Galau malu-malu #2

Dari kemarin, sampai sekarang, pikiranku terhadapnya masih saja terngiang-ngiang di kepalaku.

Aku bangun agak pagi, lalu tidur lagi. Lalu bersegera mengambil wudhu untuk melakukan ritual shalat. Setelah itu, aku kembali berkutat ke laptop. Mamaku paling sering marah kalau aku tiap kali bermain laptop.

Terpikir di benakku jika ada tiga acara: workshop; lomba foto; dan bantuin umi betulin komputernya. Kalau kupikir lagi, untuk saat ini membetulkan komputer umi terasa tidak bisa, karena aku ada waktu untuk mengaji, yang akhirnya tidak jadi karena tidak datang gurunya sampai malam. Lalu, soal lomba foto juga kuabaikan sampai sore nanti. Akhirnya aku lebih memilih untuk workshop.

Kuingatkan kembali si Reza supaya mengingatkan si Shahnaz untuk ikut. Aku pun demikian. Dengan aksi agak lambat, aku menuju ke sana. Mamaku yang sudah dari tadi marah mengingatkanku kembali jika ingin pergi musti bersiap sejak awal. Aku melepas janji itu.

Di Setia Budi, kami sama sama mencari di mana sekolah tersebut. Tapi akhirnya kami kembali berputar mengelilingi ringroad setelah sekian kali, aku dan mamaku bermasalah. Aku buta arah. Masalahnya, aku tidak terlalu memperhatikan di mana lokasi di Google Maps. Justru itu, di motor aku tidak bisa melihat gambar dari satelit dengan jelas, lagipula di jalan juga GPS tidak terlalu bekerja dengan sempurna.

Setelah tetek bengek segala macam, ternyata berada di Pasar I rupanya. Aku kemudian ditinggal, membawa sebagian kesalahan dalam pikiran, lalu menuju Sekolah Namira. Jaraknya 150 M.

Tiba di sana, aku bingung. Lalu salah seorang anggota taekwondo bertanya, “Ada apa bang? Mau cari apa?”

“Anu workshop yg share keliling masih ada gak kira kira?” “Nggak bang, itu cuma ada kemarin,”.

“Oh,” kataku pura pura tenang.

Ternyata, kukira comment bang Nich itu bohongan. Rupanya di sana workshop cuma hanya ada untuk kemarin. Sia sialah aku pergi ke sana, tapi kalo aku gak ke sana, mungkin aku gak bisa dapat bantuan untuk nilai keilmuan nanti, sama aku gak dapet bantuan dari sekolah.

Setelah mampir, aku kembali menuju tempat semula aku turun. Sontak, aku menyebrang, dan meng-SMS si Reza. Reza bilang kalo dia ada di KFC Petronas, maka jadilah aku ke sana. Naik becak.

Di sana, Reza bersama Shahnaz, sedang makan. Aku pun pengen ikutan makan. Lalu Reza memberiku uang lima belas ribu kepadaku. Kupakai untuk membeli O. R. Burger, dan sisanya kukembalikan sama Reza. Selama tiga jam, kami menghabiskan waktu di sana. Sampai jam setengah satu, aku masih tetap di KFC. Barulah di saat itu, aku mencari becak untuk sampai ke Sun Plaza. Kebetulan di sana kami pengen jalan-jalan.

Bermodalkan uang tujuh belas ribu rupiah, kami bertiga menuju ke arah Sun. Kaki aku terpaksa terbakar akibat tidak lihat ada knalpot yang bikin kebakar.

Sesampainya kami di sana, kami berusaha untuk jalan-jalan. Awalnya dari ke Red Mango, menuju toko kaset PC, lalu ke Gramedia, terakhir ditinggal. Beuh.

Dari sini terjadi perselisihan antara Reza sama Shahnaz. Reza seolah olah ingin mengambil hatinya, tapi dengan cara yang salah. Dibawanya laptop, hape dan kartu hapenya. Aduh, ini bukan jamannya berkelahi, jadinya aku dari tadi melerai mereka berdua.

Sampai pada akhirnya sore pun tiba, kami pun pulang. Shahnaz bersama papanya. Aku sempat meringis gara gara harga becak sedikit mahal, naik angkot, becak, lalu angkot, sampai akhirnya dijemput. Ngga tahu kenapa kok bisa begini, yang jelas aku pulang membawa pengalaman yang pahit dalam hidupku, seperti galau yang kualami ini.

Advertisements

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s