Hari Guru…

Sori saya udah agak lama tidak menulis, karena tidak punya hal untuk ditulis daaaan… kelihatannya saya kok agak ngeh kalo mau nulis 😀

Hari ini adalah hari guru. Ya, tentu saja hari ini hari guru. Lalu ada apa dengan hari guru? Nah kali ini saya mau cerita dulu..

Malam sebelum hari guru, feeling saya biasa aja. Seperti biasanya, saya biasa buka Twitter, Facebook, dan grup komunitas yang sedang saya emban sampai sekarang ini. Biasanya sih saya gak pernah belajar. 😆

Kemudian, teman saya Bramasta telepon, nanya apa besok bawa tas atau gak. Saya jawab nggak, tapi kemungkinan saya bawa, saya pikir begitu..

Esok paginya, saya justru malah menyiapkan laptop untuk dimainkan di sekolah. Rasanya hampa gitu kalo gak main sebentar aja.

Pergi seperti biasa. Tak terasa saya sudah berada di kelas, dan saya meletakkan tas berisi laptop lama tercinta di tempat duduk yang biasa saya duduki. Kemudian mengambil topi, memakainya, dan bersegera menuju ke bawah untuk mengikuti upacara.

Sampai di bawah, ternyata sudah sangat rame. Banyak siswa dari berbagai instansi sekolah di bawah satu yayasan, bergerombol di dalam satu lapangan. Terasa sangat sesak sekali. Saya mencoba masuk ke dalam barisan, eh ternyata saya disuruh ke depan :< Alangkah malasnya saya di depan barisan, seperti tiang listrik saja.

Tiba-tiba, di kanan saya sudah pada minta izin ke WC, mau pipis. Sentak saya tertawa. 😆

Dan akhirnya mereka terpaksa menahan pipis sampai selesai.

Nah, di upacara ini, terasa agak membosankan. Ya walaupun saya dengan khidmat mengikutinya, namun berdiri di antara barisan, apalagi di depan barisan, sangat memuakkan. Apalagi yang nyuruh itu bapak wakil kepala sekolah, sekali pun saya bantah tetap saja tidak bisa ditolak. Teman saya hanya bisa tertawa sendiri, melihat saya berada di depan. Sungguh MENYEDIHKAN.

Saat pembacaan amanat oleh pembina upacara, saya hitung berapa lama bapak itu berbicara (daripada tidak sama sekali melakukan apa apa). Bapak itu berbicara tentang ini dan itu. Saya sama sekali tidak menghiraukan, walaupun dalam kondisi siap tegap sedia di depan barisan, namun saya malah tidak fokus ke depan dan mendengar suara di belakang barisan saya. Saya terlalu bosan untuk mendengarnya. Bagaimana tidak, di telinga saya yang terdengar hanya suara ribut, ricuh, bisikan, bahkan teriakan dari arah belakang. Sampai selesai, saya akhirnya gak memperhatikan orasi bapak itu, hanya saja memikirkan ‘udah belom ya’, ‘udah sampe mana waktunya’. Sungguh menyedihkan.

Nah, ternyata orasi bapak itu cuma berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya. Tak lebih, tapi kurang dari itu. Tentu saja, setelah ini saya merasa sedikit lega (karena orasi bapak itu sudah selesai). Setelah itu, saya heran. Kok pada bubaran semua 😮

Oalah, rupanya udah pada kecapean semua murid yang ada di sekitar saya. Justru saya mencari kesempatan untuk naik ke kelas. Saya berusaha melewati kerumunan dengan diam-diam. Di lapangan dalam sekolah, eh tahu-tahu si Aimma nyamperin saya. Rupanya disuruh bantuin bawa dua dus berisi kalengan Pepsi. Ya udah deh, dengan berat hati saya bantu juga. Berat juga sih.

Sampai di kelas, saya taruh dusnya di atas meja. Pandangan saya langsung tertuju ke bangku saya, dan secara refleks saya menghampiri bangku saya. Saya duduk, lalu mengambil tas dan merogoh laptop. Saya buka laptop saya. Sudah lama saya mewanti-wanti untuk memainkan game kesukaan saya, sejak sebulan yang lalu saya aktif.

Eh tiba-tiba, guru dateng. Di suruh turun lagi. Bah. Saya kesal. Lalu, saya serang balik bapak itu dengan insiden “salah alamat” kemarin. Ya tetap aja, saya turun.

Di bawah, saya disuruh turun CUMA disuruh lihat pertunjukkan yang akan diadakan oleh SMP Harapan 2, instansi sekolah di mana saya sekolah. Sepintas saya masih nonton TV dengan handphone Nexian punya si Bayu, tapi semakin lama suara luar semakin keras, menutupi suara suara kecil yang ada di headphone yang saya pasang. Sampai akhirnya saya lihat pertunjukan yang ditampilkan oleh sekolah saya. Saya perhatikan.

Awalnya saya pikir tidak ada yang menarik. Sama seperti tahun lalu. Ada tarian, seperti itu juga. Namun yang membedakan hanyalah ‘sebuah perubahan kecil’ yaitu musikalisasi puisi dan… beberapa bagian dari itu yang menurut saya tidak jauh berbeda. Dengan dipadu oleh paduan suara dan alunan drum, membuat pertunjukkan tahun ini ‘agak sedikit’ berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah pertunjukan, baru bubar. Huh.

Saya bergegas menuju ke kelas. Dan saya kembali menghidupkan laptop saya yang sebelumnya berada dalam keadaan standby. Saya kembali bermain.

Satu–dua menit setelah laptop nyala, eh tiba-tiba meja saya ditarik gitu aja sama orang. Padahal lagi main, tapi saya nekad aja main terus. Ya marah lah saya. Ngambek, saya ambil tas saya, terus mojok di belakang. Saya tetap main pada saat itu. Tiba-tiba, si Diva dengan maksa ngusir saya keluar. Wah. Beneran ngambek saya sekarang.

Kemudian daripada itu, saya ke pos jaga di dekat tangga, dekat kantor kepala sekolah. Saya masih melanjutkan bermain game yang saya gemari. Baru pada beberapa saat kemudian barulah saya ke kelas 9A. Saya tetap saja melanjutkan bermain, tapi secara tak sadar ada teman yang menantang saya bermain dengan proyektor. Saya ogah waktu itu, tapi tetap saja teman saya memaksa. Akhirnya, saya tidak bisa mengelak lagi. Saya pasang kabel proyektor, saya tarik slide proyektor, saya hidupkan proyektor, dan saya pasang kabel video untuk menghubungkan laptop dengan proyektor. Setelah dilakukan, saya kembali bermain.

Eh, malah terdengar sahutan dari teman-teman lagi. Katanya, disuruh buka yang… ehem ehem. Tahulah, anak remaja sekarang demen yang buka begituan. Saya menolak. Sekali lagi teman saya memaksa. Saya tetap saja menolak. Baru akhirnya Fajar, mengajak menonton film. Diberikan HDD eksternal kepunyaannya kepada saya. Begitu saya colokkan, saya mencari file filmnya. Dia memilih menonton Transformer 3. Langsung saya putarkan saat itu juga.

Di awal-awal, pak Juprijal datang. Dia juga ikut menonton, seraya memberikan kotak KFC yang baru saja dipesan dari teman-teman yang ada di kelas 9A. Tak lama kemudian, eh ada pula adegan itu. Saya terpaksa skipkan adegan itu. Pak Juprijal kemudian nanya ke saya, apa saya sudah pernah nonton film ini sebelumnya. Saya jawab, tidak. Lalu pak Juprijal berpesan supaya yang adegan seperti itu lagi jika ada muncul agar diskip saja. Saya cuma mengangguk.

Berselang beberapa menit kemudian, suaranya ada yang janggal. Saya berusaha mencoba mengatasi masalahnya, namun tidak bisa. Begitu diganti sama laptop teman saya, saya diberi sebuah kotak makanan KFC. Langsung saya terima saja. Tapi, soal film yang diputar di laptop teman saya tidak berlangsung lama. Begitu diputar semua pada bubar. Yah kira kira beginilah situasi hari guru di sekolah saya pada saat itu =w=

Advertisements

One thought on “Hari Guru…

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s