7 Hari Perjalanan Kat Jambori Pahang

Selasa, 12 April 2011

The best day of a trip is the first day. Tapi tidak selalu, bahkan tetap ada aja kesibukan pada hari ini. Bangun dari tempat tidur pada pukul lima pagi, saya bergegas mempersiapkan segala yang akan dibawa nantinya di jambore. Pas waktu genting seperti ini, sampai pekerjaan rumah saya belum siap sekalipun! Membuat brosur, menjilid hasil kerja kelompok, mengeprint hasil pencapaian kerja dari brosur, sampai mengejar deadline sampai ke sekolah, dengan sepeda! Eh, tapi ini beneran. Saya aja hampir ditabrak, dan juga hampir mendekati kematian. Tapi alhamdulillah tidak terjadi seperti itu. Cuma kecapean aja.

Setelah saya istirahat sebentar, menunggu mama saya, mandi dan makan, tibalah pukul sebelas. Saya mulai menaruh barang-barang saya di mobil. Sungguh mendebarkan, memang. Saya hanya bawa dua saja sih, satu tas ransel (atau kalian bisa sebut tas yang saya bawa sehari-hari di sekolah) dan satunya lagi koper yang agak kecil kelihatannya (dan juga kecil juga load capacitynya). Kita pergi berangkat pukul setengah duabelas dan sampai pada pukul duabelas.

Semua sudah mulai siap. Ada yang memberi saya paspor, memberi sign pada koper saya, mencheck saya pada absensi, dan begitu juga dengan lainnya. Tapi yang paling ngeselin hari ini tuh kalau setiap momen pasti ke toilet. Kebelet.

Ah, sudahlah kita potong dulu sekejap. Setelah urus ini-itu, paspor, keimigrasian, dan segala macam, kita terbang lah ke Lapangan Udara Subang yang sudah bekerjasama dengan SkyPark itu. Dan kebetulan saya bernasib tidak baik selama di burung besi itu, soalnya saya satu bangku dengan si abang kelas gendut yang arrogan. Saat makan cemilan pun juga salah pilih, pengen kacang eh dikasih pastel kerana telat, pengen sirup eh malah ambil jambu karena nggak tahu. Nyesal emang tapi ngeliat si Wendy sang pramugari jadi ngakak haha.

Kira kira memakan waktu 45 minit untuk sampai ke sana, soalnya tidak terlalu jauh. Setelah ini, kita tibalah di tempat Imigresen dan mengambil bagasi di Tuntutan Bagasi. Lalu keluar dari lorong ketibaan. Oh hampir sempat lupa, kita tidak mendarat di KLIA atau Kuala Lumpur International Airport tapi kerana kita di Subang maka kita mendarat di Lapangan Udara Sultan Abdul Aziz Shah yang tak jauh kalah feature at a glance nya tapi lebih kecil dibanding KLIA. Dan di saat ketibaan seperti ini, saya masih sempat-sempatnya pergi ke tandas.

Tak lama, kami mengepakkan seluruh barang kami ke bas cartar. Ditemani oleh Cik Afzal, kita dibawa ke Masjid Al-Amin (kalau tidak salah) yang berdekatan dengan kantor parlemen. Mesjidnya cukup besar, dan luas. Desain arsitekturnya cukup megah, bernuansa art deco dengan gaya Arab dan Melayu. Yang membuat menarik yaitu tempat tandas dan wudhunya ada di bawa, bisa lewat jalan pintas di bawah, ada tempat kasut, dan ada mesin minuman kaleng dari negeri yang baru saja tertimpa kemalangan 11 Maret lalu. Dan kami juga ke tempat perbelanjaan di KL untuk makan malam dan segala urusan di Malaysia seperti kartu telefon, dan juga hal hal tidak penting lainnya, seperti buku (hah?), headset, dll. Ngiler juga sih ngelihat teman membeli headset yang belum bisa saya beli, tapi saya menyesal karena sudah telat membeli (halaaah). Sebagai pelepas rasa iri, saya beli sepotong majalah PCGamer Malaysia yang semuanya berbahasa Inggeris itu.

Waktu menunjukkan pukul sebelas waktu setempat, dan kita tetap heading ke Kem Tengku Mahkota, Pahang, Jengka.  Agak lama, karena membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke sana. Sampai di sana, kita lihat-lihat dulu seperti apa dan bagaimana sih kem di sana. Tampak di sana kamilah yang paling cepat datang. Overview saya, tandasnya sudah cukup walaupun awalnya tidak memadai menurut saya, lalu sebuah gedung yang mumpuni, dan tanah yang cukup luas. Tak panjang berpikir, lalu saya memejamkan mata. Pada pukul satu malam.

Rabu, 13 April 2011

Kita tidak ada kegiatan dari para Pesuruhjaya Pengakap Malaysia, karena hari ini masih hari di mana seluruh anggota dan peserta dari setiap daerah untuk sampai kat sini. Yang pasti, hari ini sudah termasuk hari yang direncanakan, dan merupakan hari pertama dari event tersebut.  Maka daripada itu, kita juga mempersiapkan apa yang belum dipersiapkan pada malam itu.

Seperti membuat tali jemuran dari tali-temali, tenda ditegakkan, barang semua sudah kita taruh dengan benar, membuat tiang bendera, kaki tiga, membereskan dan menyapu sekitar tenda agar bersih dan rapi dilihat. Dan yang saya lupa pada hari ini, yaitu shalat! Aduh, saya lupa menunaikan shalat Shubuh saya, saking lupanya saya masih memikirkan hal lain dan tidak memikirkan shalat.

Pagi-pagi jam enam pagi, saya hanya mandi pagi di tandas dan lupa karena menunggu kelamaan. Lepas ini ada sarapan pagi, oh ya di sana, orang Melayu rata rata tidak memakai cabai murni, tapi pakai lada (atau merica), itu sebabnya mungkin ada beberapa orang yang tidak tahan makan pakai merica, tapi saya biasa aja, karena di sana, setiap kali saya ke tandas pasti saya mencret melulu.

Karena tidak ada kegiatan rasmi dari Pengakap, maka coffee break juga ditiadakan (?). Tetap makan seperti biasanya, sarapan pagi jam tujuh pagi, makan siang jam satu siang, makan malam jam tujuh malam. Saya masih sempat bergadang sekelak, melihat aksi Kak Yoe dengan tebakannya yang hampir semua anak Melayu tidak bisa menjawabnya melainkan kita sendiri, dan terakhir menikmati sisa malam dengan bermain UNO bersama teman.

Khamis, 14 April 2011

Merupakan hari kedua sejak tanggal tigabelas, di mana juga merupakan hari pertama kita beraktivitas. Hari Rabu juga sudah kita buat tiang bendera, dan maka dibuatlah apel pagi (upacara pembukaan).

Setelah apel pagi ini, maka akan ada aktifitas yang bisa diikuti, seperti kunjungan ke sekolah. Saya kebetulan minat ikut menikmati aktifitas ini. Nantinya setelah diikuti akan didapatkan stempel atau tanda tangan dari Pengakap.

Oke lah kita pergi ke sekolah. Kami bertolak menuju Universiti Teknologi Mara yang berdurasi 7 minit. Setelah di barisan, eh tau tau kita salah sekolah! Jadilah kita ke bas lagi, ke Sekolah Kebangsaan Desa Jaya yang memakan sekitar 8 menit. Sekolah ini memiliki beberapa bagian seperti Sekolah Rendah, Sekolah Menengah, dan Sekolah Menengah Kejuruan.

Setelah sampai di tengah lapangan, kami pun diajak melihat pentas seni yang dilakukan oleh anak anak Sekolah Rendah.

Setelah banyak melihat, eh tahu tahu kami ditinggal pergi sama yang lain, yang sudah berada di lantai atas di gedung sekolah. Kami menyusul mereka di galeri. Lalu kami ikuti, sampai lah pada acara makan makan hehehe. Coffee break lagi. Makannya juga dikasih mie hun dengan pastel. Sambil makan, kita ngobrol ngalor ngidul dengan orang Thailand yang bisa bercakap Melayu lah. Kita bahas soal pramuka, janda-duda, sampai uang pun kami tukar haha. Yang anehnya, mereka bilang “bolehlah nikah ni pakai dua ribu”. Hahahaha.

Lanjut ke gedung selanjutnya, ke library. Kemudian kita bertuju ke sekeliling gedung, sampai turun ke bawah semula. Di panggung juga nampil tuh Cik Shafee lagi berdendang. Saya terkagum-kagum. Lalu persembahan dari Thailand, suasana juga meriah. Dan satu lagi, dari kita mana? Lah gak mungkin kak Safri yang maju. Jadilah kita maju ke atas panggung. Menyanyikan sedikit lagu yang padahal masih banyak lagi lagu di atas panggung. Seperti rasanya dihipnotis akibat tidak terlalu banyak menyanyikan lagu.

Setelah ini, kami pun disuguhkan air minum, dan mengambil gambar dari tustel. Tak lupa mereka memberi cenderamata buat kami, iaitu dua buah buku tulis dari mereka. Kita kembali.

Sesampainya di Kem Tengku Mahkota, saya langsung makan siang, mengambil shalat yang akan dijamak. Lalu, sorenya kami mengambil tantangan Mat Kilau (Mat Kilau Challenge). Ini seperti halang rintang, di mana kita melewati hutan belantara (yang berlokasi dengan memutar) dan juga menghadapi tantangan yang ada. Misal seperti merangkak, turun dari atas dan berenang bebek, lalu kembali ke atas, menyanyikan lagu, tepuk-tepukan, dan lain sebagainya. Alhamdulillah semua bisa saya lewati semuanya dengan lancar.

Untuk saat ini, Activity Card (kad aktiviti) sudah ditandai dua kali. Visit dan Mat Kilau Challenge. Saya tak habis berpikir panjang karena esok hari kita diajak jalan jalan di luar rencana, iaitu ke Taman Nasional, hanya untuk melihat gajah dan mandi bersama gajah. Saya ketakutan karena takut tidak mendapat lencana yang akan dipasang di sebelah kiri atas baju pramuka saya. Ah, tapi sudahlah. Kita coba lagi besok. Malam ini saya menghabiskan banyak waktu bersama bermain UNO.

Jumaat, 15 April 2011

Hari di mana Shalat Jumaat kami lewatkan. Ya, kali ini kita akan pergi menuju Taman Nasional. Sebelum pergi, saya sudah siap untuk mandi, shalat, buang air, upacara/apel, dan persiapan sebelum pergi. Sebagai kompensasinya, saya melewati banyak aktivitas yang diperlukan untuk mendapatkan lencana.

Kali ini kita ke sana naik bas cartar, keluar dari kem menuju pintu keluar. Tak lupa kami sempat berfoto-foto dengan tustel kesayangan. Yang tak saya lupakan adalah momen di saat seseorang memberi saya botol air minum yang cukup besar, dan dia bilang “titip ya de”. Sampai pulang ke airport, saya diam saja hahaha.

Kira kira memakan sekitar tiga jam, kita sudah sampai ke Taman Nasional. Lalu ada tagihan lagi RM5 untuk melihat dokumentasi gajah dalam bentuk layar lebar dan indoor lookout. Lepas ni, kita nak lihat gajah besar. Lalu kami pun ditempeli sticker yang fungsinya sebagai santuari (buat kegiatan nak sama gajah dan mandi). Untuk menghabiskan waktu, kami mengelilingi taman dan mengunjungi fosil gajah yang sudah lama. Sebuah lelucon dari Kak Yoe yang masih saya ingat, iaitu saat dia pura pura sebagai pawang fosil, memberitahu kalau musti disumbang ke fosil tersebut. Hasilnya yah diambil dia semua hahaha.

Sempat balik ke tempat semula (gedung konservasi), kita diajak makan dengan makan yang sudah disediakan. Tampak lezat, dengan nasi, ayam, sirup, dan sedikit sayuran. Sedikit ngelucu, Kak Yoe nyebut kalau baru pertama kali deh kita minum sirup. Sialnya, saya nggak kedapatan colokan buat ngecas hape. Yang paling lucu sih, bang Adriansyah ngambil foto bule diam diam lalu gagal hahaha. Pertama sih lancar aja. Yang kedua, pas kena, bule tuh langsung kabur hahaha.

Setelah ini, kami balik lagi. Agak lama, beberapa gajah akan muncul dan menceburkan diri masing-masing di sungai yang tingginya ¾ dari tubuh mereka. Gak ngebayang deh kalo banyak banget bule yang ketagihan mengambil momen gajah itu semua. Saking lamanya, saya terpaksa deh mandi di tandas. Gak sempat lihat mereka bercebur diri bersama gajah, cuma demi mandi di kamar mandi. Yo wis ora opo.

Pulangnya, saya tidak mendapat stempel apapun, tapi yang jelas sudah sore. Malam suasana agak ramai. Soalnya kita ramai pakai batik. Juga ulos. Dan waktu memang terasa terlalu cepat berputar. Sudah saatnya untuk menemui hari esok.

Sabtu, 16 April 2011

Sudah terasa sampai pada hari keempat pada jadwal acara, kali ini kita harus kehilangan teman-teman kita yang ingin bertolak ke Thailand. Karena mereka juga ada merencanakan liburan untuk beberapa hari ke depan. Selamat jalan buat SMP Negeri 1, dan juga sebahagian Thailand yang akan bertolak ke negeri asal.

Ah, tapi tetap saja anak kak Safri dan anak Gubsu Pramuka Medan berulah. Pura pura pulang sama mereka, padahal kenyataannya mereka tidur di atas.

Kali ini, acara Jambori akan dibuka dan dirasmikan oleh Perdana Menteri Malaysia. Cukup lelah juga mengingat banyak berdiri. Lambat laun matahari keluar dari bayang-bayang pepohonan, juga tak diberi duduk, sehingga terasa terik dan panas saat matahari tiba. Sempat mengantuk mendengar datuk berbicara, terkadang kita bertepuk pengakap, bertepuk meriah, bahkan sambil berfoto ria.

Okelah kalau sudah selesai. Habis itu kita kembali lagi ke atas. Seperti yang kita ketahui, aktiviti tidaklah lagi tersedia, yang tersisa hanyalah paintball. Hanya itu pula. Eits, tapi kita masih ada malam budaya, dan saya mesti menari tari Sigale-gale yang katanya mirip gerakan tari totem yang sudah beribu tahun silam sampai berdebu itu.

Malamnya, saya latihan sekejap. Bersama yang lainnya, yang mempersembahkan patung Sigale-gale (yang itu merupakan saya!). Entah kenapa kok pakai saya, mungkin karena tidak sanggup membeli atau menyewa patung Sigale-gale, takut dibawa ke Malaysia dan akhirnya nantinya tidak jadi pergi cuma gara gara bermasalah karena tidak bisa membawa patung saking beratnya.

Usai latihan, ulos yang saya sandang tidak saya pakai, saya lepas kemudian. Lalu, saya diolesi banyak bedak oleh mereka, yang tidak lain dan tidak anda pikirkan, bukanlah bedak kosmetik mewah yang anda tahu. Tapi yang jelas, bedak bayi Zwitzal yang ditumpahkan ke seluruh muka saya. Berikutnya baris, lalu berangkat menunggu giliran.

Di sana pun, saya masih juga diolesi bedak berlumpur itu. Sempat saya berludah saking banyaknya bedak di muka, mengenai mulut. Juga sempat berdahak karena bedak masuk mengenai hidung. Selama saya bermuka putih (seram seseram sadako), banyak banget yang mau foto bareng sama saya. Kalau dipikir-pikir, melihat foto saya dengan wajah seperti itu seperti menakutkan. Semoga tidak ada roh halus yang ada mengelilingi saya hanya dengan berwajah seperti itu, amin. Mau coba nekat dekat hutan, takutnya ada yang nungguin saya pula di sana. Hiiiii…

Singkat cerita, tibalah saatnya persembahan malam budaya dari Indonesia. Dimulai dari semuanya yang berdiri maju ke panggung, menyanyikan lagu pramuka Indonesia. Lalu beberapa di antaranya turun. Saya pun diangkat ke atas oleh abang SMA tiga orang, mengangkat saya lalu menaruh saya di belakang panggung, kemudian dibawa ke tengah. Okelah saya bergerak, semua mempersembahkan saya memasukkan mejik ke dalam diri saya. Nah, ada satu momen yang tak bisa saya sebut nih, tapi demi menjaga aib orang, saya tidak bisa mengatakannya. Setelah diberi ulos untuk disandang, barulah saya bergerak. Bergerak, bergerak, dan bergerak. Bayangkan aja, orang mengira saya dikira patung betulan, padahal saya ada sedikit miss move. Terkenal sih terkenal, cuma saya tidak mau terkenal dengan menjadi patung!!!

Menyesal sih menyesal, tapi biarlah yang berlalu tetap berlalu. Waktu tak bisa dimundurkan kembali, juga memundurkan waktu melanggar kodrat.

Habis ni orang bilang horas, saya menghentikan tarian dan gerakan layaknya patung yang kehilangan magisnya. Lalu saya diangkat lagi oleh tiga orang abang SMA ke bawah. Setelah di bawah, saya ada dibilang sesuatu, katanya naik ke panggung lalu disuruh bilang… hmm.. saya lupa nak bilang apa. Lalu kembali ke bawah, dan memutar dari belakang.

Kak Sanadi memuji saya, katanya mirip banget sama patung. Kak Andi ngerocos, meragakan tarian Sigale-gale dari era ke era. 70-an, gaya asli. 80-an, gaya hip-hop/rap. 90-an, gaya Aserehe. Abad 21, gaya DJ. Alamak.

Setelah ini, saya kembali ke kem, dan merelakan waktu tidur saya demi begadang, mengingat malam ini adalah malam terakhir di kem.

Ahad, 17 April 2011

Hari ini adalah hari penutup, hari kelima, sekaligus hari penutupan Jambori selama di Kem Tengku Mahkota, yang katanya sudah dirasmikan sejak 1985 itu. Saya sudah lupa siapa nama datuk yang menutup acara penutupan, tapi yang jelas, dia baik sekali mempersilakan duduk kepada seluruh peserta Jambori.

Tak luput juga dari pandangan saya, beberapa tustel menangkap gambar yang ada di sekeliling daerah. Juga tepuk pengakap yang masih mengaung di telinga.

Cukup lama memang, tapi setelah abis penutupan, bakal ada yang mau foto sama kita. Tapi nggak seekstrim para pers yang ada di Indonesia ya. Biasa aja, kita datang, atau mereka datang. Gambar akan meluncur dengan sendirinya (eh, buat apa ngeluncur kalo kita udah pake kamera canggih?). Saya aja hampir kelupaan saking keasikan foto, tas pinggang saya hampir aja ketinggalan.

Inilah saat yang tepat untuk saling bertukar video.. eh maksud saya scout things lah. Mereka mau nukar apa aja, mulai dari scarf, oogle, barret, sampai baju! Buat yang cewek, tukar baju ya ngga lah. Gila. Tapi saya hampir semua ditukar, kecuali baju saya (yang pasti saya udah pakai baju dobel), celana saya (takut kesempitan sama yang pakai), selempang (takut kelebihan saya diambil), sama duit saya (lah buat apa?).

Kita sempat mengalami pengunduran waktu dikarenakan bas cartar yang katanya akan membawa kita pergi semua esok pagi. Kemungkinan besar sih kita tidak jadi jalan-jalan, shopping hanya sebentar. Namun ada bantuan dari Pengakap, tapi syaratnya hanya dengan foto bareng saja. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Kesempatan ini nggak kami sia siakan. Kami semua bergegas mempersiapkan seluruh barang kami sampai tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Saya langsung mengambil wudhu, shalat Zhuhur sama Ashar dijamak. Barang saya kemas, lalu saya taruh ke atas. Setelah semuanya siap, kita bawa seluruhnya ke bas. Koper seluruhnya ditaruh di bagasi, sedangkan tas dibawa ke dalam bas. Kak Syafri yang banyak bawaannya terpaksa di dalam bas mengingat tidak muat lagi di dalam bagasi.

Kemudi kali ini dibawa oleh Cik Dzulkifli. Kita bertolak ke KL agak lama, kira kira memakan waktu 6-7 jam. Pada hari petang, kita berhenti dulu, sambil melepas haus dan dahaga. Lalu, pergi meneruskan perjalanan.

Tibalah sampai di Choket. Pusat perbelanjaan super murah. Pas nih, karena bisa ngajak om saya di sini, kebetulan dia tinggal di sekitar situ lah. Kita sudah banyak beli, mulai dari kacamata, tas pinggang, gantungan kunci, miniatur menara Petronas, bahkan makanan sekalipun. Sembari saya berada di kasir, eh ketemu sama om. Cepat cepat saya salam, ketemu, bincang bincang. Eh, dikagetkan pula saya dengan uang! Dikasih RM100, lumayanlah. Eh ditambah lagi RM50. Pas ditanya lagi, saya jawab “Nggak usah lagi om, udah cukup kok”. Jadi malu rasanya. Perasaan malu sekaligus ragu bercampur.

“Ini dapet dari mana om uangnya?” tanya saya. “Rejeki pas bekerja di sini lah”.

Dan dia sudah pergi, katanya sih masih ada urusan lagi, jadi dia naik motor pergi ke tempat lain. Jarak kerjanya pun tak jauh juga. Di bas, Kak Syafri bilang “enak juga ya kau ada pamanmu di sini, tambah lah duitmu”. Saya hanya ketawa kecil kegirangan bercampur keraguan.

Kita lanjut ke KL. Rencananya sih ke KLCC, tapi terbagi atas dua regu. Satu regu naik monorail, dengan catatan musti membayar RM3 untuk dua kali perjalanan. Sebagian dari bas turun. Regu satu lagi, turun di Suria KLCC, tidak terlalu jauh di depan. Saya pilih yang kedua.

Oke kita turun di dekat situ, kita pun masuk KLCC. Tapi gak sempat membeli tiket untuk masuk ke menara Petronas, karena kita telat. Cuba aja kalau misalnya kita datang sejak jam delapan malam, bisalah kita ambil gambar kat sana.

Karena keterbatasan waktu, kita hanya sempat ber-foto-ria di dekat taman, di pojok. Sempat diberi amaran sih karena sudah ditutup pada masanya, karena untuk menghindari dari perilaku tak sudi. Jadi kami mengambil foto dari pinggir kolam. Sudah banyak yang mau ingin mengambil foto, sampai seorang ada yang kesal gara gara kameranya low battery karena keasikan dipakai berfoto.

Sesak. Oh tidak. Saya sesak, ingin buang air. Tiba-tiba Bu Sri nawarkan bantuan, katanya ada toilet. Sekalian lah saya pergi ke sana. Sempat saya terkekeh-kekeh, karena nama masjidnya sama dengan nama mesjid yang ada kat rumah.

Sesampai saya di toilet, barulah saya teringat. Barang saya hilang berjatuhan. Saya jadi kebingungan. Tibalah ingatan di mana saya ingat kertas, dan agenda Pramuka saya berhilangan di dekat kolam! Saya cepat cepat solat, lalu bergegas menuju tempat semula, hanya karena barang saya yang hilang. Usai sampai, sudah tidak ada lagi. Lenyap. Barang yang saya tinggalkan hilang diambil orang. Saya tidak tahu pasti siapa orangnya, yang jelas sudah tidak berjejak lagi. Sampai saya berada di bas, barulah saya tahu kalau adik kelas saya yang mengambil, lalu diberi sama seorang teman saya. Fiuh, syukurlah. Terimakasih ya Allah.

Perjalanan pun berlanjut, berjalan-jalan lagi. Tapi saya sudah tertidur pulas, sampai tidak ingat lagi bagaimana perjalanan berjalan-jalan lagi pada malam itu.

Isnin, 18 April 2011

Di sebuah pagi, sebuah tempat yang tak saya ingat dengan jelas. Saya terbangun, dan kebingungan mengapa semua orang sudah terbangun. Saya pikir sudah di Lapangan Udara, eh ternyata masih di restoran. Barulah saya tahu dan teringat, kalau kita siap-siap dulu! Saya nak ambil beg, lalu tinggal ambil handuk, barang buat mandi, dan baju batik yang saya tanggalkan di bas. Saya langsung ke kamar mandi, buang air, lepas tu saya mandi. Habis tu saya lekas ke surau, tuk shalat shubuh. Rupanya sudah jam enam lewat. Saya segerakanlah wudhu dan mengambil ancang-ancang tuk shalat.

Setelah membereskan barang ke bas kembali, kami semua sarapan pagi, dengan uang sendiri, dan pilih sendiri. Kebetulan saya tak asing dengan orang Indonesia yang bekerja di restoran itu. Saya pun jadi malu mengingat saya tidak makan dengan benar.

Kita meneruskan perjalanan dari restoran ke KL. Tapi tidak demikian.

Sang supir malah membawa kami semua ke Subang. KE SUBANG. Bukan apa-apa, alasannya berkembang dari reparasi bas ke ketakutannya akibat telat membawa kita semua ke lapangan terbang. Kak Syafri sempat marah sama dia. Dia bilang toko belum buka dan baru buka pada jam sepuluh, tapi Kak Syafri bilang, seperti pada perjanjian, kita sudah pergi ke KL supaya bisa berbelanja. Buka tak buka, yang penting kita senang. Hal ini memakan waktu satu setengah jam, dan hampir sempat reda tapi belum sepenuhnya. Pertengkaran ini membuahkan sesak pipis di diri saya. Ironis memang.

Karena tak sempat ke KL kembali, kita dibawa ke Subang Jaya, pusat perbelanjaan alternatif yang tak menyediakan banyak barang. Saya hanya sempat membeli jam, tapi lupa membeli dompet yang khusus buat penyimpan uang dollar itu katanya. Sambil menahan pipis, saya bertekad pipis di botol. Tapi niat itu saya urungkan deh.

Waktu menunjukkan pukul 12. Kita sudah sampai kat Lapangan Udara Sultan Abdul Aziz Shah. Saya ambil barang saya, saya letak tuh di depan pintu utama, lalu saya cepat-cepat ke tandas. Sudah tidak tahan lagi.

Semua orang sudah menaruh kopernya di X-Ray scanner, tinggal nunggu aja. Sambil nunggu, saya masih bisa membeli lolipop buat adik saya tercinta dan dua majalah untuk saya. Sempat saya SMS-kan ke orangtua untuk datang menjemput, tapi mama saya masih juga kebingungan, kapan lah berangkat, katanya.

Pengurusan paspor, dan hal lainnya juga masih sama seperti halnya kedatangan di Malaysia. Sayang, di ruang tunggu tidak ada surau, semestinya di luar. Terpaksa saya shalat di rumah, yang berakibat buruk karena saya tinggalkan dan hal buruk yang terjadi tapi tak bisa saya sebutkan.

Perjalanan juga sama, hanya membutuhkan kurang lebih 45 minit. Kocak deh, nama pramugarinya Tan Jing, kalau T dihilangkan jadinya apa? Hahaha.

Sampai di sana, juga masih ada pengurusan kartu kedatangan di loket Imigrasi, masih sama seperti keberangkatan waktu di Polonia, tanggal 12 lalu. Sambil menunggu koper, saya juga melawak yang terhenti pada amarah yang saya dapatkan sewaktu bersama abang SMA yang cukup gendut dan cukup garang yang ada codetnya. Sudah dapat kopernya, ada sedikit seremonial penutupan, dan ucapan terima kasih dari tanggungjawab Kak Syafri sebagai pembina selama di Malaysia nun jauh di sana. Acara ditutup dengan pengabsenan, pulang dengan rapi, dan ke rumah dengan mobil. What a nice trip.

*Sori deh kalau ada yang kurang ceritanya, karena kekalapan dari penulis. Penulis adalah pelajar dari SMP Harapan 2, seorang gamer dan pecinta lawakan khas Kak Yoe. Kalau kurang, sila share kembali, thanks 🙂 And also, share this note if necessary :p

Advertisements

2 thoughts on “7 Hari Perjalanan Kat Jambori Pahang

    1. Untuk jambore pada saat itu, cost yang dibutuhkan sekitar 2 juta per orang (termasuk $100 untuk jamboree fee dll), dan tidak menutup kemungkinan untuk lebih besar lagi (kebetulan ditutupi oleh dana yayasan).

Ingin berkomentar? Jangan segan-segan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s