK MELULU GAK BISA DIPAKAI KEY DEAD ISLANDNYA. Anyway, saya kan mengadakan giveaway dua key Dead Island, terus niatnya saya mau kasih ke Reza. Eh nasib, dua-dua gak bisa kepake. Jadi, saya laporkan ke temen tempat saya mesan. Huuuh, jadinya giveaway ditunda sampai besok 😐

Semoga Reza dan Bramasta selamat sampai kampung tujuan! Sampai ketemu ‘tahun depan’!

Advertisements

5 thoughts on “Main bareng (tapi ngaco) setelah bagi rapor

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s